Oleh: Deni Friska Yulianti
(Dari 6 hingga 8 Januari 2025, di lantai dingin sebuah kelas, seorang anak kecil duduk sendiri, tak diizinkan belajar karena tunggakan biaya sekolah yang belum terbayar selama tiga bulan. Sang ibu berjuang menahan air mata saat menyaksikan anaknya dihukum tanpa belas kasi).
oOOo

Di sudut ruang kelas berlantai dingin,
Seorang anak kecil duduk termenung, sendirian.
Matanya yang kecil basah oleh air mata,
Menyaksikan dunia yang terasa begitu kejam.
Buku-buku berserakan di hadapannya,
Namun tangan kecil itu gemetar, tak berani menyentuhnya.
“Kamu tak layak di sini,” bisik waktu dengan dingin,
Karena tiga bulan tunggakan memadamkan haknya
Langit di luar sana menyaksikan,
Seakan turut menangis bersama hatinya yang pilu.
Ia memandang jendela, tempat cahaya masuk malu-malu,
Menggambarkan mimpi-mimpi yang kini terkubur debu.
Di luar kelas, seorang ibu berdiri,
Membawa beban yang lebih berat dari gunung.
Air matanya jatuh diam-diam,
Menyaksikan anaknya dihukum dunia yang tak kenal ampun.
“Bu, kenapa aku tak boleh belajar?”
Tanya si kecil dengan suara yang patah.
Ibunya menggigit bibir hingga berdarah,
Tak sanggup berkata, tak sanggup memeluknya.
Lantai dingin itu menjadi saksi,
Saksi bisu dari perjuangan dan derita.
Di atas debu yang menempel,
Ia mengukir mimpi dengan jari yang gemetar.
“A” untuk asa yang hampir hilang,
“B” untuk belajar yang begitu dirindukan.
“C” untuk cahaya yang tak pernah datang,
Namun ia bertahan, melawan takdir yang kejam.
Gurunya lewat, tanpa menoleh,
Memandang anak itu seperti bayangan kosong.
Namun di hatinya, anak kecil itu berteriak,
“Aku akan buktikan, aku bisa melawan dunia ini!”
Hari-hari berlalu dengan lambat,
Seperti waktu sengaja menyiksa.
Di lantai dingin itu, ia belajar bahwa sakit
Adalah guru terbaik untuk jiwa yang kuat.
Ibunya bekerja hingga tulang terasa retak,
Mengumpulkan rupiah demi rupiah dengan darah dan air mata.
Ia tahu anaknya pantas mendapat tempat,
Pantas berdiri, pantas meraih bintang.
Akhirnya, hari itu datang seperti fajar,
Biaya sekolah lunas, dan ia kembali ke meja.
Namun lantai dingin itu tetap ada di hatinya,
Sebagai pengingat bahwa ia pernah hampir tenggelam.
Kini, ia berdiri di depan kelas penuh senyuman,
Sebagai guru yang mengajarkan belas kasih.
Ia ingat rasa dingin di lantai itu,
Dan bersumpah, tak akan ada lagi anak yang merasakannya.
Lantai dingin itu telah mengajarkannya,
Bahwa pendidikan adalah hak setiap insan.
Ia menanamkan pelajaran dari luka kecilnya,
Bahwa mimpi tak pernah memilih siapa pemiliknya.
oOOo
Catatan kaki:
- https://www.kompas.com/sumatera-utara/read/2025/01/12/064600088/viral-siswa-sd-duduk-di-lantai-karena-belum-bayar-spp-ibunya?page=all


TENTANG PENULIS: Deni Friska Yulianti, lulusan cum laude S1 Sastra Universitas Negeri Padang, menjadikan dunia kepenulisan sebagai ruang ekspresi dan intelektualnya. Berpengalaman magang di KBRI Kuala Lumpur, OJK Padang, dan ZHM Premiere Hotel, ia juga aktif di ranah akademik sebagai presenter dalam International Conference serta pemenang lomba esai di Universitas Padjadjaran. Kepiawaiannya dalam menulis puisi esai membawanya masuk dalam 10 besar penulis terbaik muda dengan karyanya “Ketika Adab Terungkai dari Tangkainya”, sebuah refleksi tajam tentang nilai dan peradaban. Bagi Deni, menulis bukan sekadar keterampilan, melainkan bentuk perlawanan sunyi yang menghidupkan gagasan dan merawat ingatan.

PUISI ESAI GEN BARU: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank.



