Kami berangkat pukul 22.00 WITA, waktu yang cukup malam untuk mendaki bukit. Dengan pencahayaan seadanya dibantu dengan pencahayaan dari handphone kami berjalan perlahan. 15 menit pertama tidak ada masalah, track belum begitu menanjak. Tetapi, di menit setelahnya, jalanan menuju puncak bukit lumayan ekstrem. Tanjakannya cukup terjal dan menantang, apalagi kami mendaki di malam hari dengan penerangan yang terbatas. Jadi, kami harus extra hati-hati.


Namun, rasa lelah setelah mendaki selama 1 jam terbayarkan ketika sampai di puncak Bukit Arang.
Pemandangan city light dari 2 kabupaten dan Kota Gorontalo sangat indah sekali. Lampu-lampu yang berkilau dan bintang-bintang di langit menambah syahdu suasana malam itu.
“Subhanallah, Luar biasa sekali pemandangannya, gemerlap cahaya lampu sangat memanjakan mata,” kataku spontan ketika melihat city light dari ketinggian 347 MDPL


Pemandangan Bukit Arang ini memang tidak bisa diragukan. Di tahun 2022 wisata ini masuk dalam 50 destinasi terbaik Anugrah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
“Pemandangan di Bukit Arang ini apik banget, fantastik dan sangat ikonik,” kata Menparekraf Sandiaga Uno ketika mengunjungi Bukit Arang tahun 2022.

Setelah melepas lelah, kami memasang tenda, dan menyalahkan api unggun. Suasana malam itu sangat hangat sekali. Bertukar cerita, berbagi pengalaman dan bernyanyi bersama sambil melihat city light yang memukau.
“Ah, syahdu sekali malam sabtu ku kali ini,” kataku dalam hati.

Besok paginya, aku dan teman-teman bangun dengan pemandangan yang tak kalah bagusnya. Kami disuguhkan dengan pemandangan Danau Limboto di sebelah barat dan perbukitan yang mengelilingi dengan embun yang menyapa di pagi hari.
Sayangnya, kami tidak bisa melihat matahari terbit secara langsung lantaran tertutup oleh bukit. Tetapi cahaya kuning kemerah-merahan tetap menghias langit. Sangat cantik sekali.


