Saat Pandemi Menyapa Cinta

Pandemi Covid-19 ini hampir melumpuhkan semua sendi kehidupan. Hal ini justru memberi inspirasi kepada 25 orang untuk menulis cerita pendek dengan latar cerita wabah itu. Alhamdulillah antologi cerpen “Saat Pandemi Menyapa Cinta” (Gong Publishing, Oktober 2020) ini selesai juga. Mereka tergabung dalam Kelas Menulis Cerpen Gol A Gong.

Proes pengumpulan cerpen ini sejak bulan Juli 2020. Mereka tertarik melihat antologi cerpen “Peti Mayat Koruptor” (Gong Publishing, 2019). Kemudian muncul ide menulis cerpen bertemakan pandemi Covid-19. “Editornya Ardian Je,” kata Tias Tatanka, PJ Antologi Cerpen.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Kelas Menulis Online Gol A Gong Solusi di Era Pandemi Covid-19

Saat saya mendarat di bandara Cengkareng dari perjalanan Gempa Literasi di Kubu Raya dan Pontianak, Kalimantan Barat, awal Maret 2020, kenyataan yang harus saya hadapi: 4 kegiatan pelatihan saya dibatalkan karena lockdown atau work from home. Itu artinya dana untuk 2 bulan ke depan hilang. Saya berpikir keras: bagaimana caranya mencari uang halal untuk menafkahi keluarga! Kepada Allah SWT saya mengadu, “Saya tidak mau diberi label ‘penulis yang terdampak Covid-19’ dan mendapat bantuan dana dari pemerintah. Saya masih memiliki modal tubuh dan otak yang sehat. Beri saya solusi, ya Allah!”

Sambil menulis novel “Lelaki di Tanah Perawan”, saya bersama istri mencoba mengamati fenomena yang ada di Indonesia. Literasi digital! Sedang terjadi migrasi dari offline ke online. Semua sibuk wbinar denan zoom! Kami menemukan realita bahwa: ada 370 juta unit handphone beredar di Indonesia! Sedangkan jumlah penduduk 260 juta jiwa! Surplus! Pertanyaannya: digunakan untuk apa HP itu?

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Testimoni Kelas Cerpen Gol A Gong

Terima kasih buat Bang Yayank Maulana sudah memberi saya wadah mengembangkan sayap. Tidak luput, saya juga mengingatkan tugas dari Pak Golagong Penulis. Jangan alasan lupa sebab umur. Eeeh. Sejak dimulai dengan ucapan salam dari Pak Guru (Gol A Gong), tangan saya gemeteran. Mau ngetik takut terpeleset jarinya.

Saya pikir Kelas Menulis Gol A Gong secara online akan se-formal menghadapi team Audit dan HRD yang lagi gelisah, eeeeh. (Curcol) Ternyata, kelasnya sangat asik dan tidak membuat muka ketat. Saya ikut Kelas Cerpen. Melalui penjabaran yang sangat mudah ditangkap. Mestinya kami tidak kewalahan. Hanya saja malas berfikir(sepertinya) terutama saya.

Detail sekali mengoreksi tugas kami sebagai muridnya. Rasanya belum percaya ditarik ke dalam kelas itu. Semoga, bisa menyerap ilmu dari beliau. Pelan tapi pasti. Terimakasih Yama Publisher. (Ica Sembiring)

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Kelas Menulis Gol A Gong Untuk Agenda September 2020

Kelas Menulis Gol A Gong secara online dimulai 5 Juni 2020. Kelas cerpen terdiri dari dua kelas, yaitu Kelas Cerimis (Cerpen Dinamis) kemudian berlanjut ke Kelas Certalik (Cerpen Bertabur Konflik). Begitu juga di Kelas Novel Best Seller berlangsung dua kelas. Juni hingga Agustus 2020 berlangsung lancar. Jika ingin bergabung kontak WA 0819 06311 007.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Kelas Menulis Gol A Gong, Memperbaiki Kesalahan Dasar Menulis Cerpen dan Novel

Kelas Menulis Gol A Gong yang selama pandemi Covid-19 ini secara online, alhamdulillah direspon dengan baik. Untuk Kelas CERIMIS (Cerpen Dinamis) sejak 7 Juni hingga 17 Juli sudah 12 angkatan, klan lanjutannya CERTALIK (Cerpen Bertabur Konflik) 4 angkatan. Kelas Novel Best seller 5 angkatan. Untuk kelas Cerpen dibatasi maksimal 21 orang, Kelas novel best seller 7 orang/angkatan.

Istimewanya apa? Saya juga tidak tahu. Sarananya juga hanya lewat Group WA. Kita tidak saling tatap, hanya bikin “rusuh” saja di group WA, saling balas komentar, kirim emoticon, seperti di kelas anak-anak nakal. Secara spontan saya mengumpulkan celetukan mereka di group. Silakan membacanya:

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Praktik Menulis Certalik di Kelas Menulis Gol A Gong

Jum’at, 17 Juli 2020, saya jadi Pak Guru Online di Certalik Kelas Menulis Gol A Gong. Apa itu Certalik? Kelas lanjutan cerpen, setelah Cerimis (Cerpen Dinamis) ke Kelas Certalik, yaitu Bertabur Konflik angkatan ke-3. Lebih banyak praktik menulis, yaitu mengerjakan tugas membuat sinopsis dan menulis kalimat pembuka dengan konfliknya.

Kelas CERTALIK tadi malam dimulai pukul 19.30. Selesai 22.30. Sekarang sedang membuat cerpen 3 babak. Tadi premis sudah. Kini lagi pusing membuat sinopsis babak pertama harus dengan konflik dan plot point di ending babaknya. Praktik, praktik menulis lebih utama di sini. Teori paling 30%.

“Wah, selama ini teknik menulis saya cenderung ‘sinopsis’, tidak ‘menunjukkan’. Pembaca saya beri tahu terus, tidak saya beri kesempatan membangun imajinasi!” begitu seorang peserta nyeletuk.

Fotonya sedang tersenyum menggunakan kaos Kelambi Kite punya Mang Ovie kuh. Ihuh! Nehnik Boss!

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Tubin, Tema Lomba yang Tidak Biasa

Saya paling takut menulis cerita pendek kemudian di tengah jalan si pembaca menggreutu, “Ah, endingnya udah ketebak!”

 Jika pembaca (seperti saya) mengulas sebuah cerpen, bagaimana pun subjektivitas mendominasi. Apalagi saya bukan kritikus sastra tetapi pembaca, jadi lebih banyak sok tahunya ketimbang mengerti . Jadi ulasan saya ini – katakanlah lebih pada saling bertukar pengalaman saja. Belum tentu juga cerpen-cerpen saya bagus. Menjadi pengulas tentu lebih menyenangkan, bukan?

Nah, mari kita mengulas keempat cerpen di bawah ini. Saya, kok, merasa sedang duduk di kursi pesakitan, mendengarkan 4 orang bercerita tentang “tubin” alias “empat hari kemudian”. Sebagai pembaca, saya tidak diberi kesempatan untuk membangun imajinasi sendiri. Kalau dalam istilah kernnya: plese, don’t tell, but show!

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5