Oleh Muhzen Den
Dalam suasana berbuka puasa di hari kedua, tanpa sadar aku dan istri mendapatkan celetukan mengejutkan dari Aa Denji (anak pertamaku).
“Bu, puasa itu kejutan ya.” Aku dan istri awalnya tidak begitu notice dengan ucapan si sulung ini karena kita sedang asyik berbuka makanan. Namun, si sulung mengulang lagi celetukan mengejutkan itu.
“Kan, tadi Aa sebelum buka lemes banget. Terus di tenggorokan ini kayak haus dan pengin minum. Eh, setelah buka puasa semua terasa hilang.”
Mendengar celetukan itu aku dan istri sebenarnya belum siap, tapi lama-lama diperhatikan, ternyata si sulung tengah menganalisis makna menahan lapar dan haus selama dia berpuasa. Makanya, aku dan istri berupaya untuk menjawab dengan semampu kami tentang makna puasa.
“Iya, Aa. Puasa itu menahan dari lapar dan haus. Padahal kita cukup meminum seteguk air dan makan makanan manis saja sudah cukup. Tidak harus berlebihan,” kata istriku menimpali celetukan si sulung.
“Puasa itu ibadah yang pasif, Aa. Puasa itu tidak terlihat. Kita hanya diperintahkan untuk menahan hawa nafsu, menahan lapar dan haus mulai dari beduk subuh sampai beduk magrib. Puasa itu ibadah jumlah pahalanya hanya Allah SWT yang tahu. Jadi, puasa berbeda dengan ibadah-ibadah lain dari segi pahala,” jawabku dengan sebisa mungkin agar si sulung paham bahwa melakukan ibadah puasa pahalanya langsung dari Allah SWT tanpa kita ketahui jumlahnya.
Menurut laman islam.nu.or.id, dalam ajaran Islam, puasa menjadi sarana untuk mengarahkan seseorang pada kebaikan (tahzib), pembentukan karakter (ta’dib), serta latihan untuk menjadi manusia yang lebih baik (tadrib). Ketiga aspek ini bermuara pada tujuan utama, yaitu ketakwaan kepada Allah SWT. Ketika kita dilarang makan, minum, dan mengikuti hawa nafsu, sejatinya kita sedang melatih jiwa untuk lebih bersyukur terhadap nikmat Allah SWT, dan peduli terhadap sesama.
Dalam konteks kepedulian sosial, puasa mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Dengan merasakan lapar dan dahaga, kita jadi memahami kondisi mereka yang kekurangan sehingga tumbuh rasa empati dan keinginan untuk berbagi. Dalam Islam, berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan sangat dianjurkan.
Puasa membentuk kesadaran bahwa dalam rezeki yang kita miliki, terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan. Oleh karena itu, puasa juga mendorong kita untuk lebih dermawan dan peduli terhadap sesama.
Aku dan istri merasa bangga serta bersyukur ketika anak-anak kami yang secara usia masih belia bersemangat ikut berpuasa di bulan Ramadan ini. Aku dan istri tidak berekspektasi tinggi terhadap anak-anak yang berpuasa. Bagi kami, puasanya mereka di bulan suci ini adalah bagian dari pembelajaran terhadap rukun Islam yang ketiga.



