Anselmus DW Atasoge sebagai pemateri menerangkan, “Banyak hal terkait teknis penulisan sejarah. Penulisan Sejarah memang dirasakan kurang peminatnya meski sangat dibutuhkan, khususnya sebagai sebuah pengetahuan yang bernilai dan berharga.”

Dalam sesi tanya jawab, Rin Riberu, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Flores Timur sempat menanyakan, bagaimana caranya melatih minat untuk mau menulis sejarah. Dia menjelaskan, bahwa dirinya tertarik pada sejarah namun tidak pada penulisannya.
Hal yang hampir serupa ditanyakan pula oleh Astri Kia, “Saat menuliskannya, saya kuatir bahwa ada kesalahan atau sudut pandang yang berbeda.”

Dalam jawaban singkatnya, Ansel sebagai pemateri memperlihatkan tulisan-tulisan sederhana tentang keseharian namun berkaitan dengan sejarah dan tradisi. “Dari tulisan sederhana itu terkandung makna yang dalam yang bisa menjadi pembelajaran. Hal tersebut bisa menjadi solusi bagi kita yang mau belajar menulis sejarah.”

Melihat dan merasakan Larantuka sebagai sebuah kota tua mengajak kita menikmati dengan cara sederhana, yakni mencintai budaya dan tradisi. Caranya dengan menuliskannya dimana kelak bisa dibaca kembali oleh generasi setelah kita. (*)




