Oleh: Diasti Sukma Ekasanti
Warga asli Jogja maupun siapa saja yang menempuh pendidikan ataupun bekerja di Jogja pasti pernah mengunjungi Kaliurang. Kaliurang merupakan sebuah kawasan wisata yang terletak di lereng Gunung Merapi dan secara administratif termasuk dalam Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kawasan wisata Kaliurang menawarkan beragam opsi objek wisata, seperti: wisata alam, edukasi, ataupun kuliner. Setelah beberapa kali mengunjungi kawasan tersebut, saya dan sahabat saya tertarik untuk mengeksplorasi tempat-tempat menarik yang terletak di sekitar rute menuju Kaliurang.
Berangkat dengan niat untuk merasakan suasana baru di tempat baru, kami bertolak dari kawasan Universitas Gadjah Mada menuju Ruang Literasi Kaliurang. Ruang Literasi Kaliurang bukanlah sebuah objek wisata, melainkan ruang publik yang dapat diakses oleh siapapun secara gratis. Fasilitas tersebut tergolong baru dan membuat penasaran karena baru saja dibuka pada bulan Februari 2025 lalu.

Untuk menuju tempat tersebut, kami hanya perlu menyusuri Jalan Kaliurang selama kurang lebih 30 menit menggunakan mobil pribadi. Walaupun baru pertama kalinya mengunjungi tempat tersebut, kami dapat menemukan bangunan Ruang Literasi Kaliurang dengan mudah, tentunya dengan bantuan Google Maps.
Fasad bangunan tersebut terlihat cukup mencolok dan bertuliskan RUANG LITERASI KALIURANG. Tulisan serupa juga terdapat pada bagian gerbang membuat keberadaan bangunan tersebut tidak mudah diabaikan.
Karena kami tiba di tempat tersebut sekitar pukul 10.00 WIB, belum banyak kendaraan yang terparkir pada tempat parkir yang terletak di depan bangunan. Tempat parkir itu pun dapat menampung mobil dan motor dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.
Di dekat tempat parkir terdapat sebuah pendopo dan jalan masuk menuju inner court (taman di tengah bangunan) maupun sebagian besar fasilitas yang disediakan Ruang Literasi Kaliurang, seperti: perpustakaan, plaza pertunjukan, ruang diskusi, dan bioskop mini.
Dari area tersebut kami melihat bahwa tapak tersebut didesain dengan beberapa level: inner court dan bangunan-bangunan utama terletak lebih rendah dibandingkan tempat parkir dan pendopo di bagian depan bangunan. Selain itu, eksterior bangunan didominasi dengan material batu bata ekspos serta struktur yang dicat berwarna putih dan dipercantik dengan tanaman rambat berwarna hijau.
Paduan ketiga elemen tersebut membuat bangunan Ruang Literasi Kaliurang terkesan homey sekaligus natural. Kesan natural diperkuat dengan adanya kolam ikan yang cukup besar di bagian dalam inner court. Kami juga bertemu dengan kucing-kucing yang dengan santainya berjalan ke sana ke mari dan menyapa para pengunjung.

Setelah melihat-lihat eksterior bangunan, kami menuju resepsionis yang berada di bangunan perpustakaan dan diarahkan untuk menaruh tas dan barang bawaan kami di loker yang terletak di dekat musala terlebih dahulu serta menaruh alas kaki di rak yang disediakan sebelum mengakses perpustakaan.
Bangunan perpustakaan merupakan bangunan dengan satu lantai dan satu mezanine. Layaknya perpustakaan pada umumnya, perpustakaan tersebut berisikan beragam buku yang dapat dibaca pengunjung.
Pengunjung juga dapat memanfaatkan tempat tersebut untuk mengerjakan tugas karena perpustakaan tersebut dilengkapi dengan meja, kursi, dan bean bag. Suasana di perpustakaan sangatlah tenang dan nyaman. Menjelang siang hari, mulai banyak pengunjung yang berdatangan. Jumlah kursi yang terbatas membuat sebagian pengunjung harus membaca buku sambil duduk di lantai.

Ruang Literasi Kaliurang dibuka setiap hari dari pukul 09.30 hingga 21.00 WIB dan telah dilengkapi dengan musala dan toilet sehingga pengunjung dapat menghabiskan waktunya di tempat ini dengan nyaman. Untuk saat ini, Ruang Literasi Kaliurang belum menyediakan layanan makanan ataupun minuman.
Karenanya, kami harus mencari tempat lain untuk makan siang. Setelah melihat-lihat berbagai pilihan tempat makan di sekitar rute menuju Kaliurang melalui Google Maps, kami memutuskan untuk makan siang di restoran Bebek Pondok Galih.

