Sayap Itu Kata-kata

Saya mengingat-ingat foto di album Museum Literasi Gol A Gong. Foto ini diambil di Trans Mall, Surabaya, Agustus 2017. Saya dan keluarga Tour Gempa Literasi se-Jawa. Saya dan Tias menyetir mobil gantian, selama sebulan. Putri pertama tidak ikut, karena sibuk di kampusnya di Tiongkok. Putra kedua kami yang sekolah di Abu Dhabi pulang liburan dan nge-rap di setiap kota yang kami singgahi.

Hotel tempat kami menginap persis di depan Trans Mall. Kami refreshing, bersenang-senang setelah hampir 3 minggu di perjalanan, menempuh berbagai kota dari Serang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogya, Solo, Ngawi, Jombang, Mojokerto, dan Surabaya. Rasa lelah terobati dengan nonton, makan enak, ber-wefie-ria.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Gol A Gong: Dari Literasi Keluarga, Masyarakat, ke Digital

Gol A Gong atau Heri Hendrayana Harris di era pandemi Covid-19 lockdown atau work from home. Pada Juni 2020, setelah mempelajari literasi digital, bersama istrinya – Tias Tatanka, meluncurkan Kelas Menulis Gol A Gong secara online. Ada kelas novel best seller, kelas esai, dan kelas cerpen.

Gong mulai serius menekuni literasi baca dan tulis setelah tangan kirinya diamputasi pada 1974 (kelas 4 SDL I Serang, Banten). Dia merintisnya di keluarga. Literasi keluarga yang dibangun oleh Bapak dan emaknya sangat sehat. Setelah berlengan satu, ayahnya berpesan, agar dirinya membaca dan berolahraga. Jika melakukan dua kegiatan itu, maka dia akan lupa bahwa tubuhnya cacat.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Ruang Kerja Penulis Harus Berisi Buku

Inilah ruang kerja Gol A Gong di Museum Literasi Gol A Gong, Komplek Hegar Alam Nomor 40, Kota Serang 42118, Banten. Dipenuhi buku. Selain unsur intrinsik yang harus dipahami, unsur ekstrinsik penulis juga memegang peranan penting. Selain wawasan, kapasitas, integritas, dan kompetensi penulis, ruang kerja penulis juga sangat memengaruhi. Selain buku, tentu harus ada internet untuk riset pustaka. Situasi atau suasana seperti di perpustakana ini membuat si penulis nyaman. Dan jika membutuhkan referensi, tinggal mencari saja di rak buku. (Misteri GoKref)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Sepatu Gunung Untuk Traveling

Entah sudah berapa buah sepatu gunung kubeli. Ada yang kemudian aku jual di perjalanan, karena kehabisan uang, ada yang kuberikan kepada orang lain, sesuka hati saja. Tapi sekarang kedua anak kelakiku sudah besar. Terutama yang kuliah di Abu Dhabi – Gabriel Firmansyah, 21 tahun, jika liburan dan traveling, pasti memilih salah satu dari ketiga sepatu itu. Anak lelaki kedua – Jordy Alghifary sudah di kelas 2 SMA, mulai merencanakan traveling. Kita lihat saja nanti. Kini ketiga sepatu gunung itu aku simpan di Museum Balada Si Roy.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Putra KamiTidak Ingin Jadi Penulis

Saya paling senang menikmati foto putra kedua kami yang ditutupi scarf ini. Kata putra kedua kami, “Di balik scarf itu Aa senyum lho, Pah.” Saya membayangkan senyumnya yang misterius.

Menjelang subuh, Rabu 29 Juli 2020, saya kangen anakku. Dia sudah memutuskan tidak pulang ke rumah tetapi meneruskan kuliah di Abu Dhabi. Alhamdulillah, berkat do’a para sahabat semua, putra kami diterima di sebuah perguruan tinggi di Abu Dhabi Juli 2020 ini. “Empat tahun ke depan hingga 2024, Aa kuliah. Doakan, ya!”katanya saat video call.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Senyum Anak-anak Kita

“Bila seorang anak hidup dengan kritik, dia akan belajar menghukum.
Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, dia akan belajar kekerasan.
Bila seorang anak hidup dengan olokan, dia belajar menjadi malu.
Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, dia belajar merasa bersalah.
Bila seorang anak hidup dengan motivasi, dia belajar percaya diri.
Bila seorang anak hidup dengan dukungan, dia belajar menyukai dirinya sendiri.
Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan , dia belajar untuk mencintai dunia,” -―

👆Dorothy Law Nolte

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Ayo, Awali Hari Dengan Tersenyum dan Sarapan

Saya senang melihat (foto) orang sedang tersenyum. Rasanya hidup terbawa tenang dan damai melihat orang tersenyum. Saya yakin semua orang setuju dengan pendapat saya ini. Kata Kurnia Effendi – penulis, “Senyum menguatkan diri sendiri dan orang lain”.

Saya ingat sewaktu muda ditanya oleh banyak wartawan, “Bagaimana kamu memulai hari?”

Saya jawab dengan “Tersenyum dan sarapan!” Dua hal itu, memang, jadi modal kuat beraktivitas. Dengan tersenyum, saya merasa hidup bersemangat. Dengan sarapan, energi saya jadi berlebih. Saya sehat jiwa dan raga.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5