Oleh Endah Novitasari
Sabtu itu, langit Jakarta begitu bersahabat. Matahari bersinar cerah, angin sore berembus lembut di antara deretan gedung tua dan pepohonan yang menua di pinggir jalan. Tanggal 13 September 2025 mungkin akan kulupakan begitu saja kalau hari itu berjalan biasa. Namun, siapa sangka, hari itu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupku. Hari itu kuhabiskan dengan menelusuri wajah lama Ibu Kota bersama Jktgoodguide.
Aku berangkat dari rumah sekitar pukul dua siang. Udara panas masih terasa menempel di kulit, tapi semangatku sudah lebih dulu membuncah. Tas kecil kusampirkan di bahu, sepatu kets kususun rapi menapak trotoar, dan ponsel sudah penuh baterainya, siap merekam setiap momen yang akan terjadi.
Aku naik JakLingko, salah satu transportasi andalan warga Jakarta yang kini semakin mudah diakses. Aku merasa sangat terbantu dengan adanya sistem transportasi ini. Tidak perlu bingung berpindah dari satu moda ke moda lain, cukup satu kartu untuk menjelajah seluruh penjuru kota.

Perjalanan dengan JakLingko cukup menyenangkan. Dari balik jendela, aku menyaksikan jalanan Ibu Kota dengan segala hiruk-pikuknya. Ojek, mobil, bus, hingga pedagang asongan, semuanya seolah menari dalam ritme yang khas: cepat, padat, tapi hidup. Aku turun di Halte Jembatan 2, lalu berpindah ke TransJakarta menuju Halte Monas.
Sebenarnya aku sempat berencana naik KRL dan turun di Stasiun Gondangdia, lalu berjalan kaki menuju Museum Joang 45 agar bisa merasakan atmosfer jalanan Menteng yang legendaris. Namun waktu tak berpihak; aku berangkat sedikit terlambat. Jadi, kubatalkan rencana semula dan memilih naik TransJakarta saja. Dari Halte Monas, aku melanjutkan perjalanan dengan ojek daring menuju Museum Joang 45 sebagai titik kumpul, berharap tidak terlalu tertinggal dari peserta lain.

Begitu tiba di halaman Museum Joang 45, aku langsung disambut suasana yang hangat dan ramai. Dua patung ondel-ondel seolah menyambutku dengan sentuhan khas Betawi. Beberapa peserta lain sudah berkumpul sambil bercengkerama ringan. Di antara mereka, tampak wajah baru yang kemudian menjadi teman seperjalananku hari itu.
Kami disambut panitia dari Jktgoodguide yang terlihat sibuk mempersiapkan perlengkapan tur, seperti peta, daftar rute, dan peralatan komunikasi. Suara tawa bercampur dengan deru kendaraan di Jalan Menteng Raya, sementara aroma pepohonan yang tumbuh di halaman museum membuat udara terasa teduh.
Setelah registrasi, kami dibagi menjadi tujuh kelompok, masing-masing dipandu oleh seorang guide. Aku tergabung dalam Grup 3, bersama sekitar 14 peserta lainnya. Guide kami memperkenalkan diri dengan ramah, lalu menjelaskan rute perjalanan hari itu: Museum Joang 45, Kantor Pos Cikini, Taman Ismail Marzuki, SMP Negeri 1 Jakarta, Toko Es Krim Tjanang, RS PGI Cikini, Rumah Raden Saleh, Stasiun Cikini, Pasar Antik Jalan Surabaya, dan terakhir Kantor Golkar.
Museum Joang 45

