Kami mulai berkeliling di warung-warung terdekat dahulu, namun belum menemukan adanya gas elpiji. Setelahnya kami coba untuk mulai keluar dan menuju pusat kota, walau dengan langkah yang semakin lama kok terasa semakin berat. Gas elpiji di warung-warung biasa sudah banyak yang habis, hanya banyak tumpukannya saja, itupun diikat rantai.

Saya mulai curiga, ada apa dengan keadaan yang aneh ini, menjelang Lebaran Haji Idul Adha ini, mencarinya bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Setiap warung yang kami datangi selalu memberikan jawaban yang sama: “Maaf, gasnya habis.”
Kekhawatiran mulai merayapi pikiranku. Bagaimana bisa memasak jika gas tak kunjung ditemukan? Seketika terbayang pula wajah anak-anak yang kecewa jika tak ada hidangan istimewa di hari besar nanti apalagi tak bisa masak daging. Aku terus berjalan, berharap masih ada keajaiban di tengah kesulitan ini.
Akhirnya, di ujung jalan yang sepi, kutemukan sebuah warung kecil milik seorang pedagang Madura. Warung itu tampak sederhana, tapi kali ini, harapan kembali menyala. Aku menghampiri pemilik warung, seorang pria paruh baya dengan senyum yang hangat, meski garis lelah di wajahnya jelas terlihat.

“Pak, apakah ada Gas elpiji di sini?” tanyaku dengan harapan yang hampir pudar.
Dengan nada sabar, ia menjawab, “Ada, Mas. Tapi tinggal sedikit sekali. Gas ini memang langka menjelang Lebaran haji. Kami juga merasakan hal yang sama di Madura.”
Aku tersentak, merasa terhubung dengan cerita ini. “Di Madura juga sering langka, Pak?”
“Iya, Mas,” katanya sambil mulai bercerita. “Setiap kali menjelang hari besar seperti ini, stok gas selalu dibatasi. Warung-warung hanya diberi sekitar sepuluh tabung saja. Banyak yang akhirnya harus berkeliling seperti Mas ini, mencari warung yang masih punya stok.”
Cerita itu membuatku merenung. Ternyata, kelangkaan gas ini bukan hanya terjadi di sini. Di tempat asalnya, di Madura, orang-orang juga mengalami hal yang sama. Sebuah ironi dalam persiapan hari raya yang seharusnya penuh kebahagiaan.
Pria itu lalu memberikan satu tabung gas yang tersisa, cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak kami di hari raya nanti. Aku merasa lega, tapi juga teringat akan perjuangan banyak orang yang mungkin belum seberuntung diriku.

Dalam perjalanan pulang, aku berpikir tentang bagaimana kehidupan ini selalu memberikan tantangan, bahkan di saat-saat yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan. Namun, di balik setiap tantangan, selalu ada cerita yang menguatkan kita, mengingatkan bahwa kita tidak sendiri dalam kesulitan.
Dan di hari itu, di tengah kelangkaan gas elpiji, aku menemukan lebih dari sekadar bahan bakar untuk memasak. Aku menemukan cerita tentang kebersamaan, tentang berbagi beban, dan tentang ketabahan menghadapi hari-hari sulit.



