Oleh Akmal Nasery Basral*
Apa yang terasa sulit, bahkan tidak mungkin, 2-3 tahun lalu, hari ini bisa dilakukan semudah menjentik jari tangan. Misalkan menciptakan lagu dengan aransemen lengkap, atau film pendek, kini bisa dilakukan dalam hitungan detik dengan asistensi aplikasi kecerdasan buatan yang disebut AI (Artificial Intelligent)
Menulis cerpen atau buku? Gampang sekali. Seorang penulis senior pernah bilang kepada saya bahwa saat dia sakit dan harus bed rest beberapa hari, hasilnya justru sebuah buku baru setebal 200-an halaman. Kok bisa? Kenapa tidak bisa? Dia gunakan “khodam” istimewa bernama AI. Setelah buku selesai, dia buka dompet elektronik (e-wallet) bagi yang ingin mengunduh PDF buku barunya itu. Bayar seikhlasnya.

Yang lebih absurd, kita bisa mempertemukan diri kita saat ini dengan diri kita saat kecil, melalui dua foto. Lalu, sim salabim, dalam hitungan embusan napas kedua foto bisa berpelukan. Foto masa kecil bisa diganti dengan foto ayah atau ibu yang sudah wafat, atau tokoh idola yang untuk bertemu saja tidak mungkin dalam kehidupan nyata, seperti Lionel Messi atau Taylor Swift misalnya.
Jika beberapa contoh ini sudah mencengangkan, jangan lupakan satu hal: ini baru awal sihir AI dalam merevolusi dunia. Kemampuannya akan terus berlipat ganda seiring perjalanan masa. Menyenangkan? Atau malah menakutkan? Keduanya bisa terjadi, tergantung siapa yang menggunakan dan untuk niat apa. Sebab, secanggih apapun kemampuan AI sejatinya hanya alat belaka.

Lazimnya terjadi pada setiap tren baru, reaksi publik adalah eforia. Orang berlomba-lomba untuk menyesuaikan diri dengan kemampuan memanfaatkan AI Dari yang FOMO alias sekadar supaya terlihat nggak ketinggalan jaman, sampai yang benar-benar menjelajahi potensi A.I. untuk dimonetisasi, menghasilkan cuan.
AI membuat proses literasi konvensional (membaca dan menulis) terasa semakin purba. Bayangkan, jika membaca sebuah buku ratusan halaman membutuhkan waktu berjam-jam, dengan bantuan AI ikhtisar isi buku bisa dibaca tak lebih dari 5 detik. Jika untuk menulis sebuah novel dibutuhkan waktu berpekan-pekan sampai berbulan-bulan (kadang ada yang sudah bertahun-tahun masih belum selesai juga), dengan campur tangan AI novel bisa selesai dalam hitungan hari. Kecepatan menjadi sangat signifikan.

Tetapi di sini jugalah masalahnya. Kecepatan tak menjamin kedalaman. Sebuah buku yang dihasilkan seorang penulis dengan bantuan AI mungkin bisa penuh data karena kemampuan AI dalam memanfaatkan Big Data yang berlimpah ruah di dunia maya. Tetapi tanpa perenungan yang memadai dari sang penulis, hasil akhirnya bisa sangat menjadi ensiklopedis atau semacam katalog saja.
Sebuah lukisan yang diciptakan dengan AI terlihat memukau dari komposisi warna dan struktur estetika. Namun bagi mata yang ahli, lukisan seperti itu seringkali kosong tanpa emosi sang pelukis.
Akan tetapi menghindari AI sepenuhnya juga bukan sebuah tindakan bijak. Apalagi bagi Gen Y/milenial (kelahiran 1981 – 1996) dan generasi sesudahnya. Berbeda dengan Gen X (kelahiran 1965 – 1980) yang saat ini umur termuda mereka 45 tahun dan paling tua 60 tahun dan besar dalam tradisi non-digital, Gen Y dan sesudahnya adalah generasi yang terbiasa berkecimpung dalam logika digital sejak mereka lahir.

Maka dalam arus deras peradaban global yang semakin canggih, kehati-hatian dalam menyikapi tsunami AI bukan saja dibutuhkan, melainkan menjadi lebih penting dari sebelumnya, seperti saat komputer pribadi (PC/personal computer) menjadi tren baru di era 80-an. (*)
*Penulis adalah penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional dari Universitas Andalas, dan Anugerah Penulis Nasional 2021 kategori fiksi dari Perkumpulan Penulis Nasional SATUPENA.