Kami memulai perjalanan dari Museum Joang 45. Bangunan bergaya kolonial ini berdiri megah dengan cat putih kekuningan dan jendela-jendela besar yang menghadap ke jalan. Di dalamnya terpajang foto-foto dan benda-benda bersejarah yang bercerita tentang perjuangan para pemuda Indonesia dalam merebut kemerdekaan.
Langit-langitnya tinggi, lantainya berubin marmer, dan setiap langkah kaki memantulkan gema masa lalu. Aku sempat berhenti di depan foto Soekarno muda yang sedang berpidato. Rasanya seperti melihat api semangat yang tak pernah padam, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.
Guide kami menjelaskan bagaimana museum ini dulunya merupakan hotel milik Belanda bernama Schomper Hotel, tempat para pemimpin muda Indonesia bernaung dan merancang strategi perjuangan. Aku mendengarkan dengan kagum, membayangkan betapa tegang dan heroiknya suasana di ruangan ini dulu.
Kantor Pos Cikini
Perjalanan berlanjut ke Kantor Pos Cikini, bangunan kuno dengan cat oranye khas dan logo burung pos yang terpampang di depannya. Meskipun sudah modern, bangunan ini masih menyimpan aura klasik yang kuat. Di depan kantor pos, suara klakson kendaraan bersahut-sahutan, sementara dari kejauhan terdengar azan Asar yang bergema dari sebuah masjid tua.

Kami berhenti sejenak, mengambil beberapa foto, dan guide kami bercerita bahwa kantor pos ini sudah berdiri sejak masa kolonial Belanda. Dulu, ia menjadi salah satu jalur penting dalam sistem komunikasi Hindia Belanda. Aku membayangkan surat-surat cinta, kabar perang, dan pengumuman penting yang dahulu keluar-masuk dari tempat ini, mungkin membawa air mata, mungkin juga sukacita.
Taman Ismail Marzuki
Dari kantor pos, kami berjalan kaki menuju Taman Ismail Marzuki (TIM). Suasana di sana terasa lebih syahdu. Senja mulai turun, lampu-lampu taman perlahan menyala, menambah kesan artistik di antara mural dan instalasi seni yang terpajang di dinding. Di salah satu sudut, ada sekelompok anak muda sedang bermain musik. Petikan gitar mereka berpadu dengan suara tawa penonton, menciptakan irama senja yang indah.

Aku sempat duduk sebentar di bangku taman, menikmati udara yang mulai sejuk sambil menatap gedung Planetarium yang menjulang di kejauhan. Tempat ini benar-benar menjadi ruang bagi seni dan kebebasan berekspresi. Di sana, jiwaku seolah melayang entah ke mana. Terasa bebas dan sejenak lupa dengan segala kerumitan kehidupan.
SMP Negeri 1 Jakarta

Perhentian berikutnya ialah SMP Negeri 1 Jakarta, salah satu sekolah tertua di Ibu Kota. Bangunannya seperti bangunan sekolah pada umumnya. Namun kesan klasik dan bersejarah tetap terlihat. Guide kami menjelaskan bahwa sekolah ini sudah berdiri sejak abad ke-19 dan banyak melahirkan tokoh-tokoh penting. Aku merasa seperti melihat sejarah pendidikan Indonesia tersusun di antara bata-bata kuno yang tak pernah tumbang.
Toko Es Krim Tjanang

Setelah berjalan cukup jauh, kami singgah di Toko Es Krim Tjanang. Tempatnya sederhana, tapi penuh nostalgia. Lampu kuning temaram menggantung di langit-langit, sementara aroma manis susu dan vanila menyeruak dari dapur. Aku menuju lobi Hotel Cikini untuk memesan dan menikmati es krim Tjanang yang legendaris. Aku memilih rasa cokelat klasik yang disajikan dalam gelas kaca. Rasanya lembut dan sedikit berbutir, khas es krim jadul. Sambil menyeruput dinginnya, aku menatap jalanan Cikini yang ramai oleh lalu-lalang orang. Momen itu sederhana, tapi terasa lembut dan manis, persis seperti es krim yang saat itu kunikmati. Kala itu seolah waktu berjalan lebih lambat hanya untuk memberi kesempatan menikmati rasa bahagia kecil.
RS PGI Cikini dan Rumah Raden Saleh
Malam mulai turun saat kami tiba di RS PGI Cikini, yang dulunya adalah rumah besar milik pelukis legendaris Raden Saleh. Di sini suasananya berbeda. Terasa tenang, penuh bayangan pepohonan besar yang menutupi sebagian bangunan rumah sakit. Guide kami menunjuk sebuah bangunan tua di dalam kompleks rumah sakit; katanya, itulah bekas kediaman Raden Saleh. Arsitekturnya memadukan gaya Jawa dan Eropa, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang kosmopolit namun tetap berjiwa Nusantara. Kami juga sempat berfoto di depan kapel yang terletak di belakang rumah Raden Saleh, masih berada dalam Kompleks RS PGI Cikini.

