Oleh: Naufal Nabilludin
Akhir-akhir ini, rasanya Indonesia sedang dihantam bertubi-tubi. Berita korupsi di Pertamina, bensin oplosan, minyak yang takarannya dikurangi, IHSG yang turun, hingga revisi UU TNI yang menimbulkan banyak kekhawatiran. Setiap hari, ada saja kabar yang membuat hati semakin gelisah.
Begitu juga dengan saya. Setiap membuka media sosial, ada saja berita buruk yang harus saya lihat. Dan tanpa saya sadari, itu memengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya jadi sulit fokus, energi saya terkuras hanya untuk memikirkan hal-hal yang bahkan tidak bisa saya kendalikan.
Padahal, saya berlangganan Tempo dan Kompas.id—dua media yang jelas lebih kredibel dibandingkan sekadar unggahan viral di media sosial. Saya mengeluarkan uang untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat, lebih dalam, dan lebih terpercaya. Tapi akhir-akhir ini, saya justru ragu untuk membukanya.
Bukan karena saya tidak peduli dengan kondisi negeri ini, tapi karena saya ingin menjaga kewarasan saya sendiri. Saya tidak mau hari saya rusak karena membaca berita korupsi yang bikin geram atau kebijakan yang terasa tak masuk akal.
Saya tahu, membaca berita dari sumber yang kredibel bisa membuka wawasan, bisa membuat saya lebih paham tentang apa yang terjadi. Tapi saat ini, saya lebih memilih menjaga ketenangan hati dibandingkan terus-menerus dibuat kesal oleh realitas yang terasa semakin suram.
Mungkin ini bukan solusi yang ideal. Menghindari berita bukan berarti masalahnya hilang. Tapi setidaknya, mengurangi paparan informasi yang terlalu berat bisa memberi saya ruang untuk tetap berpikir jernih. Karena bagaimanapun, berita buruk tentang negeri ini akan selalu ada. Dan saya tidak mau membiarkan itu merenggut kedamaian saya setiap hari.
Salam waras.



