Tubin, Tema Lomba yang Tidak Biasa

Saya paling takut menulis cerita pendek kemudian di tengah jalan si pembaca menggreutu, “Ah, endingnya udah ketebak!”

 Jika pembaca (seperti saya) mengulas sebuah cerpen, bagaimana pun subjektivitas mendominasi. Apalagi saya bukan kritikus sastra tetapi pembaca, jadi lebih banyak sok tahunya ketimbang mengerti . Jadi ulasan saya ini – katakanlah lebih pada saling bertukar pengalaman saja. Belum tentu juga cerpen-cerpen saya bagus. Menjadi pengulas tentu lebih menyenangkan, bukan?

Nah, mari kita mengulas keempat cerpen di bawah ini. Saya, kok, merasa sedang duduk di kursi pesakitan, mendengarkan 4 orang bercerita tentang “tubin” alias “empat hari kemudian”. Sebagai pembaca, saya tidak diberi kesempatan untuk membangun imajinasi sendiri. Kalau dalam istilah kernnya: plese, don’t tell, but show!

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Tentang Nama Tokoh dan Setting Lokasi Dalam Cerpen-cerpen 30 Hari Menulis

 Saya acungkan jempol kepada Komunitas “Nulis Aja Dulu”, yang dengan brilliant menyodorkan tema “Tubin”. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia “tubin” berarti “empat hari ke depan”. Mungkin selama ini kita lebih sering mengatakan “lusa” atau “minggu depan”. Akibatnya justru positif, tema “aneh” itu membuat para peserta “30 Hari Menulis” kreatif dalam menyusun alur cerita. Saya sendiri belum tentu berhasil menulisnya.

Sebelum saya mengulas cerpen-cerpennya, saya ingin membagikan pengalaman saya dalam menulis cerpen. Tahap pertama yang saya lakukan adalah riset (lapangan dan pustaka) menggunakan 5 W plus 1 H. Fase kedua, sebelum menuliskan cerpenya, peristiwa atau fakta itu saya endapkan dulu, lalu saya olah dengan imajinasi menggunakan unsur intrinsik. Terakhir, swa sunting. Kelemahan saya itu di kelima jari saya yang mengalami “disleksia” alias sering typo dan sering “mengabaikan kaidah bahasa” (lisensi puitika). Saya menulis menggunakan rasa, sehingga “jeda” sangat saya utamakan. Saya sesukanya saja menyimpan koma atau titik. Kadang kata sambung saya letakkan di depan.

***

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Hey, Penculik Anak! Kamukah Itu?

Saya membacai cerpen dengan tema “Penculikan Anak”. Kemudian ada semacam persyaratan lain, yaitu dalam bentuk premis yang tidak biasa (premis biasanya satu kalimat) atau bisa juga kita sebut sinopsis: Kau adalah siswa kelas tiga SD. Sepulang sekolah, saat berjalan kaki bersama temanmu, kau melihat dua orang berpakaian serba hitam, menculik seorang anak kecil. Ayo selamatkan dia! Tentu temanya menantang. Tapi “premis” itu bagi penulis yang sedang belajar adalah bukan sekadar tantangan tapi bisa membuat mereka “terbelenggu” atau malah “menjadi kreatif”?

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Tersesat di Hutan, Tersesat di Dunia Nyata

Ketika membacai cerpen-cerpen dengan tema “tersesat di hutan” saya membayangkan akan ada banyak kisah “survivor”. Hanya satu cerpen yang mewakili keinginan saya. Sebetulnya tema “tersesat di hutan” sangat menarik. Tetapi para penulis cerpen “menyerah” dengan tema yang sangat menantang itu. Mereka lebih menyukai menggunakan POV 1 (aku) ketimbang menjadi orang lain di dalam tokoh cerpen.

 Saya membayangkan dengan tema “tersesat di hutan” akan muncul sub plot survivor (penyintas), mitos, dan ending mengejutkan (twist). Harapan itu saya temukan di 3 cerpen dengan judul: Suara-suara yang Datang Ketika Sendiri, 720 Hours, The Mystery of Amazon. Ketiga cerpen ini masih “dikelola” dengan baik dan masih mementingkan “logika cerita”.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Membacai Cerpen “30 Hari Menulis” di Group FB Nulis Aja Dulu, Tema Cerita Masih Tempelan

“Menulis itu bukan sekadar melamun tetapi adalah melakukan kerja-kerja intelektual,” aku selalu mengingatkan para peserta Kelas Menulis Gol A Gong. Kenapa aku mengatakan itu, karena kebanyakan menganggap begitu.

Nah, itu saya temukan ketika membacai cerpen-cerpen dengan “tema tertentu” di ajang 30 Hari Menulis di group FB Nulis Aja Dulu, aku melihat para penulis berada di seberang tema itu. Tidak berani masuk menyelami satu tokohnya. Menulis cerpen atau novel hakekatnya adalah “proses menjadi orang lain”.Terasa sekali mereka “melamun”. Apakah mereka tidak melakukan riset pustaka atau riset lapangan sebelum menulis? Dari bukti cerpen yang aku baca, indikasi ke sana ada.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5