Itulah persahabatan, saya kira. Tak seperti dalam politik, ia bergerak dan bekerja bukan atas dasar kepentingan, melainkan ketulusan hati dan kesucian jiwa. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga, kesedihanmu adalah kesedihanku juga. Yang tertusuk padamu, berdarah padaku, kata Sutardji begitu.

Pada film yang rilis 2016 itu kita bisa melihat Kousei Arima (dimainkan Kento Yamazaki) yang tak bisa bermain piano lagi karena sebuah trauma di masa kecil yang disebabkan oleh pola latihan yang sangat keras, yang menuntut permainan sempurna, dari almarhumah ibunya, padahal sejak umur lima tahun ia sudah menampilkan bakatnya pada permainan alat musik yang ditekan itu. Beruntung, ia selalu dibantu—walau agak sedikit dipaksa— oleh temannya, Tsubaki Sawabe (Anna Ishii), agar ia kembali ke jalan piano.

Kousei dan Kaori (Suzu Hirose)—sang pemain biola berbakat yang kebetulan satu sekolah dengan mereka—akhirnya bisa bertemu dan akrab lewat Ryota Watari (Taishi Nakagawa) yang tengah “mengincar” Kaori. Kaori yang sudah tahu track record Kousei mengajaknya untuk mengiringi permainan biolanya dalam kompetisi. Awalnya Kousei menolak, tapi karena Kaori terus ngotot, lama kelamaan Kousei mau bermain piano lagi dan perlahan-lahan bisa mengatasi trauma masa kecilnya.
Begitulah makna teman yang ditampilkan film yang diadaptasi dari anime dengan judul yang sama itu. Teman selalu mengajak pada kebaikan. Jika ia mengajak pada keburukan, itu bukan teman namanya, melainkan setan.



