TBM Gapagoo Manokwari Ikuti Dua Kegiatan Bimtek Literasi

Bimtek Revitalisasi Bahasa Hatam merupakan salah satu upaya untuk menyiapkan tenaga Guru Utama yang diberikan tugas melestarikan Bahasa Hatam. Kegiatan ini dipusatkan di Swiss-Bel Hotel Manokwari Senin sampai Kamis, 27-30 Mei 2024.

Sebanyak 32 peserta dari unsur pengawas sekolah, guru, pegiat literasi, lembaga adat hadir dalam kegiatan tersebut. Bagi Kabupaten Manokwari Bahasa Hatam dipilih oleh Balai Bahasa Papua untuk dilakukan revitalisasi agar tidak punah, hal tersebut karena Bahasa Hatam mulai jarang digunakan anak-anak karena tidak diturunkan oleh orang tuanya.

Menurut Yohanes Sanjoko ketua panitia bahwa bahasa ibu terancam tidak digunakan dalam keluarga ketika orang tua mereka pindah ke kota, tapi bahasa ibu cenderung masih aman karena dipergunakan di lingkungan kampung tempat penuturnya tinggal.

“Saya mengajak bapak-ibu untuk tetap mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak kita walau sudah menetap di kota,”ujar Yohanes dihadapan kepala Dinas Pendidikan Kab.Manokwari, Martinus Dowansiba yang turut hadir membuka kegiatan tersebut.

Martinus Dowansiba juga menyambut dengan baik upaya yang dilakukan Balai Bahasa Papua yang telah memilih Bahasa Hatam untuk direvitalisasi. Martinus menyampaikan bahwa Papua secara umum memiliki bahasa ibu paling banyak di Indonesia, bahkan antar kampung sudah bisa berbeda bahasa, ujar Kadis Pendidikan Kabupaten Manokwari tersebut.

Menurut data Kemdikbudristek bahwa ada 326 bahasa tersebar di Tanah Papua. Selama tiga hari tersebut para peserta dilatih untuk membuat konten dua bahasa, Indonesia dan Bahasa Hatam, sepeti membuat cerita pendek, puisi, dan komedi tunggal yang didampingi Insum Malawat selaku narasumber, diharapkan peserta dapat mengembangkannya di tempat masing-masing.

Antonius Maturbongs tim dari Balai Bahasa mendukung upaya TBM Gapagoo untuk membuat buku-buku usia PAUD dengan dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Hatam. Beberapa waktu lalu TBM Gapagoo sempat membuat buku cerita bergambar berbahasa Indonesia dan Bahasa Sougb Suku Arfak. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung revitalisasi bahasa daerah.

“TBM Gapagoo sudah mencoba melakukannya, salah satunya membuat cerita fable berbahasa Sougb dan Bahasa Indonesia, cuma karena mahalnya ongkos produksi menerbitkan dan mencetak, sehingga buku tersebut diperbanyak terbatas serta belum memiliki ISBN, ke depan TBM Gapagoo akan menjadi rumah produksi untuk buku bacaan Berbahasa Hatam”ujar saya kepada Antonius Maturbongs yang juga mengembangkan buku-buku bacaan usia dini berbahasa Papua di kantornya.

 Secara bersamaan TBM Gapagoo juga mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Bimtek Strategi Pengembangan Perpustakaan TIK  yang diadakan oleh Perpustakaan Provinsi Papua Barat yang diadakan di Hotel Fujita 29-31 Mei 2024. Karena kegiatan ini juga bersamaan dengan jadwal saya di Swiss-Bel Hotel Manokwari, maka saya menugaskan istri saya (Mellya Sartika) yang juga pengelola TBM Gapagoo. Kegiatan ini merupakan upaya yang sangat penting untuk mendorong kapasitas TBM.

Terpilihnya TBM Gapagoo karena salah satu TBM yang direkomendasikan menerima Bantuan Bahan Bacaan Bermutu dari pemerintah tahun 2024. Pada kegiatan tersebut sebanyak 17 peserta dari berbagai daerah di Provinsi Papua Barat diberikan sosialisasi penguatan budaya baca dan literasi melalui Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

“Saya mendorong TBM di desa-desa untuk meningkatkan pelayanan perpustakaannya dalam memperkuat kecakapan literasi, kegiatan bisa dengan mengembangkan fungsi lain dari TBM yang tidak hanya sebatas tempat membaca, tapi bisa dengan menyusun program-program yang bisa menyasar masyarakat di lingkungan sekitar,”ujar Barnabas Dowansiba, Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Papua Barat.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==