Komunitas Dakwah Goes to School di SMK YP Fatahillah 1 Kramatwatu

Saya datang agak terlambat, acara sudah dimulai. Salahsatu siswa sedang dipinta oleh kepala sekolah dan tim personil Dakwah Go to School untuk meneriakkan yel-yel SMK YP Fatahillah 1 Kramatwatu. Dilanjutkan oleh salahsatu kru Dakwah Go to School yang juga memberikan yel-yel khas mereka yang apabila bertanya apakabar jawabnya “Alhamdulillah, luarbiasa, Allahuakbar, bersemangat. Ia memotivasi siswa untuk bersemangat dengan kata-kata berrima bagus seperti ini; terus bergerak walau harus merangkak, senantiasa bangkit meski terjepit, terus tumbuh meski pernah jatuh, dan kembali terbang meski pernah tumbang.

Siswa-siswi tampak tertib dan antusias mendengarkan pemaparan materi dari ketiga narasumber; Kang Dhea, Kang Dhani, dan Baba Feylian.

Kang Dhea selaku MC, begitu piawai mengkondisikan siswa. Untuk mengetes konsentrasi audiens, Kang Dhea meminta audiens untuk memerhatikan garis tangan masing-masing lalu menggoyang-goyangkannya lantas diminta mengikuti instruksi yang ia perintahkan. “Silakan goyang-goyang lihat garis tangannya, perhatikan konsentrasi, jika tidak, jangan salahkan saya jika ada anggota tubuh anda yang berpindah tempat. Ini serius meski saya bukan pesulap merah, Oke goyang-goyang lantas pegang dagu!” Sambil ia memegang kepala. Sebagian besar memegang kepala bukan dagu; mengikuti yang ia lakukan bukan yang diinstruksikan. Audiens pun riuh tertawa sambil bertepuk tangan menyadari kekonyolannya masing-masing.

Setelah audiens kembali kondusif, Kang Dhea memanggil Kang Dhani untuk mengisi materi selanjutnya.

Saya pun menghampiri Kang Dhea untuk tanya-tanya prihal kisah singkat terbentuknya komunitas Dakwah Go to School.

Saya memperkenalkan diri, bahwa disamping sebagai guru di SMK YP Fatahillah 1 Kramatwatu, juga nyambi sebagai wartawan online di www.golagongkreatif.com. Rupanya Kang Dhea pun tahu sedikit tentang Gol A Gong dan mengaku sebagai fansnya.

Menurut Kang Dhea terbentuknya komunitas Dakwah Go to School sekitar 2015. Berangkat dari kenyataan sosial dimasyarakat dimana yang datang ke majelis-majelis keagamaan umumnya masih didominasi orang-orang tua, komunitas ini berusaha jemput bola mendekati generasi milenial yang mungkin jauh dari sasaran dakwah. “Kami ingin anak-anak sekolah selaku generasi penerus mengenal siapa dirinya, mentauhidkan Allah, dan berbakti kepada kedua orangtua”. Ujarnya. “Kami pun berpakaian umum tidak menunjukkan khas agama, ada nyanyi juga, berusaha mendekati generasi milenial yang terpenting tidak keluar dari koridor yang disyariatkan…” Tambahnya.

Saat tengah asyik ngobrol memperkenalkan personil masing-masing, Kang Dhea selaku MC izin pamit dulu, kembali berlari ke lapangan karena Kang Dhani sudah turun panggung.

Acara selanjutnya diisi oleh Baba Felyian yang berusaha merekonstruksi pemahaman siswa-siswi mengenai buruknya akibat pacaran. Pemuda jebolan S2 di salahsatu universitas Islam Sudan ini juga memiliki suara merdu saat mengajak siswa-siswi bernyanyi bareng.

Nah, saat Baba Feylian mengisi materi, saya beralih mengajak ngobrol Kang Dhani yang baru saja turun panggung.

Seorang chef lulusan Akademi Pariwisata Sandhy Putra Telkom ini, mengaku memutuskan berhenti kerja setelah hampir 5 tahun bekerja mengurusi dapur di Bandung Internasional School yang notabene diisi oleh anak-anak kedutaan dari luar negeri yang mengharuskannya mampu memasak aneka jenis makanan. Berawal dari kepuasan batin saat berbagi makanan di acara PHBI, akhirnya sebagai chef ia berinisiatif mendirikan komunitas Dunrat @dunratduniaakhirat yang berfokus memberikan makan kepada para santri. Owner @bergerakofficial (usaha kuliner burger) dan @katsurupan (Ayam Katsu) mengaku bahagia dengan berkegiatan sosial.

“Di komunitas dunrat kami membagikan makan bukan dalam bentuk nasi box seperti yang sudah umum dilakukan, tapi langsung masak di lokasi pesantren…” Ujarnya. Dan Komunitas Dakwah Go to School berusaha memperluas dakwah mereka bukan hanya di lingkungan pesantren melainkan ke sekolah-sekolah dan kampus kampus. Mereka pun kini memiliki pesantren Markaz Khulafa’i Rosyiddin yang menggembleng anak-anak tidak mampu untuk belajar bahasa Arab dan hafalan Al Quran selama kurang lebih 2 tahun, hingga bisa kuliah ke Universitas Al Azhar Mesir full beasiswa dari uang pribadi mereka masing-masing. Sudah ada 3 orang yang mereka kuliahkan gratis dan ada 10 orang yang kini digembleng di pesantren tersebut.

Saat tengah ngobrol, ibu Asnawati salahsatu tenaga kependidikan memasuki ruangan tempat kami berbincang sambil menahan tangis. Rupanya di lapangan memasuki muhasabah yang dibawakan dengan khusyuk dan khidmat oleh Baba Feylian. Adik kelas Ustadz Abdul Somad ini, begitu piawai mengajak audiens mengenang jasa-jasa kedua orangtua mereka masing-masing hingga membuat sebagian besar guru-guru dan siswa larut dalam tangisan.

Terimakasih Kang Dhea, Kang Dhani, Baba Feylian, Kang Farid, Pak Tano, dan Kang Wahyu. Semoga komunitas Dakwah Go to School selalu diberi kelancaran dan keberkahan. Aamiin. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==