Saya mendesain kegiatan sore itu untuk menyadarkan kembali penulisnya. Sebanyak 65 puisi yang terhimpun dalam buku tersebut ditulis anak-anak Papua yang masih berstatus pelajar. Bersama teman-teman di komunitas, saya membuat event launching buku tersebut, dihadiri pejabat daerah, hingga mementaskannya dalam bentuk kegiatan Musikalisasi Puisi ini.

Melalui pesan WA, beberapa teman mengabarkan bahwa mereka berhalangan hadir. ”Babe sebentar lagi akan datang, ia masih di jalan,” ujar Kak Mariah. Kak Mariah merupakan sosok yang paling bersemangat. Ia telah menyiapkan beberapa kado untuk penampil.

Ada juga 10 judul buku yang dijadikan hadiah oleh Kak Mariah kepada saya selaku inisiator dan tuan rumah kegiatan tersebut. Tidak lama kemudian “Babe” panggilan akrab pemilik nama Heriyadi Mardjuki ini datang, beliau sosok pemerhati sastra di Manokwari.
“Saya mau satu orang dua orang akan tetap tampil baca puisi,” pancing Babe. Tanpa formalitas dan seremonial, setelah meneguk kop,i acara pun dimulai. Pembacaan puisi diawali Kak Mariah selaku penyusun buku “Ibu yang Membaca”.

Puisi berjudul “Mencari Budaya” karya Rasid Woretma, dan beberapa puisi karya Hamah Sagrim (alm) ditampilkan Kak Mariah. Berbekal backsound dari Youtube yang dihubungkan dengan Bluetooth ke speaker, membuat musikalisasi sore itu tidak kalah hebat dengan event musikalisasi puisi di pentas-pentas besar.

Lalu saya dan Babe bergantian tampil. Istri dan anak-anak saya juga tidak mau ketinggalan. Fatih anak saya yang masih kelas 1 SD ikut menyumbang puisi. Dengan malu-malu dan terbata-bata ia turut memeriahkan kegiatan pembacaan puisi sore yang epic tersebut.
Banyak puisi sebenarnya yang ingin ditampilkan, termasuk bedah buku tersebut. Namun karena sudah menjelang malam acara dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol literasi.


