Mengendarai roda dua dengan kecepatan 30 KM/jam, aku menikmati potret aktivitas manusia di setiap jalanan yang aku lalui. Mbak-mbak kantoran yang tak bergeming dari ponselnya di dalam angkutan umum, anak-anak sekolah yang di antar mas-mas ojek online, para penjual sarapan yang sibuk melayani pembeli, juga dua pak polisi yang sibuk memantau arus lalu lintas.
Pemandangan yang sangat biasa sebetulnya. Tak jauh berbeda seperti saat aku bermacet ria di jalanan Kota Serang. Namun, tentu hal ini menjadi pengalaman yang berbeda ketika aku menikmatinya di jalanan besar Kota Kembang.
Membaca petunjuk jalan dengan nama-nama daerah yang diawali kalimat ‘Ci’, melintasi kampus-kampus ternama, menjadikan pengalaman tak terlupakan saat kali pertama bermotoran di Ibu kota Jawa Barat.
Tak terlihat kemacetan di jalanan besar ini, namun baik kendaraan pribadi maupun angkutan umum cukup ramai, bergerak seolah ingin mendahului untuk segera sampai tujuan. Begitupun dengan aku, sesekali menyelip kesana kemari, mencuri ruang jalanan yang masih kosong.

Dengan bermodalkan petunjuk google maps, aku menambah kecepatan motor untuk segara sampai tujuan. Setiap kilometer yang dilalui memiliki daya tarik tersendiri. Sisi jalanan yang banyak ditumbuhi pohon pinus, ragam rekreasi keluarga dengan nuansa alam, warung jalanan yang menjual aneka oleh-oleh, dan tentunya tepat di depan mata pemandangan gunung yang hijaunya menyegarkan setiap pasang mata.
Semilir angin terus membelai wajah, menghadirkan kesejukan ditengah sengatan sang surya yang menari-nari di atas kepala. Seolah siap memanggang siapapun yang berada dibawahnya. Setelah melewati medan jalan yang naik turun, akhirnya sampai juga ditempat tujuan.
Taman Lembah Dewata, begitu rangkaian huruf timbul dengan warna merah menyala, sebagai identitas tempat wisata ini. Baru memasuki pintu masuk wisata ini, sepasang mata sudah disambut dengan bangunan gapura yang menjadi ciri khas pulau dewata. Didominasi dengan warna oranye, gapura dengan gaya Bali ini begitu mempesona menyambut pengunjung yang datang.
Tempat wisata ini buka setiap hari, mulai dari jam 09.00 WIB sampai dengan jam 18.00 WIB. Terletak di Jl. Raya Tangkuban Parahu KM. 3, RW 7, Cibogo, Kec. Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tak sulit bagiku untuk sampai ditempat ini.

Seperti tempat wisata berbayar pada umumnya, membeli tiket menjadi wajib hukumnya ketika akan memasuki suatu kawasan wisata tersebut.
Bangunan semacam pos yang hanya dapat dimasuki satu orang itu, menjadi tempat pembelian tiket di sana, jika biasanya kita membayar parkir saat akan keluar dari suatu lokasi, maka hal itu tak berlaku di sini.
Pengunjung harus membayar Rp20.000 untuk tiket masuk di hari kerja, dan Rp25.000 untuk tiket masuk di hari libur, sekaligus Rp5.000 untuk biaya parkir yang dibayarkan saat membeli tiket masuk. Sembari memberikan tiket masuk, lelaki yang ku tebak usianya 25 tahun itu mengarahkanku untuk memarkirkan motor di sebelah kiri, bersama barisan motor pengunjung lainnya yang terparkir di sana.
Hamparan luas yang berlaskan kerikil-kerikil yang diselingi rermputan kecil, juga beratapkan pepohonan, menjadi tempat untuk memarkirkan motor para pengunjung. Kurang dari sepuluh roda dua yang baru terparkir di sana. Aku sedikit ragu, apakah tempat ini tidak begitu menarik sehingga sepi pengunjung, atau memang karena aku mengunjunginya tepat di hari kerja, alias bukan di hari biasa orang-orang menggunakan waktu liburan.
Disambut ramah oleh mbak-mbak yang menjaga pintu masuk, aku diminta untuk menunjukkan tiket masuk. Dengan santunnya, ia menjelaskan bahwa tiket tersebut dapat ditukar dengan satu botol air mineral. Jika menginginkan minuman lain seperti es teh atau es lemon, kita pun dapat menukarkannya menggunakan tiket tadi, namun kita harus menambah Rp3.000- Rp5.000 untuk mendapatkan minuman tersebut.

Cuaca yang sangat mengundang dahaga, membuatku menjatuhkan es teh sebagai pilihan terbaik untuk membasuh kerongkongan ini. Tak, lupa totebag yang aku bawa juga diperiksa isinya oleh mba berbaju kotak-kotak tersebut.
Di tempat ini, pengunjung tidak diperbolehkan membawa baik makanan maupun minuman dari luar, begitu katanya. Untunglah, pemeriksaan tidak begitu ketat sehingga aku diperbolehkan untuk masuk. Padahal, didalam totebag ini ada beberapa gorengan sisa sarapan aku pagi tadi. Lumayan buat ganjal perut biar hemat, hehe.
Saat kali pertama menginjakkan kaki di tempat ini, aku disambut oleh kehadiran dua patung laki-laki dan perempuan lengkap dengan pakaian khas adat Bali, yang terletak di sisi kiri halaman utama, yang kira-kira tingginya tak lebih dari 100 cm.
Begitu menyapukan pandangan ke sekitar taman ini, rupanya hanya terdapat hitungan jari pengunjung yang sudah datang di sini. Sisanya, beberapa pegawai yang melakukan tupoksi kerjanya. Seperti mbak-mbak yang berbaju flanel yang sibuk mengecat patung-patung kecil dan miniatur candi borobudur. Dan mas-mas berbaju flanel juga yang sibuk menyirami ragam tanaman disana.

Sesuai namanya, tempat ini benar-benar menghadirkan nuansa Bali di tengah keindahan alam Kota Bandung. Di tanah yang luasnya kurang lebih 25 hektar ini, kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Danau Situ Pandawa, begitu nama danau yang berada di tengah taman ini. Dimana tepat di tengah danau ini terdapat bangunan tinggi dengan sepuluh tingkat atap yang berundak, khas icon pulau dewata .
Yah, pura namanya. Tak hanya itu, di sisi kiri dan kanan pura ini juga tedapat patung dewa-dewi dengan gaya yang menggambarkan sedang melakukan sebuah tarian. .
Semilir angin terasa begitu menyejukkan, menyapa lembut ke dalam pori-pori. Ditambah lagi dengan suara-suara yang dihasilkan oleh benda yang aku pun kurang tahu namanya, tapi bunyi-bunyian itu memang khas sekali seperti umumnya ketika berada di wisata pulau Dewata. Kain kotak-kotak dengan dua warna, hitam dan putih juga turut disematkan di beberapa pohon di sini, sehingga Bandung rasa Badung Bali benar-benar terasa sekali.



