Suasana sabtu sore di sekitar Menara Limboto tidak terlalu padat, lalu lintas di bawah menara terlihat lancar walaupun beberapa bentor terparkir di tepi jalan. Begitu juga di taman, hanya ada beberapa orang yang sedang duduk santai menikmati sore dengan pemandangan menara.
Kami memanfaatkan suasana yang belum terlalu ramai dengan berfoto di belakang Menara Limboto, dan berkeliling di Taman Budaya Limboto.
“Ayo kita naik ke atas menara,” kata Tama, teman pertukaran dari Lubuklinggau, Sumatra Selatan.

“Ayooo” semua berseru ingin naik ke menara dengan tinggi 60 meter itu. Tapi, adzan Magrib berseru dari pengeras suara Masjid Baiturrahman, kami beranjak ke masjid untuk menunaikan sholat magrib baru kemudian naik ke atas menara.
Setelah selesai sholat dan keluar dari Masjid. Ternyata menara limboto sudah menjelma menjadi landmark yang megah dan indah.
Lampu hias yang menyinari setiap sudut menara memanjakan siapa saja yang melihatnya. Kelap-kelip lampu warna-warni berganti dan membuat menara semakin cantik dan membuat suasana menjadi romantis.

Tidak menunggu lama, aku dan teman-teman bergegas mencari tangga untuk naik ke atas menara yang memiliki 5 lantai itu. Untuk naik ke atas, kami membayar Rp10.000 per orang. Harga yang murah untuk pengalaman yang tak akan terlupakan.
Satu per satu anak tangga kami lewati, di lantai pertama, terdapat ruang pertemuan seperti aula yang dapat menampung sebanyak 200 orang. Begitu juga di lantai ke dua, bisa di pakai untuk pertemuan.
Di lantai ketiga, kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan malam di sekitaran Limboto. Menurutku, lantai tiga ini adalah lantai yang ideal untuk melihat city view sambil bersantai.


