Layar Bioskop: How to Make Millions Before Grandma Dies, Drama Keluarga yang Sangat Menyentuh

Ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh anak-anak terhadap orang tua mereka, yaitu waktu, kebersamaan, kira-kira begitulah pesan mendalam yang disampaikan oleh Mui (diperankan oleh Tontawan Tantivejakul) kepada ke M (diperankan oleh Putthipong Assaratanakul) saat mereka bertemu di rumah Mui yang baru, rumah senilai 10 juta baht yang diwariskan oleh sang kakek kepada Mui karena telah merawatnya di hari-hari tuanya.

Terinpsirasi dari cara Mui mendapatkan uang dengan ‘mudah’, akhirnya M pun memutuskan merawat Amah (neneknya) yang menderita kanker stadium empat.

Bangun di pagi buta untuk membantu Amah berjualan congee (jajanan khas Thailand), menemani Amah kemoterapi ke rumah sakit serta mengurus keperluan Amah sehari-hari harus dilakoni M untuk menjalankan misinya demi mendapatkan warisan dari sang nenek.

Awalnya saya sama sekali tidak ada niat buat nonton How to Make Millions Before Grandma Dies, tapi beberapa status teman-teman di media sosial yang membahas film ini sungguh sangat ‘mengganggu’. Katanya ini film Thailand terlaris di Indonesia. Ada yang katanya gak pernah nangis, malah sesenggukan nonton film ini. Ada lagi yang kasih rate 100/10 untuk film ini. Se-amazing itu kah? Makanya saya jadi penasaran.

Setelah lihat beberapa reviu yang ditulis teman-teman, lihat video-video penonton pada mewek usai menyaksikan film, maka rasa penasaran itu semakin mendalam.

Saya gali lagi info tentang How to Make Millions Before Grandma Dies. Konon, di hari ke-17 penayangannya, jumlah penonton sudah menembus lebih dari 2,5 juta penonton. Wow… itu jelas angka yang fantastis. Jika dirata-ratakan, itu artinya dalam sehari, jumlah penonton film ini mencapai angka 150.000.

Fix, akhirnya di hari ke-18 penayangan, tepatnya tanggal 1 Juni 2024, kami sekeluarga memutuskan menonton film ini.

Sekitar jam 07.00 WIB kami berangkat dari rumah. Kenapa secepat itu? Di Payakumbuh memang belum ada XXI. Untuk menonton, kami harus ke ibu kota provinsi, Padang, yang berjarak sekitar 120 km dari Kota Payakumbuh.

Kami sampai di Kota Padang sekitar pukul 11.00 WIB, langsung menuju lantai 4 Plaza Andalas, tempat kami nanti akan menonton. Setelah memesan tiket untuk jam pertama penayangan pukul 13.35 WIB, kami berkeliling-keliling plaza dulu, mencari lokasi buat makan siang.

Singkat cerita, pukul 13.30 WIB kami sudah duduk manis di bangku penonton yang terisi penuh, mulai dari anak-anak hingga lansia yang pergi dengan cucunya.

How to Make Millions Before Grandma Dies bukanlah film dengan tema yang berat. Hal-hal yang ditampilkan oleh Pat Boonnitipat selaku sutradara film ini adalah hal-hal yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Film ini sangat sederhana sekali, tapi justru kesederhanaan itulah yang menjadikan film ini menjadi luar biasa.

How to Make Millions Before Grandma Dies adalah film dengan pesan yang disampaikan secara gamblang. Interaksi dan dialog-dialog Amah (diperankan oleh Usha Seamkhum) dengan ketiga anak dan dua orang cucunya tak pelak lagi akan menyentuh nurani para penonton serta mengaduk-aduk emosi karena apa yang sedang mereka tampilkan adalah apa yang kita perankan sehari-sehari. Tentang kesibukan-kesibukan demi mengejar dunia yang tidak memberikan ruang lagi untuk membersamai orang tua di usia senjanya. Film ini bukanlah kisah nyata, tetapi yang terjadi di dalam film adalah hal-hal yang terjadi di dunia nyata; sebelum terlambat, kembalilah kepada orang tua, dampingi dan bersamai mereka menikmati hari tuanya.

Dua jempol tentunya sangat patut kita acungkan buat Usha Seamkhum dalam usahanya memerankan tokoh Amah. Mengapa? How to Make Millions Before Grandma Dies adalah debut akting nenek berusia 78 tahun ini. Dan debutnya di usia yang sudah sangat senja itu telah membuat film ini mendapatkan penghargaan sebagai Most Trending on Social 2024 dari Kazz Award 2024.

Lalu, apakah M berhasil menyelesaikan misinya? Kepada siapakah akhirnya Amah menyerahkan warisannya? Mumpung layarnya belum diturunkan, yuk, segera cari jawabannya di bioskop terdekat.[*]

TENTANG PENULIS: Uda Agus, belajar menulis secara autodidak. Tulisan pertamanya dimuat majalah Annida (Juli, 2001). Buku perdananya, kumpulan cerpen Ngebet Nikah (DAR! Mizan, 2004). Tahun 2013 diundang sebagai emerging writer dalam Ubud Writers and Readers Festival. Sejak tahun 2011 konsisten menggelar Lomba Menulis Bersama Uda Agus (LMBUA) hingga saat ini. Berdomisili di Payakumbuh, mendirikan rumah baca, Pustaka Dua-2 (Rumah Baca dan Diskusi Sastra) dan mengelola situs www.pustaka22.com. Bisa dihubungi via email uda_agus27@yahoo.com atau di nomor 085274244342.

LAYAR BIOSKOP: Resensi film di Layar Bioskop, harus orisinal. Terbit 2 mingguan, setiap Jum’at, gantian dengan CERPEN ANAK. Penonton harus terhubung langsung dengan filmnya. Hindari definisi-definisi, upayakan ada detail suasana bioskop dan penonton. Teknik menulis travel writing sangat ditunggu. Lengkapi dengan foto selfie dengan poster film, suasana lobby bioskop, dan tiket bioskopnya. Panjang 500 hingga 700 karakter. Honor Rp. 100 ribu dari Honda Banten. Terbit tiap Jum’at. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dengan subjek Layar Bioskop.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==