Pertemuan pertama saya dengan Mas Wendo saat masih di SMAN (1981). Saya masih berseragam abu-abu di SMAN 1 Serang. Saya takjub melihat sosok yang saya kagumi karya-karyanya; Mengarang Itu Gampang, Opera Jakarta, Opera Bulutangkis, Imung, saat itu melayani saya yang datang dari kampung dan bukan siapa-siapa. Saya takjub dengan kerendahhatiannya. Saya takjub melihat mejanya yang “berantakan”. Saya takjub dengan caranya “mengajari” saya menulis puisi. Kemudian satu puisi saya dimuat di HAI waktu itu (dengan nama Gino Feekhalqis, karena saya senang Gino Vanneli).

Pertemuan berikutnya sepulang dari traveling ala backpacker di Indonesia (1985-87). Saya datang ke majalah HAI, menyetor naskah Balada Si Roy. Saat itu diawali bertemu dengan Mbak Retno, Oktober 1987. Saya katakan, bahwa Balada Si Roy itu cocok dengan HAI yang mulai berkelamin “laki-laki”. Serial saya itu antitesa Catatan Si Boy yang mewah dan soleh, juga mencoba mengimbangi karakter Lupus yang super cuek tapi kreatif. Persamaan Roy dan Lupus sama-sama anak yatim dan hobi menulis.

Balada Si Roy tayang pada 8 Maret 1988. Sambutan dari pembaca luar biasa hangat. Kata Mas Wendo, “Kamu naik ke lantai 3, temui Mbak Liestiana.”

Tahun 1990, Mas Wendo membuat gebrakan dengan label “Pengarang Remaja Gramedia”. Ada nama-nama yang sedang tenar sebagai penulis remaja waktu itu selain Hilman, yaitu Zarra Zettira ZR, Lutfi, Gus yg Sakai, Bahrudin Supardi, Gustin Suraji, Arini Suryo Kusumo. Saya dan Hilman berumur 27 waktu itu. Novel Balada Si Roy episode Joe diluncurkan pada 1990 di Ikapi Book Fair, Kemayoran, Jakarta. Saya merasa bahagia, karena ini buku pertama saya. Maka saya merasa sah sebagai penulis.

Kemudian saya memilih bekerja di Warta Pramuka ketimbang HAI, karena lebih leluasa menuangkan gagasan. Jika di HAI, saya tidak akan sanggup. Di HAI mulai rutin ke musik.

Beberapa kali saya bertemu Mas Wendo. Yang selalu kuingat pesannya, “Jika menulis fiksi, urusan dengan diri sendiri sudah harus selesai. Jangan sekali-kali menulis fiksi dalam keadaan emosi atau marah, karena nanti alter ego akan berebut tempat dengan para tokoh.”

Sekali pernah saya menulis cerpen, Mas Wendo memanggil saya. Cerpen saya dikembalikan dan tidak pernah saya revisi. Saya pernah disarankan untuk “melanjutkan” ke Kompas Minggu – hal yang dilakukan Gus tf, tetapi saya memilih menekuni dunia jurnalistik.

Pengalaman saya di Kelompok Kompas Gramedia divisi majalah, saya bawa ke Serang. Saya dan Toto ST Radik serta Rys Revolta (dua sahabat yang saya ajak menulis puisi di Balada Si Roy) bersama Cipta Muda Banten membuat tabloid Banten Pos dan pelatihan-pelatihan menulis (jurnalistik dan sastra).

Terakhir saya bertemu Mas Wendo sekitar 1990. Dia “mengontrol” Warta Pramuka dan mengatakan oplahnya 2 juta eksemplar karena diserap mulai dari Kwarnas hingga Kwarcab. Saat itu dia juga pamer sepatu merek Adidas terbaru. Dia baru pulang dari Amerika. Dia duduk sambil kedua kakinya diletakkan dimeja ala koboy Amerika. Ketika saya bekerja di RCTI sebagai senior kreatif, 1996-2008, gaya itu aku tiru.

Itulah perjumpaan terakhir saya. Beberapa hari kemudian, heboh polling tabloid Monitor. Saya bersama Norman Edwin duduk di tembok pembatas, redaksi Warta Pramuka dan Kawanku, menonton demo ormas Islam yang datang dari arah Petamburan. Mereka memprotes polling Monitor, yang tidak menempatkan Nabi Muhammad sebagai orang nomor satu disukai pembaca Monitor. Mas Wendo lelaki gentleman. Demi menyelamatkan Gramedia, dia meminta maaf kepada umat Islam dan rela dibui.

Saya patah semangat. Saya memilih cuti dan traveling ke 7 negara Asia, bersepeda dan backpacking, hal yang kemudian digandrungi orang-orang sekarang…
Sampai jumpa, Mas Wendo. Doaku untukmu, surga yang tentu kita rindukan bersama.
Gol A Gong

