Saya jadi ingat ketika berkunjung ke Baduy. Kokolot Baduy mengatakan kepada saya, bahwa jika hujan di Kanekes, sampah-sampah yang biasanya sampai di sungai Ciujung Rangkasbitung sekitar 8 jam lamanya, sekarang dalam waktu 2 jam saja sudah sampai.”

Itu artinya di hulu sungai Ciujung, pohon-pohon banyak ditebangi. Tetu itu membuat kita prihatin. Makna dari seba Baduy sebetulnya bukan hanya ucapan rasa syukur masyarkat Baduy karena panennya berhasil.

Atau bentuk terima kasih kepada Pemkab Lebak dan Pemprov Banten karena sudah melindungi dan memberi izin menetap hidup di wilayah Kanekes, tapi juga menyampaikan nilai-nilai luhur adat Suku Baduy, yaitu memelihara dan menjaga alam dengan tidak mengubah, apalagi merusaknya.

Tapi yang menyenangkan ketika Uthera mengabarkan di status FBnya, “Setelah menghubungi kurator Museum Multatuli, Hendra Permana, alhamdulillah koleksi aman. Meskipun banyak sampah terbawa ke dalam ruangan, dan interiornya yang terbuat dari material yang menyerap air, akan terdampak (lapuk dan sebagainya).”

Semoga kita semua bisa menyikapi hal ini. Karena setiap hujan deras berhari-hari, banjir bukan hanya di Tangerang Selatan dan Lebak, tapi juga di Kota Serang dan Cilegon.
Gol A Gong