Untuk menuju tempat makan tersebut, kami hanya memerlukan waktu kurang lebih sepuluh menit. Kami juga tidak kesulitan menemukannya, apalagi dengan bantuan Google Maps. Kami memilih tempat makan tersebut didorong oleh ketertarikan dan rasa penasaran melihat arsitektur unik pada salah satu ruang makannya.
Sebelumnya, saya pernah mengunjungi tempat makan tersebut. Pada kunjungan sebelumnya, ruang makan yang tersedia masih terbatas pada bangunan pendopo utama. Selain itu, kunjungan tersebut dilakukan pada malam hari sehingga hijaunya lingkungan tempat makan tersebut tidak terlihat.
Walaupun begitu, lampu-lampu yang dinyalakan saat malam hari berpendar hangat dan menimbulkan kesan romantis pada bangunan pendopo, terutama karena konstruksi atap bambu tersinari dengan jelas.
Kami tiba di tempat makan tersebut sekitar pukul 13.00 WIB. Siang hari itu, banyak pengunjung yang berdatangan untuk makan siang di tempat tersebut, terutama pengunjung yang datang bersama keluarganya setelah menghadiri acara wisuda di salah satu universitas di Yogyakarta. Sama seperti pada kunjungan sebelumnya, bagian depan bangunan tempat makan difungsikan sebagai tempat parkir. Tempat parkir tersebut sangat luas dan dapat menampung banyak mobil dan motor.

Begitu memasuki bangunan utama, kami melewati bagian kasir dan mencari ruang makan dengan pemandangan yang menarik. Saya cukup terkejut ketika memasuki area Bebek Pondok Galih lebih dalam lagi pada kunjungan kemarin. Hal yang paling menakjubkan dari tempat makan ini yaitu bangunan baru berupa ruang makan dengan arsitektur bambu.
Hampir seluruh struktur yang membangun ruang makan tersebut adalah bambu. Hal yang unik dari arsitektur bambu tersebut yaitu bentuknya yang organik dan tidak kaku, baik dari fasadnya apabila dilihat dari sudut manapun maupun bentuk bangunan tersebut secara keseluruhan.
Hal tersebut tentunya menonjolkan sifat bambu sebagai material bangunan yang memiliki elastisitas tinggi. Selain itu, pernak-pernik pada bangunan baru tersebut, seperti lampu dan partisi pada salah satu sisi ruang, menggunakan bambu sebagai material utamanya.

Bebek Pondok Galih merupakan restoran keluarga. Jadi, tidak mengherankan apabila fasilitasnya cukup lengkap, seperti: musala, toilet, serta playground yang cukup luas dan dilengkapi dengan bermacam-macam permainan anak-anak. Menu makanan yang ditawarkan juga cukup beragam dengan pilihan makanan olahan bebek, ayam, maupun ikan, serta sayur dan minuman pendampingnya.
Pada kunjungan tersebut, kami memesan dua paket bebek bakar dengan harga Rp60.500,00 untuk satu paketnya. Selain bebek bakar dan nasi, kami mendapatkan plencing kangkung, terong bakar, tempe goreng, sambal lengkap dengan lalapannya, serta es dawet.
Setelah menghabiskan makanan dan minuman, kami menyempatkan diri untuk mengelilingi area tempat makan tersebut. Sebagian besar bangunan di tempat tersebut terlihat berkonsepkan arsitektur tradisional. Hal tersebut tampak harmonis dengan lingkungan tempat makan yang asri dengan banyaknya penghijauan dan sawah di sekeliling area tersebut.
Kami juga melihat beberapa bangunan yang masih dalam proses penyelesaian dan sepertinya akan menjadi ruang makan lesehan dengan pemandangan berupa sawah.

Hari telah menjelang sore sehingga kami harus menyudahi jalan-jalan kami di kedua tempat menarik yang terletak di sekitar rute menuju Kaliurang tersebut. Di waktu mendatang, kami mungkin akan kembali berkunjung untuk melihat perkembangan dari kedua tempat tersebut dan meneruskan cerita perjalanan kami.
Diasti Sukma Ekasanti adalah seorang penulis yang berfokus pada isu-isu arsitektur dan pariwisata. Ia mulai giat menulis sejak berkuliah di Program Studi Arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Karyanya telah dipublikasikan di berbagai media daring maupun majalah. Melalui tulisannya, ia berharap dapat menginspirasi pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


