Periksa lagi. Apakah bisa ke draft kedua, fokus dengan tema cerita. Bergeser besoknya draft ketiga untuk Alur ceritanya tanpa plot, hanya telling saja tak ada showing? Apakah sudah nyaman dibaca dengan perpaduan telling dan showing?

Draft keempat, periksa lagi plot pointnya, draft kelima setting waktu dan lokasinya, ke-enam kuat tidak karakter tokohnya dengan membedahnya, lanjutkan dialognya. Terus, konfliknya? Satu-satu diperkuat.

Jadi, kita bolak-balik dari bab 1 ke ending dengan panduan unsur intrinsiknya. Terus begitu, sampai kamu merasa puas. Jangan kaget, ketika dibaca sudah draft 12 dan memakan waktu berbulan-bulan. Tidak apa-apa. Ingat, “Tidak ada karya yang bagus tanpa melewati proses revisi berkali-kali.”

Novel Balada Si Roy risetnya 6 tahun (1981-87), saya tulis juga 6 tahun (1988-94). Hingga usia 32 tahun masih dibaca dan difilmkan.

Rata-rata novel saya yang lain risetnya setahun, dituliskan di antara setahun dua tahun. Jadi, menulis itu butuh kesabaran. Tempuh proses kelahiran “bayi pertama” ini.
Selamat menulis. Tetap semangat.
Salam pena
Gol A Gong


