Lingkar Rasa: Menari, Merasa, dan Menyembuhkan Diri

Oleh: Natasha Harris

Aku gak pernah kepikiran bakal ikut kegiatan seperti ini sebelumnya. Tapi aku bersyukur banget bisa ikut. Semuanya berawal dari tetehku yang ngajak aku untuk ikut kegiatan Lingkar Rasa vol.2 dari komunitas Semai Rasa.

Awalnya aku gak mau, karena buatku kegiatannya terlalu banyak bersosialisasi dengan orang baru. Tapi setelah iseng stalking Instagramnya, aku baca-baca bahwa kegiatan ini adalah ruang aman perempuan buat mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Aku tiba-tiba jadi tertarik, lalu memutuskan buat coba ikut.

Lingkar Rasa vol.2 diadakan di Mendjamu, sebuah kafe di bandung yang dalamnya ada halaman rumput cukup luas. Tempatnya emang cocok sih buat kegiatan healing seperti ini. Begitu sampai, aku langsung disambut suasana hangat. Ada tetehku, dan perempuan-perempuan lain yang kelihatannya datang dengan tujuan yang sama.

Kegiatan hari itu dimulai dengan sesi perkenalan. Kami melingkar, lalu satu per satu memperkenalkan diri sambil memegang mic. Waktu mendengar instruksinya, aku langsung takut banget. Ada banyak kekhawatiran di kepala saat menunggu giliranku.

Tapi ketakutan itu perlahan hilang saat aku mendengar peserta lain memperkenalkan diri. Tapi ketika tiba giliranku, aku tetap berbicara dengan gemetar, tapi juga ternyata gak ada satupun yang menertawakanku. Yang kulihat cuma senyum penuh kehangatan.

Kegiatan ini berlangsung tahun lalu tanggal 8 Juni, tapi rasanya semua momen di dalam lingkaran itu masih terasa dekat sampai sekarang. Kami diajak menari, menggoyangkan tubuh dengan bebas, mengikuti irama, dan melepaskan emosi yang mungkin selama ini tersimpan rapat di dalam diri.

Di sela-sela gerakan, ada senyum, ada haru, dan keheningan yang justru rasanya menyembuhkan. Mungkin ini ya, yang dimaksud “The Dance of Transformation”, proses penyembuhan melalui tari.

Aku jadi percaya, ruang seperti ini penting dan dibutuhkan untuk seorang perempuan. Kadang kita gak selalu bisa cerita tentang apa yang kita rasain, bahkan ke orang terdekat sekalipun.

Tapi lewat gerakan, kita bisa bicara. Lingkar Rasa ngajarin aku kalau healing gak harus selalu tentang memecahkan masalah, tapi cukup dengan membiarkan tubuh kita mengalirkan dan merasakan apa yang selama ini terpendam.

Jujur aku datang ke sana tanpa ekspektasi apapun, tapi ternyata aku pulang dengan hati yang lebih ringan. Mungkin emang gak semua emosi lepas dalam pertemuan kemarin, tapi setidaknya aku udah mulai membuka pintu buat lebih mengenal diriku sendiri.

*) Bandung, 2 Maret 2025
*) Natasha Harris, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Korea, UPI Bandung dan Relawan Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==