Tepat, selepas pembukaan dan melaksanakan shalat Ashar. Para peserta diajak untuk menelusuri jejak bangunan kolonialisme oleh panitia. Total bangunan yang masuk dalam rute kegiatan berjumlah 17, meliputi Kewedanaan Rangkasbitung, kantor DPRD Kabupaten Lebak, rumah Dinas Bupati Lebak, rumah Dinas Asisten Residen, Holland Inlandsche School atau SMP 1 Rangkasbitung, Gereja Santa Maria tak Bernoda, Gereja Kristen Pasundan, rumah pegawai PJKA, gedung Pasturan, Eka Fabricken Mix Oil, kantor PLN rayon Rangkasbitung, rumah Raden Demang Sastrawiguna, rumah kapolres Lebak, rumah Soetadisastra, Water Toren Rangkasbitung, Bekas kantor pengadilan negeri Rangkasbitung dan Kewedaan Rangkasbitung.

Saya dan peserta lain yang tergabung dari berbagai kampus dan sekolah. Diajak jalan-jalan oleh panitia menyusuri kota Rangkasbitung. Bagi yang jarang olahraga, menyusuri jejak bangunan bersejarah akan melelahkan, karena harus berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.
“Asyik, anggap saja sebagai olahraga sore. Ditambah ada ilmu yang bisa didapatkan,” pikirku dalam hati.


