Ivan Lanin meramu teori linguistik dengan bahasa yang sederhana, ringan, dan menghibur. Sesuai dengan judul bukunya, meski penyampaiannya baku, tidak berarti kaku. Saya seolah sedang membaca buku bergenre komedi.
Pembahasan dalam buku ini diambil dari kumpulan kiriman Ivan Lanin di media sosial, khususnya Twitter atau X Ivan Lanin sejak tahun 2010. Pada saat itu, Ivan Lanin terpanggil untuk menggunakkan ragam baku bahasa Indonesia di akun X. Dia ingin menunjukkan berbahasa baku itu tidak mesti kaku.
Dia membagikan pengetahuannya tentang ilmu linguistik: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatika, dan wacana dalam bentuk recehan yang kecil dan mudah dibagikan.
Salah satu kaidah kebahasaan yang tersaji secara ringan adalah penggunaan tanda koma untuk memisahkan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Kakek, Bu, atau Nak.

- Mari makan Kakek.
- Mari makan, Kakek.
Di sini Ivan Lanin menjelaskan bahwa tanda koma menyelamatkan nyawa. Seandainya tidak ada tanda koma, kasihan sekali Kakek bisa menjadi santapan.
Selain itu, ada padanan dari kata headset, yakni perangkat jemala. Kemudian, padanan dari kata vlogger adalah naravlog. Ketika dibaca dan diucapkan memang aneh, sih. Namun, ingat saja bahwa ada istilah bisa karena terbiasa.
Di sini juga dijelaskan penggunaan emotikon dan emoji. Dua hal ini bukan bagian dari penulisan formal. Tidak ada aturan baku untuk mereka. Kata Ivan Lanin, “Gunakan sesuai perasaanmu. Itulah hakikat emotikon dan emoji, mewujudkan rasa. Rasa kerap tidak cukup diungkap hanya dengan kata.”
Jika ada bercak-bercak putih pada kulit, itu tandanya panau. Ejaan yang baku adalah panau, bukan panu. Kata ini diserap dari bahasa Portugis pano dan telah dipakai sejak lama pada karya klasik bahasa Melayu.

Bagi pembaca yang kurang mengikuti perkembangan bahasa gaul, membaca beberapa kosakata bahasa gaul dalam buku ini mungkin akan kurang begitu memahami. Namun, selebihnya buku ini sangat edukatif dan kreatif.
Menyenangkan sekali belajar bahasa Indonesia melalui buku “Recehan Bahasa: Baku Tak Mesti Kaku”. Bukan hanya berisi edukasi, tetapi juga menghibur para pembaca. Penjelasannya tidak bertele-tele dan tidak membosankan.
Hal-hal receh ternyata bisa membuat kita makin mencintai bahasa Indonesia.
Sebelum tulisan ini berakhir, ada satu kutipan menarik dalam buku ini.
“Untuk memahami bahasa kalbu itu tidak perlu kamus. Yang diperlukan ialah perhatian dan kesabaran.”


Judul: Recehan Bahasa: Baku Tak Mesti Kaku
Penulis: Ivan Lanin
Tebal: 165 halaman
Penerbit: Kanita
Tahun terbit: 2020



