Literasi Keluarga: Dari PCR ke PCR untuk Bisa Kembali Kuliah di Tiongkok

Bismillah. Saya mau bercerita si sulung – Nabila Nurkhalishah Harris. Stelah melewati minggu-minggu berat dan penuh ketegangan, sampailah si sulung di tahap keberangkatan kembali ke asrama dan kampus di Sun Yat Sen University, Ghuangzhou, Tiongkok. Alhamdulillah. ❤️ PCR pertama, lolos, masuk karantina pertama di hotel Arcadia, Mangga Dua, Jakarta. Karantina 4 hari. PCR kedua, lolos. Dua temannya gugur. PCR terakhir, lolos juga. Berangkat ke Nanjing bersama 150-an mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari kampus-kampus ternama di Tiongkok pada Senin 3 Oktober 2022. Selamat berjuang menuntut ilmu. ❤️ >>> ke halaman berikutnya.

Literasi Keluarga: Hari Batik Setiap Hari

Oleh Tias Tatanka – Penulis cerita anak

Dari kecil udah lengket sama batik membuatku nggak merasa istimewa-istimewa amat dengan kain jenis ini. Justru merasa surprise ketika batik ada di mana-mana, bahkan di daerah yang semula nggak dikenal sebagai sentra batik jadi punya batik. Ya nggak apa-apa, selama itu memicu kreativitas sumber daya masyarakat setempat. Aku juga ketiban senang ketika mengenal motif batik dari seantero penjuru. Apalagi kalau hubby pulang dari tugas di daerah dan membawa oleh-oleh batik yang motifnya feminim, aku kan jadi kebagian jatah bikin baju. 😂 >>> ke halaman berikutnya. >>> ke halaman berikutnya.

Dua Anak Lelaki Kami Sekarang Meninggalkan Rumah

Selasa 13 September 2022, saya dan Tias ke Yogyakarta. Di Malioboro, kami melepas anak ketiga – Jordy Alghifari kuliah di Akademi Film Yogyakarta. Dan Senin 19 September, kami melepas anak kedua – Gabriel Firmansyah kembali ke Abu Dhabi. Gabriel sudah sejak 2012 sekolah kelas 5 SD di Abu Dhabi. Alhamdulillah, masih bertahan dan lolos hingga kuliah.

Gabriel da Jordy -mereka dua anak lelaki kami. Sekarang mereka pergi meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu. Gabriel ke Abu Dhabi, Jordy ke Yogyakarta. Anak pertama – Nabila Nurkhalishah sedang mengurus visa, kembali ke Ghuanzhou, Tiongkok, untuk meneruskan kuliah. Selama pandemi, Tiongkok tertutup karena pandemi Covid-19.

Di rumah nanti tinggal si bungsu – Natasa Harris yang sudah mulai belajar menulis. Natasa sedang senang mereview cafe dan film.

Begitulah keempat anak kami mulai menemukna minatnya. Kami sebagai orangtua hanya menemani, mendorong, dan mengikuti.

Gol A Gong

Ayo, Kita Berolahraga agar Jasmani Kita Kuat

Happy sunday! Ayo, berolahraga! Allah senang dengan tubuh hambanya yang sehat. Qawiyyul Jismi, jasmani yang kuat. Sebuah Hadis Riwayat Muslim mengatakan:

Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah”.

Itu sebabnya Bapak menyuruhku berolahraga. Jika tubuhku sehat, maka jiwaku kuat. Dengan begitu: aku lupa bahwa aku hanya berlengan satu! Bonusnya, jika kita komitmen dan konsisten berolahraga, maka prestasi akan kita raih.

Inilah yang dinamakan literasi keluarga. Peran ayah sangat kuat sehingga anak-anaknya memiliki arah yang jelas dalam mengarungi hidup ini. *

Gol A Gong

Sampai Jumpa Lagi, Nak!

Malioboro jadi saksi
bagaimana perasaan kami
Ayah dan ibu
melepasmu pergi

seperti nyanyian pedagang
yang beberapa tahun lalu
tertawa bahagia
di angkringan
saat lesehan

Melepasmu pergi
di pagi Malioboro
yang sepi dari bunyi
sendok garpu beradu

*) Maliooro 13 September 2022

Di Meja Makan: Sepatu Gunung Untuk Traveling

Entah sudah berapa buah sepatu gunung kubeli. Ada yang kemudian aku jual di perjalanan, karena kehabisan uang, ada yang kuberikan kepada orang lain, sesuka hati saja. Tapi sekarang kedua anak kelakiku sudah besar. Di meja makan, mereka sering kuingatkan tentang pentingnya melindungi kaki dengan bersepatu.

Terutama yang kuliah di Abu Dhabi – Gabriel Firmansyah, 213tahun, jika liburan dan traveling, pasti memilih salah satu dari ketiga sepatu itu. Anak lelaki kedua – Jordy Alghifary sudah kuliah di Akademi Film Yogyakarta 2022 ini, mulai merencanakan traveling. Kita lihat saja nanti. Kini ketiga sepatu gunung itu aku simpan di Museum Literasi Gol A Gong.

Di Meja Makan: Senyum Anak-anak Kita

“Bila seorang anak hidup dengan kritik, dia akan belajar menghukum.
Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, dia akan belajar kekerasan.
Bila seorang anak hidup dengan olokan, dia belajar menjadi malu.
Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, dia belajar merasa bersalah.
Bila seorang anak hidup dengan motivasi, dia belajar percaya diri.
Bila seorang anak hidup dengan dukungan, dia belajar menyukai dirinya sendiri.
Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan , dia belajar untuk mencintai dunia,” -―

👆Dorothy Law Nolte

Tentang Rumah oleh Tias Tatanka

Aku taburkan rumput di halaman belakang
di antara pohon lengkeng dan mangga
sudah tumbuhkah bunganya?

aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak
di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung
karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh
melihat angkasa dan bintangbintang
dari atap rumah kita

aku akan ceritakan kelak pada anakanak
tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah
aku ajari anakanak mengerti hijau rumput
warna bunga dan suara

Rumah Dunia, 1996

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)