Oleh: Muhzen Den
Setiap kali melihat tanah lapang yang luas, aku seolah-olah menjelma para bintang sepak bola dunia yang mahir mengolah bola. Apalagi jika lapangan itu jadi magnet orang-orang berkumpul sambil menikmati senja. Aku semakin bersemangat seperti ada para penggemar yang tengah menyaksikan
Imajinasi itu selalu mengawang-awang di kepalaku. Seperti harapan dan cita-cita yang membumbung tinggi. Karena permainan olahraga ini membuat adrenalinku merasa tersalur. Ibaratnya, mengekspresikan perilaku yang tertahan.

Aku menyukai hobi sepak bola sejak usia sekolah dasar. Tepatnya saat duduk di kelas dua-tiga. Hal ini bukan semata-mata lahir secara alami, tapi dari proses menyimak/meniru orang dewasa atau yang lebih tua. Selain itu, ada andil dari saudarku, Hari Baldan, yang saat itu getol membaca koran dan tabloid bola.
Saudaraku ini yang mencekoki literasi sepak bola dengan media massa cetak. Dulu, dia hampir akhir pekan langganan beli koran/tabloid bola. Aku hanya ikut nimbrung dan melihat gambar-gambar pemain sepak bola tersebut.

Karena itu, kecintaan dan kesukaanku memainkan bola sampai pernah mengikuti turnamen. Saat itu aku masih status pelajar SD, dan pernah jadi salah satu skuat tim sepak bola anak-anak di kampung. Mulai dari kelas antarkampung dengan memperebutkan trofi ayam maupun kambing, sampai dengan kelas kecamatan yang mempertemukan antarsekolah.
Bagiku, lapangan sepak bola adalah episentrum bagi masyarakat untuk berkumpul dan menikmati hari. Ruang terbuka hijau itu banyak manfaatnya jika digunakan sebagai fasilitas olahraga. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa saling berkumpul dengan sana. Apalagi jika ada kompetisi sepak bola antarsekolah ataupun antarkampung, lapangan sepak bola menjadi sentra ekonomi juga untuk masyarakat.
Sampai saat ini hobiku terhadap olahraga sepak bola tak pernah pudar. Pada usiaku sekarang, olahraga sepak bola menjadi pelarian dan hiburan di kala suntuk melanda. Menjadi kesenangan ketika menyaksikan tim-tim favorit berlaga dengan cara menonton lewat monitor. Bahkan, merasa merinding jika sudah berada di lapangan sepak bola.
Bukan hanya itu, lapangan sepak bola meluaskan pikiranku dalam mensyukuri nikmat Tuhan. Nostalgia masa kecil selalu berkelebat di memoriku. Saat melakukan aktivitas olahraga ini pun, aku tak mau kalah dengan anak yang lebih muda. Aku siap adu kemampuan dalam mengolah bola.
Lapangan sepak bola dan aktivitas sepak bola adalah jiwaku. Meskipun cita-cita menjadi pemain sepak bola hanya angan-angan. Tapi, hobi ini akan selalu kupupuk dengan beragam informasi tentang sepak bola. Tak apa tidak menjadi seperti Messi dan Cristiano Ronaldo. Toh, aku sudah puas menjadi penikmat sepak bola. Terima kasih.



