Puisi Esai Gen Z: Di Bawah Angka Tukar yang Melemah Karya Khalidah Abdullah

Berita lemahnya rupiah terus menghantui setiap hari. Banyak impian yang mulai gentar, banyak akar ekonomi dan niat yang mulai melemah, banyak bangunan mimpi dan masa depan cerah mulai runtuh.

Tapi, dengan puisi ini, semoga kita semua bisa bertahan dari kesulitan yang tengah dialami. Serta selalu yakinlah bahwa badai dan kesulitan akan segera berlalu, tantangan ekonomi akan kita lewati bersama dan menjadi kisah pilu yang penuh tawa saat kita mengenang di masa tua nanti:

https://www.kompas.id/artikel/rupiah-tembus-rp-17900-sampai-kapan-terus-beginihttps://www.kompas.id/artikel/rupiah-tembus-rp-17900-sampai-kapan-terus-begini

I. Radar Cemas Yang Berbunyi Keras
Di layar ponsel ayahku,
angka-angka itu kembali jatuh—
rupiah melemah, katanya,
seolah negeri ini adalah tubuh renta
yang pelan-pelan kehilangan darah.

Warung-warung kecil mulai menaikkan harga,
ibu-ibu menghitung belanja sambil menahan cemas,
dan para pekerja pulang membawa pundak
yang semakin berat setiap malam.

Aku mendengar berita ekonomi
seperti mendengar ramalan cuaca buruk:
tidak langsung membunuh,
tetapi cukup untuk membuat banyak orang
tidur dengan gelisah.

Di grup keluarga,
paman-pamanku mulai membicarakan harga beras,
biaya sekolah,
dan tagihan yang datang
lebih cepat daripada gaji bulanan.
Tidak ada yang benar-benar panik,
tetapi semua orang mulai berhitung lebih hati-hati.

II. Paradoks Yang Mencekik
Di pasar, seorang ibu menawar cabai
dengan suara lirih yang nyaris patah.
“Turun sedikit bisa, Pak?
Anak saya belum gajian.”

Pedagang itu diam lama,
lalu menggeleng pelan.

Bukan karena ia tak iba,
melainkan karena hidupnya sendiri
sedang megap-megap di tengah kenaikan harga.

Minyak goreng naik,
gas naik,
ongkos kendaraan ikut naik,
sementara keuntungan jualannya
tidak pernah benar-benar bertambah.

Negeri ini penuh orang baik
yang sama-sama tidak punya pilihan.

Mereka bukan pemilik saham besar
atau orang-orang yang muncul di televisi
untuk bicara soal pertumbuhan ekonomi.

Mereka hanyalah rakyat kecil
yang setiap hari berusaha bertahan
agar dapur tetap menyala.

III. Saat Langkah Banyak Tak Menutup Kemungkinan Bertahan
Aku melihat ayahku pulang lebih malam.
Tagihan listrik naik,
harga barang naik,
biaya hidup naik,
tetapi upah banyak orang
tetap diam di tempat seperti jam rusak.

Kadang ia duduk lama di ruang tamu
sambil menatap layar berita tanpa suara.
Di wajahnya ada lelah
yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Sementara itu,
anak-anak muda mulai menunda mimpi:
kuliah yang terlalu mahal,
rumah yang terasa mustahil,
dan masa depan yang makin sulit dijangkau
dengan isi dompet seadanya.

Kami tumbuh di zaman
ketika bekerja keras
tidak selalu berarti hidup layak.

Banyak orang seusiaku mulai takut bermimpi terlalu tinggi,
karena bahkan untuk hidup biasa saja
rasanya sudah melelahkan.

IV. Ketika Keberkahan Bukan Lagi Soal Berapa Banyak Yang Dipunya
Namun, anehnya,
di tengah rupiah yang melemah,
aku masih melihat orang-orang berbagi.

Tetangga mengirim lauk ke rumah sebelah,
ibu menyisihkan uang receh untuk kotak amal,
dan para mahasiswa tetap mentraktir temannya
meski saldo rekening tinggal sedikit.

Di media sosial,
orang-orang saling berbagi informasi diskon,
lowongan kerja,
dan tempat makan murah
agar orang lain bisa sedikit bernapas lebih lega.

Barangkali bangsa ini bertahan
bukan karena ekonominya selalu kuat,
melainkan karena rakyat kecilnya
terbiasa saling menopang
saat keadaan nyaris runtuh.

Sebab di negeri ini,
kepedulian sering kali tumbuh
justru ketika keadaan sedang sulit-sulitnya.

V. Harapan Yang Redup Tidak Pernah Padam
Malam ini layar televisi kembali bicara
tentang kurs dolar dan ketidakpastian global.

Tetapi di luar sana,
ada ayah yang tetap berangkat kerja sebelum matahari muncul,
ada ibu yang tetap memasak dengan bahan seadanya,
dan ada anak-anak muda
yang diam-diam terus percaya
bahwa hidup harus diperjuangkan
meski angka-angka tidak berpihak kepada mereka.

Sebab barangkali,
yang paling kuat dari negeri ini
bukan nilai tukarnya—
melainkan rakyatnya
yang berkali-kali jatuh
tetapi belum benar-benar menyerah.

Dan selama masih ada orang-orang
yang memilih bertahan di tengah kesulitan,
membantu satu sama lain meski sama-sama kekurangan,
serta tetap menyalakan harapan
di tengah berita ekonomi yang muram,
mungkin negeri ini belum sepenuhnya kalah.

Tentang Penulis:

Seorang penulis muda pemiliki blog www.khalidaoway.blogspot.com yang gemar menuangkan keresahan, harapan, dan realitas kehidupan ke dalam puisi bernuansa melankolis. Melalui tulisan-tulisannya, ia berusaha menangkap suara-suara sederhana tentang bertahan hidup di tengah dunia yang semakin melelahkan. Baginya, sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cara untuk merawat empati dan menjaga harapan tetap menyala.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==