Oleh Agus Helfi Rahman
Apa yang bisa kita ungkapkan ketika cinta — rindu, kasmaran, renjana, bunga-bunga, senja, rembulan, malam, bintang, cemburu , patah hati, luka, hilang, kenangan– tak lagi menjadi sumber inspirasi dalam menulis sajak? Haruskah penulis ‘memaksakan diri’ berpuisi tentang cinta?


Halaman: 1 2

