Santri datang ke Banten Lama—menunjukkan akhlak kepada leluhurnya yakni mendoakan, sebab inilah etika yang diajarkan oleh guru-guru kami. Menghormati orang yang sudah wafat maupun masih hidup (sowan).

Sungguh religius sekali masyarakat Banten. Namun, kami selalu kecewa dengan pengunjung yang membuang sampah sembarangan, tidak terbib aturan, dan tentu saja yang menjadi sorotan utama kami adalah pengemis.
Pengemis dan tempat ziarah seolah tidak bisa dipisahkan. Sejauh pengalaman kami ziarah ke makam Sultan atau ulama pasti ada pengemisnya. Maksudnya, bukan hanya di Banten Lama saja, tapi di tempat lain juga banyak.

Banyaknya pengemis bagi kami sangatlah mengganggu kenyamanan, apalagi memintanya dengan cara memaksa. Berbagai macam modus dapat kami saksikan sendiri dengan mata kepala.
Ada yang manabuh kotak amal berukuran besar yang mengagetkan kami, ditambah sorotan matanya sangatlah sinis. “Dug.. dug.. dug.. dug!”—tidak jauh dari situ ada lagi pengemis dengan membawa gayung, mangkuk, dan di dalamnya sudah diisi uang receh. “Cring.. cring.. cring.. cring,” bunyi dari koin yang sengaja dimainkan.

Perpaduan antara tabuhan kotak amal dan uang receh dalam gayung, nampak seperti intro dangdut, “Dug.. cring.. dug.. cring.. dug-dug.. cring”. Maju lagi satu langkah, kami menemukan orang normal tetapi pura-pura cacat dengan melantunkan shalawat. Tubuhnya sengaja diringsekan seolah-olah tulangnya patah.

Kami memandangnya cukup prihatin, tetapi tidak marah kepada mereka. Kami marah kepada pemerintah, mengapa masih ada orang dengan profesi meminta-minta seperti ini? Apakah tidak diberikan pelatihan atau pekerjaan? Kok tidak ditertibkan sih? Padahal orang-orang seperti itu harus diurus oleh negara dalam hal ini Dinas Sosial. Semoga ada jalan keluarnya sehingga semua senang.

Pengalaman ini selalu mengingatkan saya ketika membaca buku Huston Smith dengan judul Agama-agama Manusia terbitan Serambi. Dalam buku itu ada kisah tentang Siddharta Gautama atau Buddha.

Ketika ia keluar istana menyaksikan kemiskinan yang sesungguhnya—ia melihat banyak pengemis, orang kelaparan, dan tentu saja kematian. Siddharta Gautama perihatin dan sampai akhirnya Mukso di pohon Bodhi. Apakah ada pemimpin sekarang yang demikian?

Jika merasakan kelaparan seperti yang dilakukan Budha sulit, maka ambillah kebijakan atau penertiban yang baik—bisa menghidupkan para pedagang, tukang parkir, dan mungkin tempat para pengemis diterbitkan.

Kami bukan tidak suka dengan ziarah, tetapi jika banyaknya oknum dan gangguan dari para pengemis yang sinis—ziarah sangatlah tidak nyaman.
Sekarang pilih saja. Merasakan lapar seperti Buddha atau membuat kebijakan yang adil dan membuat pengemis menjadi manusia pekerja. Itu PR-nya.*
*) Ma’had al-Jami’ah, 23 Juli 2020


