Ketika saya muda, jika di sebelah kanan atau mengenakan kemeja-blazer tangan panjang seperti tampak di foto, orang-orang tidak menyadari kalau tangan kiri saya buntung sesikut. …
Literasi Keluarga: Tangan Kiriku Oh Tangan Kiriku

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Ketika saya muda, jika di sebelah kanan atau mengenakan kemeja-blazer tangan panjang seperti tampak di foto, orang-orang tidak menyadari kalau tangan kiri saya buntung sesikut. …

Anak-anak yang bahagia adalah anak-anak secara sisi pemikiran dan jiwanya terpenuhi oleh orangtuanya.

Ternyata alasan menulis, baik diary maupun tulisan kreatif lainnya, selain dapat menyembuhkan juga bisa mendatangkan ekonomi.

Tanpa bermaksud menyombongkan diri, kuceritakan pengalamanku menyuguhkan bacaan pada anak-anak sejak dini

Beruntunglah saat memiliki ibu yang hobi membaca, dan kebiasaan itu menular pada cucunya.

Lima tips dari ahli Harvard untuk bantu orang tua mendidik anak agar tumbuh cerdas, tangguh, dan kritis sejak dini dengan pendekatan yang tepat dan ilmiah.

Di rumah, keempat toples kecil ini kusimpan di ruangan yang kondisinya mirip: tanpa AC, ruangan masih sering terbuka, suhu kamar yang cenderung lembab. Jadi bukan di ruangan yang selalu tertutup seperti lemari atau kotak, misalnya.

Belajar dari podcast Annisa Steviana, artikel ini membahas cara orang tua melatih anak menunda kesenangan dan menghadapi tantrum dengan empati dan strategi.

Waktu bergerak cepat. Terasa seperti hitungan detik. Bangun pagi, kita melihat anak kita masih perlu dituntun. Tiba-tiba besok pagi, mereka sudah berlarian. Hari lain, mereka pamitan pergi dari rumah untuk mengejar cita-cita.

Menjadi anak Gol A Gong dan Tias Tatanka. Tanpa berniat membeda-bedakan, aku sangat bersyukur dilahirkan dari mereka karena dengan metode yang digunakan, aku bisa menghargai manusia tanpa menyakiti perasaannya. Mungkin suatu saat nanti jika aku sudah menikah, metode ini akan aku gunakan untuk keluarga kecilku.

Kini, Senin 14 April 2025, untuk pertama kalinya saya memetik 2 buah jambu bol; satu untukku dan satu untuk istriku. Saya sangat menikmati buah jambu bol pertama. Enak. Manis. Segar. Alhamdulillah, saya merasa bahagia sekali. Memang belum lebat. Andai lebat, saya ingin seperti Pak Ayo dulu, membagi-bagikan ke tetangga seperti kita membagikan kurma sepulang dari haji.

Suami mengatakan lebih suka menggunakan momen makan bersama untuk membahas banyak hal. Sedangkan saya lebih suka momen makan bersama digunakan sebagai ajang bertemu dan saling tahu kabar. Dari dua hal itu akhirnya saya menerapkan jalan tengah. Suami masih bisa membicarakan hal-hal penting yang mungkin memunculkan konflik, tapi setelah makan selesai. Jadi momen yang cocok untuk menasehati anak, menegur kesalahan dan memeluk mereka adalah saat kami semua selesai makan.

Sampai ketika ia harus memutuskan pilihan sekolahnya, anak punya kriteria sendiri. Salah satu yang berusaha kami lakukan adalah berdialog dan berkomunikasi. Termasuk saat anak memutuskan sendiri, ia telah melewati diskusi bersama kami, orang tuanya.

Anak saya menyatakan pendapatnya tentang cita-cita, “Aku nggak cuma mau hidup, Yah. Aku mau hidup dengan cara yang bikin aku bangga dan bahagia. Aku udah bikin portofolio, ikut beberapa proyek freelance juga.”

Kadang kita ingin anak jadi dokter, insinyur, PNS, TNI, karena itu simbol kesuksesan di generasi kita. Tapi dunia sudah berubah. Anak mungkin ingin jadi desainer game, penulis puisi, fotografer, atau konten kreator. Tugas kita bukan mencetak anak jadi versi ideal kita, tapi membimbing mereka menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Al-Qur’an telah menyebutkan peran ayah dalam berbagai bagiannya, sepertiSurat An-Nisa ayat 176, Surat Thaha ayat 132, “Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya”.

Nah, jelas, ya. Allah memerintahkan agar manusia berjalan di muka Bumi untuk memperhatikan keindahan alam. Itu bagi saya sama saja dengan “traveling” atau “tadabur”. Dalam istilah lain: keliling dunia.