Mungkin karena sudah hampir sebulan ditayangkan, kursi penonton hanya terisi separuh. Kalau nonton komedi kan lebih seru rame-rame, biar ngakak bareng, ya kan? Eh, tapi ini film komedi apa horor? Tetap aja, nonton horor juga asyiknya rame-rame, biar jeritnya juga bareng. Tapi ada yg bilang, sediain tisu juga, ada adegan sedihnya. Nah, ini film komedi horor atau drama sih? Agak lain memang film satu ini.

Semuanya terjawab saat sudah menonton. Fix, ini adalah film komedi, eh, horor juga, tapi… dibalut drama-drama juga. Kita sebut saja kohorma, komedi horor drama 😁
Film yang mayoritas pemerannya adalah para komika ini bercerita tentang empat sekawan; Boris, Jegel, Bene, dan Oki dalam mengelola wahana rumah hantu di sebuah pasar malam. Di awal film penonton akan disuguhkan persoalan keuangan yang melilit keempat aktor utama. Kondisi ekonomi yang sulit itulah yang akhirnya membuat mereka berpikir agak lain sehingga hadirlah sebuah wahana rumah hantu yang akhirnya viral setelah salah seorang pengunjung kena serangan jantung. Lebih parahnya, pengunjung yang meninggal ini adalah seorang tokoh politik. Di sinilah kekacauan dimulai.

Sepanjang film, teater 4 yang hanya terisi separuh dipenuhi gelak tawa penonton, heboh, jangan-jangan di kursi-kursi kosong yang tidak ada penonton juga ada yang tertawa, eh… Bahkan si bungsu yang baru 9 tahun di samping saya, ngakak tanpa jeda, bahkan saat adegan horornya. Memang sebaiknya dilabeli komedi saja, ya? Anak-anak saja ngakak pas adegan horor.
Tapi tunggu dulu, bukannya film ini 13+? Sebelum memastikan akan menonton bersama anak-anak, saya memang sudah tanya sana sini sama yang sudah duluan nonton. Rata-rata menjawab ‘aman’, ya sudah, akhirnya si bungsu diajak.

Jika ada yang nanya, apa scene terkomedi, scene terhoror, dan scene terdrama dalam film Agak Laen?
Saya punya dua jawaban untuk scene terkomedi. Pertama saat Oki, Bene, dan Boris niup bareng-bareng ‘totong’nya Jegel biar dingin dan bisa kencing. Yang kedua di akhir film, saat Bene nanya sama Nomi, “kenapa kau gak jemput aku di penjara?”, dan dengan santainya Nomi menjawab, “cucianku banyak,” asli ngakak 😁😁
Adegan terhoror (sebenarnya gak ada yang terlalu horor sih) saat Rumah Hantu dikunjungi oleh dua orang setelah Pak Basuki meninggal. Yang takut bukan cuma penonton, bahkan Oki, Bene, Jegel, dan Boris yang memerankan hantu juga ketakutan saat mengira arwah Pak Basuki mau balas dendam.
Adegan terdrama jatuh pada scene saat ibunya Oki meninggal. Ia mendapat kabar ibunya meninggal ketika kuburan yang memang telah disiapkan untuk ibunya dipakai untuk menguburkan mayat Pak Basuki. Arti kesetiaan seorang sahabat juga mengharu biru di bagian ini, di mana Boris, Jegel, dan Bene yang tinggal menunggu hari pernikahannya, memilih untuk ditangkap polisi daripada harus meninggalkan Oki.

Tidak hanya adegan lucu, horor, dan drama, sindiran-sindiran politik juga terasa sangat kental di beberapa bagian. Tentu saja, itu juga membuat penonton terpingkal menyaksikannya.
Meski ada sedikit adegan yang terasa mengganggu, yakni kemunculan dua iklan yang terasa ‘maksa’ banget (tapi tetap kocak sih), fillm produksi Imajinari ini memang patut diacungi jempol. Apalagi nontonnya sembari ngemil popcorn khas XXI. Joss banget.

Judul Film: Agak Laen
Sutradara: Muhadkly Acho
Produser: Dipa Andika & Ernest Prakasa
Skenario: Muhadkly Acho
Pemeran: Bene Dion, Oki Rengga, Indra Jegel, Boris Bokir
Tanggal Rilis: 1 Februari 2024
Durasi: 119 menit
Bahasa: Indonesia

TENTANG PENULIS: Uda Agus, belajar menulis secara autodidak. Tulisan pertamanya dimuat majalah Annida (Juli, 2001). Buku perdananya, kumpulan cerpen Ngebet Nikah (DAR! Mizan, 2004). Tahun 2013 diundang sebagai emerging writer dalam Ubud Writers and Readers Festival. Sejak tahun 2011 konsisten menggelar Lomba Menulis Bersama Uda Agus (LMBUA) hingga saat ini. Berdomisili di Payakumbuh, mendirikan rumah baca, Pustaka Dua-2 (Rumah Baca dan Diskusi Sastra) dan mengelola situs www.pustaka22.com. Bisa dihubungi via email uda_agus27@yahoo.com atau di nomor 085274244342.

REDAKSI LAYAR BIOSKOP: Resensi film di Layar Bioskop, harus orisinal. Penonton harus terhubung langsung dengan filmnya. Hindari definisi-definisi, upayakan ada detail suasana bioskop dan penonton. Teknik menulis travel writing sangat ditunggu. Lengkapi dengan foto selfie dengan poster film, suasana lobby bioskop, dan tiket bioskopnya. Panjang 500 hingga 700 karakter. Honor Rp. 100 ribu. Terbit tiap Jum’at , 2 mingguan, bergiliran dengan resensi buku di Rak Buku.


