Kemah Pramuka dan Hantu Kampung Cilukap (2)

“Ada laporan bahwa Wati sering kesurupan. Bisa diperkirakan 4 kali sehari,” kata Slamet ketua OSIS.

“Menurut temen-temennya setan yang merasuki si Wati ini nggak mau keluar-keluar. Padahal sudah panggil orang pintar sana sini,” jelas Surya menimpali ucapan Slamet.

“Bagaimana kalau kita jenguk saja,” kataku yang juga anggota OSIS.

“Boleh, Man,” kata teman-teman OSIS semua.

Pada akhirnya, kami memintai uang setiap kelas untuk kesembuhan Wati. Mengingat tadi, sekolah pun tidak peduli atau bahkan tidak bertanggung jawab.

Semua teman kelas Wati merasa prihatin dengan keadaan Wati sekarang yang sering kerasukan dan menjerit-jerit tanpa henti. Beruntung, uang lumayan terkumpul banyak. Teman-teman OSIS belanja buah-buahan, roti, dan sisa uangnya diberikan kepada keluarga Wati nantinya.

Di perjalanan aku selalu berpikir tentang nasib dia kedepannya, apakah bisa disembuhkan total atau tidak. Walau bagaimanapun aku adalah orang yang mencintainya secara sembunyi-sembunyi.

Jarak rumah Wati tidak memakan waktu yang lama hanya 25 menit. Kami dijamu oleh keluarganya dengan sangat baik. Slamet sebagai ketua OSIS mengobrol dengan bapaknya Wati, menanyakan kondisi Wati dan perkembangannya.

“Wati Alhamdulilah sudah mendingan. Itu anaknya,” kata ayahnya Wati.

Wati tersenyum simpul kepada teman-teman OSIS dan dia juga menyapaku dengan senyuman yang paling indah. Entah apa maksud senyumannya itu, aku tidak mampu menafsirkan sama sekali.

Tiba-tiba saat Wati selesai menyapa kami semua, ia kerasukan setan. Ketawanya kencang sekali membuat telinga tidak nyaman. Nampaknya, ini adalah setan berjenis perempuan.

“Hehehehe.. hayang kopi ‘pengin kopi’,” kata setannya.

Teman-teman OSIS dan keluarganya memegangi tangan Wati yang selalu berontak. Semua orang panik dan membaca apa saja yang bisa dilafalkan. Aku senang membaca ayat kursi, tapi sialnya setan ini hanya kepanasan, tetapi tidak juga keluar.

Usai membaca ayat kursi, aku juga melafalkan adzan beberapa kali sampai setan ini marah sekali.

“Si ie nyien aing panas. Awas dia ku aing di arah ‘kamu bikin saya panas. Awas kamu bakal aku cirikan’, cuiiiiih,” setan itu meludahiku dengan penuh kemenangan sambil ketawa. “Hehehehe..”

Satu Ustadz dikerahkan untuk menyembuhkan Wati. Namun sangat disayangkan, setan ini tidak mau keluar—walaupun dipancing dengan cara apapun. Sampai Ustadz tadi menyerah.

“Tubuh Wati ini kosong, jadi setan jenis apa saja bisa mengendalikannya. Keluar satu, bisa masuk sepuluh,” jelas Ustadz.

Kamu semua kebingungan cara menangani orang yang sedang kerasukan. Sudah hampir dua jam, Wati belum juga sadarkan diri, ia masih saja menjerit-jerit, dan tertawa tanpa arti.

Akhirnya, aku kepikiran untuk memanggil orang pintar di kampungku yang lumayan kesohor. Hanya 20 menit ke kampungku dan aku membawanya ke rumah keluarga Wati tadi.

Semua teman OSISku sudah pada pulang, dan aku membawa orang pintar ini sendirian. Astaga. Tapi tidak masalah.

Dengan sentuhan di beberapa titik, Wati dapat disembuhkan, tetapi orang pintar bawaanku mengatakan bahwa Wati belum sembuh total sehingga harus ada amalan yang dibaca setiap hari. Entah itu apa, yang jelas aku melihat Wati sangat kelelahan. Dan dia mengatakan bahwa badannya pada sakit semua. 8

Tamat

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==