Kita ambil beberapa contoh definisi wanita sholehah dari para ulama terkemuka, Ibnu Katsir menafsirkan bahwa perempuan (istri sholehah) adalah yang taat kepada suami, memelihara diri dan harta suaminya ketika suami tidak ada di sampingnya. Menurut Syekh Hatim Al-Asham wanita sholehah memiliki rasa takut kepada Allah, kekayaannya ialah sifat Qona’ah (merasa cukup) dengan apa yang sudah diberikan Allah, perhiasannya adalah sifat dermawan dengan apa yang dia miliki, penghambaanya ialah baik dalam melayani suami, pikiran atau cita-citanya ialah mempersiapkan kematian.

Lantas, apakah untuk mencapai maqom wanita sholehah ini bisa dilakukan oleh semua wanita? Jawabannya bisa. Selagi ada niat ikhlas, tekad kuat, komitmen dan keyakinan untuk terus berbuat baik dan menjadi baik. Semua wanita bisa meraih kategori tersebut. Namun pertanyaannya apakah bisa dilakukan dengan mudah dan instan? Tentu tidak. Ada banyak proses yang perlu dilewati baik segi lingkungan, pertemanan dan keluarga.
Wanita sholehah akan berusaha mencari lingkungan baik, positif dan menginspirasi untuk terus berbenah diri kepada Tuhan yang Agung. Ia akan menghindari ruang tercela seperti kumpul kebo, kumpul gosip, joget-joget dan lain sebagainya. Sebab lingkungan menentukan value (kualitas) manusia, lingkungan juga sangat berdampak untuk mental dan cara pandang seseorang dalam melihat dunia. Contoh kecil tempat-tempat baik seperti pesantren, sekolah, majlis ta’lim, lembaga pendidikan non formal (taman baca, taman qur’an, taman anak-anak, dan sebagainya), komunitas sosial, dan masih banyak yang lainnya.
Dari segi pertemanan, ia akan mendekati orang-orang yang memiliki satu tujuan yang sama. Tujuan untuk meraih ridho dan kasih sayang dari Tuhan yang Esa. Teman yang baik akan selalu mengajak kepada kebaikan, memberi nasehat dengan positif, menegur keburukan tanpa menghakimi pribadi seseorang, dan saling membantu dalam keadaan suka atau duka. Hal ini tentu prosesnya sangat panjang, sebab menilai karakter dan sifat seseorang tidak mudah. Ia harus berdampingan dan beriringan sampai faham sendiri mengenai temannya.

Namun dari kedua penjelasan di atas, keluarga lah yang paling menentukan seorang anak akan menjadi wanita sholehah atau tidak. Orang tua berperan penting untuk mendidik, mengarahkan dan memberi masukan kepada anak. Terlebih orang tua harus memberi contoh baik agar anak tidak salah dalam memilih pergaulan atau pertemanan. Terlepas dari peran orang tua, anak juga harus senantiasa berbakti dan taat kepada keduanya. Taat dalam hal-hal yang baik, tidak bertentangan dengan syariat agama.
Wanita sholehah tidak hanya melulu seorang istri/perempuan yang sudah berumah tangga. Sejak dini, remaja hingga dewasa karakter tersebut harus dibentuk sebaik mungkin. Sehingga ada genggaman atau keyakinan yang kuat, tidak goyah atau bimbang ketika menghadapi perkara sulit yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Wanita sholehah akan melahirkan generasi hebat, berkualitas dan bermutu untuk umat. Maka jadilah wanita sholehah wahai anda di mana pun berada!
MN Fazri/Foto Diambil dari situs https://pixabay.com/id/images/search/muslimah/



