Nah dalam situasi ini River merasa bersalah dan menganggap bahwa dirinyalah penyebab istinya meninggal, sehingga ia depresi dan mengasingkan diri ke New York.

Di New York lalu bertemulah ia dengan Raia yang diperankan oleh Putri Marino, Raia ini juga ke New York dalam rangka menenangkan diri sebab ia juga menghadapi masalah perceraian dengan suaminya Alam yang diperankan Arifin Putra. Suaminya ketahuan selingkuh di malam yang seharusnya menjadi malam bahagia untuk Raia sebab novelnya diangkat menjadi film.
Raia dalam ceritanya adalah merupakan seorang penulis yang cukup terkenal, namun setelah kasus perceraiannya ia tidak lagi mampu menulis. Sampai akhirnya bertemu dengan River, dan semangatnya menulis pun kembali.

Nah dari sini dapat kita menarik kesimpulan bahwa kedua tokoh utama ini memiliki luka lama atau trauma yang sangat sulit disembuhkan. Terutama River yang sangat merasa bersalah atas meninggal istrinya. Bertemu di sebuah pesta Raia terlihat tertarik dengan River yang bawaannya cool.
Setelah kenal mereka pun cepat akrab, sebab River yang sebagai seorang arsitek mampu membangkitkan inspirasi Raia yang seorang penulis, River lah yang mampu menjelaskan pada Raia bahwa gedung-gedung dan bangunan itu memiliki kisah dan dapat bercerita. Meski begitu trauma yang melekat pada River masih sangat melekat itu bias tercermin dari kata-kata nya “Ruangan kosong tidak selalu harus diisi, sebab bias merusak kenangan yang lama.”

Yah, singkat cerita kedua orang ini takutlah untuk memulai hidup baru. Sampai orang-orang di sekitar seperti sahabat-sahabatnya memberikan kesadaran buat mereka.
Saya sebagai orang yang juga suka dengan filsafat, dalam film ini juga mencium bau-bau cinta platonic. Cinta adalah anugrah yang semestinya tidak perlu kita takuti. Mungkin memang susah untuk menutup kenangan lama dengan yang baru, tapi kita bisa membuat ruangan yang berbeda bagi keduanya, sehingga kita tidak perlu susah payah menghapus kenangan lama, sebaliknya kita bisa menjadikannya sebagai pelajaran agar kita lebih menghargai yang baru.

Dalam film ini juga saya menangkap pikiran Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving (Seni Mencintai), sebab saya juga pernah menulis Novel Filosofi Cinta, yang juga terinspirasi dari pikiran beliau, bahwa dalam mencintai cinta satu orang itu sudah cukup untuk dua orang. Cinta itu menyenangkan, tapi akan lebih menyenangkan jiga berbalas, jika tidak terbalas pun setidaknya kita sudah mendapat satu pelajaran yaitu keberanian.
Yah, mungkin sampai di sini bahasan saya tentang film ini. Yang penasaran harus nonton, terutama seperti penjelasan di awal, bahwa film ini cocok untuk orang yang ingin memulai hidup baru. Selamat menonton. (*)
TENTANG PENULIS: Pandya RS adalah salah satu penulis dan pemikir yang ada di Pontianak Kalimantan Barat. Ia sudah menulis enam buku, dua novel solo, dan empat antologi. selain itu ia juga pernah berkarir sebagai jurnalis di surat kabar Pontianak Post. Pandya bisa dikontak melalui FB, IG, TwItter: Pandya RS
WA: 089693602369

REDAKSI LAYAR BIOSKOP: Resensi film di Layar Bioskop, harus orisinal. Penonton harus terhubung langsung dengan filmnya. Hindari definisi-definisi, upayakan ada detail suasana bioskop dan penonton. Teknik menulis travel writing sangat ditunggu. Lengkapi dengan foto selfie dengan poster film, suasana lobby bioskop, dan tiket bioskopnya. Panjang 500 hingga 700 karakter. Honor Rp. 100 ribu dari Honda Banten. Terbit tiap Jum’at. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dengan subjek Layar Bioskop.