Kami melanjutkan perjalanan, kemudian berhenti tepat di depan gerbang salah satu rumah besar di kawasan itu, yang konon dulunya pernah menjadi kediaman Ahmad Soebarjo, Menteri Luar Negeri pertama Indonesia. Rumah itu tampak megah, dengan pagar besi tinggi dan taman yang terawat rapi. Saat kami sedang berfoto, seorang satpam mendekat. Spontan kami sedikit panik, mengira akan diusir. Namun ternyata nasib berkata lain.
Satpam itu justru tersenyum dan mengajak kami untuk masuk. Ternyata pemilik rumah, Bapak Lukas Boediono, tengah berada di dalam dan bersedia menerima tamu. Kami melangkah masuk dengan perasaan takjub. Begitu pintu dibuka, aroma khas bangunan tua langsung menyergap. Ruang tamunya luas, dengan perabotan klasik, lukisan tua di dinding, dan lampu gantung kristal yang berkilau lembut.
Bapak Lukas menyambut kami dengan hangat. Dengan suara tenang, beliau menceritakan sejarah rumah itu. Kami mendengarkan dengan takzim, sesekali memotret detail ukiran pintu dan foto-foto tua yang terpajang. Waktu terasa begitu tenang, seperti ingin memberi ruang bagi sejarah untuk berbicara.
Tanpa terasa, jam menunjukkan pukul delapan malam. Menurut jadwal, seharusnya kami masih melanjutkan perjalanan ke Stasiun Cikini, Pasar Antik Jalan Surabaya, dan Kantor Golkar. Namun karena hari sudah larut, kami harus mengakhiri tur di sini.

Meski sedikit kecewa karena tidak bisa menyelesaikan semua rute, aku merasa sangat beruntung. Tidak semua peserta bisa masuk ke rumah bersejarah itu dan mendengarkan langsung kisah dari pemiliknya. Bagi kami, itu adalah hadiah tak terduga dari perjalanan hari ini.
Sebelum pulang, kami berfoto bersama di depan rumah. Lampu jalan memantulkan cahaya keemasan di wajah-wajah lelah tapi bahagia. Aku menatap sekeliling: deretan bangunan tua, pepohonan yang bergoyang pelan, dan langit malam Jakarta yang mulai berbintang. Ada perasaan damai yang sulit dijelaskan, seperti baru saja berdialog dengan masa lampau.
Perjalanan pulang terasa sunyi tapi manis. Di dalam TransJakarta, aku menatap pantulan wajahku di kaca jendela. Aku tersenyum kecil, memikirkan betapa berharganya pengalaman hari itu. Bukan sekadar berjalan dari satu tempat ke tempat lain, tapi benar-benar menyelami jejak waktu di balik dinding-dinding tua Jakarta.
Dan aku tahu, jika Jktgoodguide mengadakan tur lagi, aku pasti akan ikut. Karena setiap langkah di kota ini selalu punya cerita, dan aku ingin mendengarnya lagi. Kali ini, dengan hati yang sudah jatuh cinta pada sejarahnya.
Tentang Penulis:
Endah Novitasari, seorang ibu rumah tangga biasa yang berusaha tetap mencintai dunia literasi dengan
terus belajar menulis dan menyempatkan waktu untuk membaca. Pernah mengenyam pendidikan di bidang Bahasa Indonesia pada 2017 silam di Universitas Negeri Jakarta.
Sudah pernah beberapa kali turut berpartisipasi pada kegiatan kepenulisan, baik prosa ataupun puisi.
Baginya, menulis sangat membantu untuk mencurahkan uneg-uneg yang membuat dada terasa sesak.
“Balaskan sakit hatimu melalui cerita yang mampu kaukarang sesuka hatimu dalam karya sastra
ciptaanmu!”

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


