Dalam pengantarnya, Budayawan Lamaholot ini, mengatakan Maksimus Masan Kian tidak sekedar mengada-ada membangun Titik Nol Berpikir. “Masan Lau Tadon, Kian Hoyan Lela, tidak sekedar mengada-ada membangun titik nol berpikir. Justru mengajak untuk kembali menjunjung tinggi kebernasan berpikir koka dato, koka moyang kita. Mereka tidak sekolah. Tidak tahu baca tulis. Kemurnian pikiran mereka murni nian. Tak terpolusi pengaruh apapun. Mereka bergerak dari nol. Berpikir dari nol. Toh, melahirkan gagasan-gagasan bernas yang kemudian diwariskan kepada kita,” kata David.

David Klawes juga mengatakan, titik Nol Berpikir adalah ekan amun, ruang kosong, yang berisikan selaksa inspirasi. Menantang kita untuk berpikir dengan kemurnian nurani, kemurnian batin untuk seterusnya nenyimpulkan semuanya menjadi karya bermutu. Terlebih di zaman serba online, di era digital.
Kita berpendidikan, tooñ sekolhaket. Maka dengan tambahan ilmu, kompetensi dan kemampuan yang meluluskan kita, setidak ya melulus-muluskan konsep berpikir kita dengan menggunakan daya nalar dan kreasi prima.
Dalam pengantar orasi budaya, David Klawes mengatakan, Pada masa lampau, kakaket amaket rai seba’ be’an koda te kayo bangin puken, rai gewatin baet kiri te wato bel’en langun. Turun ra’ penuket roiro, main koda te kayo bangin puken bo sereba bo selili’, kirin te wato bel’en langun bo pue bo bereka’. Untuk beryukurpun demikian. Kakaket amaket, koka’ moyanet geniko rai pa’o bo’e kayo bangin wato bel’en, jalan bersyukur kepada alapet,Lat Allah Rerawulan. Kakaket amaket oneka hode hodina’ weti rai peri nuba. Nuba ra’an onga tonga Lat Allah Rerawulan.

Pada bagian lanjutannya, Budayawan Lamaholot ini mengatakan, Pi nuanen nhi nuba tama’ gikata pi tite oneket. Weti, koka’ moyanet di nuba, inaket amaket di nuba, bineket di nuba, na’aket di nuba, pai hipuka tite wahan kae pi tobo gole-gole nhi di nuba. Turun nuba nhi hena, weti te injil Matius na’en on’en (16:18), Yesus marin te Petrus, “Hai Petrus, di atas batu karang ini akan kudirikan jemaatKu, dan kuasa kegelapan tidak akan menga-lahkannya. “–” Petrus, pi wato parak kotoken kewatuken nhi, Go’ honin wani’ Koke’ Saka Sira Sinha Bale’ Mau Sugu Saga, pi progene gemenen gelagu gelawa rehija,”
Maksimus Masan Kian, menyampaikan apresiasi kepada Budayawan, David Klawes. Bagi Maksi, David Klawes adalah figur yang dapat diteladani dalam memberikan petuah-petuah terkait Budaya Lamaholot. “Opa David Klawes sangat memahami jauh dan dalam tentang kekuatan Budaya Lamaholot. Budaya warisan leluhur yang memberikan kekuatan dan energi positif, dalam karya pelayanan. Banyak sekali pesan moril yang diperoleh dari isi orasi yang disampaikan oleh Opa David, terlebih bagi generasi muda,” kata Maksi.




