Oleh: Annafi Kirana
Saat melihat judul buku ini, ekspektasi cerita yang melintas di pikiran saya adalah kisah tentang hubungan keluarga yang tidak harmonis. Namun, saat membaca premisnya, ternyata dugaan saya salah besar.
Surat dari Bapak mengisahkan tentang Farhan, mahasiswa tingkat pertama di Universitas Impian Raya (UIR), yang mendapat kejutan hadiah mobil atas pencapaiannya masuk ke universitas ternama. Senang? Pasti dong! Begitu juga pacarnya sejak SMA, Linda.
Tapi, kehidupannya nggak semulus kain sutra. Setelah mendapatkan hadiah mobil, ia kerap diteror di akun media sosialnya. Beberapa “akun kardus” melabeli Farhan sebagai anak koruptor.

Rumor bahwa bapaknya Farhan seorang koruptor semakin berkembang akibat nyinyiran akun-akun kardus itu. Lalu, bagaimana Farhan menyikapinya?
Intrik yang ada antara tokoh utama bermula dari hadiah mobil yang menurut Farhan agak berlebihan. Mengingat jabatan bapaknya tidak terlalu tinggi, ia berusaha untuk tidak berprasangka buruk. Tapi, hal itu malah membuat saya ikut suudzon.
“Nyogok berapa bisa diterima di UIR?”
“Dengar-dengar mobilnya ada tiga?”
Serbuan komentar pedas di media sosial membuat Farhan tidak tenang. Apalagi, orang-orang di sekitarnya juga membaca komentar tersebut. Tekanan batin semakin mengganggunya.
Selain dihantui gempuran akun kardus, hubungan cintanya dengan Linda juga memburuk. Sosok Linda yang manja dan mau menang sendiri sukses membuat saya geregetan saat membaca novel ini. Ditambah lagi, lisannya yang tajam membuat Farhan semakin pusing—dan saya yang membaca buku ini makin gondok.
“Sejak kamu diterima di UIR, waktu buat saya udah nggak ada!”
“Sekarang segalanya serba UIR!”
Walaupun begitu, untungnya Farhan memiliki lingkungan yang baik dan suportif. Di sela kegundahannya akibat komentar akun kardus, ia berkesempatan berkenalan dengan perempuan yang lebih kalem dan pengertian dibanding Linda. Namanya Siti.
Farhan adalah sosok laki-laki yang pengertian sekaligus tekun, yang membuatnya berwawasan luas. Mulai dari bisnis, sejarah, lingkungan kampusnya, hingga tetek-bengek korupsi di negara ini.
Kegundahannya akibat serangan akun kardus membuat Farhan browsing berita tentang korupsi yang rentan terjadi di lingkungan kerja bapaknya. Setelah mengolah informasi, Farhan pun semakin waspada.
Bapaknya Farhan yang bekerja sebagai kepala sekolah memiliki tiga mobil dan dua rumah serta bisa berangkat naik haji bersama ibunya. Hal ini makin membuat Farhan gusar.

Untungnya, ia bisa bertukar pikiran dengan Siti mengenai hal ini. Setelah tahu cerita suram Siti di masa lalu, Farhan semakin gelisah. Walaupun begitu, Siti selalu memberikan dukungan untuknya.
Selain menceritakan keseharian Farhan, novel ini juga mengingatkan kita pada kasus korupsi yang ada di sekitar kita. Dijelaskan pula bagaimana korupsi terjadi di lapangan, terutama di dunia pendidikan, yang ternyata… yah, begitulah.
Penulis novel ini, Gol A Gong, secara halus mendeskripsikan dampak buruk penggunaan uang yang bukan haknya. Salah satunya dengan menggambarkan perubahan sikap tokoh bapak sepanjang cerita yang menjadi… sombong setelah pulang ibadah haji. Hmm…
Surat yang ditulis oleh bapak untuk Farhan memberikan kesan bittersweet, membuat saya berpikir: apakah para pelaku korupsi di luar sana bisa berpikir dan bersikap seperti bapaknya Farhan?
Saya menyelesaikan novel ini dalam dua hari. Bahasa yang digunakan sederhana. Walaupun ada bagian yang membahas intrik politik dengan bahasa formal, Gol A Gong mampu menyajikannya dengan bahasa yang mudah dicerna. Membuat saya bisa menikmati buku ini sambil duduk santai atau selonjoran.
Detail Buku
Judul: Surat dari Bapak
Penulis: Gol A Gong
ISBN: 978-602-216-028-1
Kategori: Fiksi, Kisah Inspiratif
Penerbit: Puspa Swara
Bahasa: Indonesia
Buat yang ingin membaca kisah inspiratif atau mengajarkan anak remaja tentang dampak buruk korupsi, saya sangat merekomendasikan buku ini! Dengan sudut pandang Farhan yang masih remaja, pembaca muda lebih mudah memahami intrik ceritanya.
Tentang Penulis

Annafi Kirana lahir di Jakarta pada 6 Mei 1994. Hobi gemar membacanya dimulai dari membaca komik. Saat membaca atau menulis, ia suka ditemani instrumen musik bossanova dan lo-fi. Genre favorit bacaan dan tontonannya adalah slice of life, komedi, dan horor. Gemar menulis di blog pribadi: https://suika-lovers.com.



