Hari pertama di Baku, Azerbaijan. Rabu 11 Februari 2026. Sofia dan Dilla menjemput kami di apartemen.
“Mau naik taksi atau bus kota?” tanya Sofia asal Depok, yang sedang menyelesaikan S2.
Tentu aku memilih bus kota. Begitu juga Jordy-Natasha. Kami sangat antusias dengan aktivitas warga kota di saat travelin. Itu hal baru yang harus kami rasakan.

Kami berjalan kaki sekitar 200 meter ke halte bus. Angin tidak kencang seperti tadi malam, yang bercampur dengan hujan salju sebesar biji padi. Tapi gerimis. Udara segar langsung menampar wajah, tentu dingin. Kemungkinan suhu 5 derajat.
Pandangan mataku mengitari sekeliling. Selalu muncul dalam benakku, bagaimana mereka bisa membangun kota serapi ini? Seestetik ini? Bangunan peninggalan masa lalu – Rusia, Persia – tetap dirawat dan dipertahankan? Bahan materialnya bisa tahun lebih dari seratus tahun. Kokoh dan gagah. Bersih tak ada sampah. Bagaimana penduduknya bisa mematuhi aturan yang diberlakukan?

Kami 2 kali naik bus kota. Tidak jauh. Sofia menjelaskan apa-apa yang aku tanyakan, juga soal cara beribadah Suni dan Syiah di masjid-masjid.
Tidak terasa kami tiba di KBRI. Mas Alif yang menjemput kami di bandara menyambut. Juga Mbak Wulan dari Pensosbud.

Ada 10 mahasiswa dengan program beasiswa beragam – S3, S2 dan S1 – mengikuti dengan serius pelatihan menulis fiksi mini. Sofia dan Dilla saja yang pernah aktif di dunia kepenulisan. Mereka pernah bergabung di FLP Depok dan mengenal @helvytianarosa dan @asmanadia .
Sangat menyenangkan ketika pesertanya aktif dan responsif. Apalagi ketika Mbak Wanda Widya, Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI, menargetkan ingin menerbitkan tugas-tugas menulis mereka dalam bentuk buku antologi

Kakak Abdul Waris, Ketua PPPI Azerbaijan menyatakan hal sama, “Semoga bisa terwujud bukunya.”
Pelatihan selesai sekitar pukul 14:00. Makan siang menu flop dihidangkan.
12 Februari 2026
Gol A Gong
Traveler, Author



