Masihkah Pelajar di Indonesia Mengenal Sosok Pramoedya Ananta Toer?

Oleh: Zaeni Boli

Kegelisahan ini wajar muncul karena Pramoedya Ananta Toer adalah sosok yang, semasa hidupnya, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam penjara. Namun, dedikasinya dalam dunia kepenulisan layak dijadikan panutan.

Pramoedya Ananta Toer, yang lahir pada 6 Februari 1925, telah banyak menghasilkan karya sastra bermutu—setidaknya sekitar 50 karya sastra. Ia juga pernah mendapat nominasi Nobel Sastra serta berbagai penghargaan di dunia internasional. Sayangnya, jejak langkahnya kerap ditutup-tutupi karena alasan politik.

Karya monumentalnya, Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Jejak Langkah, Rumah Kaca, Anak Semua Bangsa), ditulis saat ia berada di penjara Pulau Buru. Sebuah capaian yang hampir sulit ditandingi hingga hari ini. Namun, hal hebat tersebut justru sangat jarang diketahui oleh pelajar di Indonesia, khususnya di Indonesia Timur, yang masih minim bacaan berkualitas.

Saya menyadari hal ini ketika berada di sebuah ruang kelas dan menanyakan, “Apakah ada di kelas ini yang pernah mengenal nama Pramoedya Ananta Toer?” Jawaban mereka kompak: “Tidak tahu, Pak.” Sungguh sesuatu yang miris, tetapi itulah kenyataan yang ada. Bisa dipastikan bahwa pelajar lain pun tidak mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer.

Maka, pada momen perayaan 100 tahun kelahirannya, kita yang mencintai dunia sastra Indonesia perlu mewartakan sosok penting ini. Keteladanannya dalam menekuni dunia sastra—meski dalam kondisi terpuruk sekalipun—adalah sesuatu yang patut dikenang.

Negara pun mesti memberikan perhatian lebih terhadap sosok ini. Meskipun dalam kehidupannya ia memiliki pandangan politik yang berbeda, bukan berarti negara boleh melupakan jasanya dalam dunia sastra Indonesia.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==