Lantas apakah seorang calon presiden di Indonesia harus berumur tua? Tentu tidak. Namun melihat proses yang terjadi saat ini, ada salah satu paslon belum memiliki jam terbang yang luas tapi bisa lolos sebagai wakil calon presiden.

Lawan politiknya protes, hal itu tentunya mencoret citra pemerintah, bahkan ada yang menyebutnya dengan istilah politik dinasti. Padahal jika dicermati secara lebih dalam, di negeri kita ada adagium “pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan”.

Hal yang ditakuti oleh lawan politiknya adalah komitmen dan mentalitas pemuda tersebut kala menghadapi masalah besar, misalnya jika terpilih menang kemudian sang presiden meninggal. Kata para politikus lawan politiknya, “Masak kita dipimpin oleh presiden bau kncur? Bisa apa dia?”

Walau tak dapat dipungkiri, bisa saja dari pemuda tersebut muncul berbagai kreativitas dan inovasi baru yang mewarnai kehidupan bangsa. Selain itu, ia mungkin sengaja muncul menjadi bakal wakil presiden, sebagai upaya melanjutkan program yang sudah dijalani orang tuanya sebagai presiden yang belum selesai. Keberlanjutan itu yang mungkin sedang diusahakan beliau agar program-programnya tidak mangkrak.

Kita lihat saja, apaah pemuda mendapatkan tempatnya di pesta demokrasi ini walaupun data menunjukkan, pemilih usia muda sangat dominan.


