Pada kurun waktu 1995 – 2000 saya mengalami kemandegan dalam menulis. Tak ada gairah. Hari-hari saya hanya diisi dengan menulis skenario. Membosankan. Kepala hanya disuruh berpikir tentang rating, revenue, dan audience share. Dan ketika mempersiapkan diri hendak menulis cerpen atau novel, begitu duduk di depan komputer, kelima jari saya tak pernah bisa menyentuh tust-tust keyboard. Tak pernah bisa merangkai kata. Tubuh terasa kaku. Hati begitu pilu. Saya ingin menulis, tapi hati ini, hati ini! Saya sudah tak berselera lagi menuliskan hal-hal yang bersifat hedonis semata.



