Traveling: Berkemah di Pulau Merak Kecil

Oleh Siti Sutiawati – Peserta Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan 41

26 Desember 2023, pagi-pagi sekali sekitar pukul 5.30, aku berdiri di sebrang jalan Pasar Baros. Sesekali aku mengusap-usap lengan karena udara dingin. Aku akan memulai perjalananku menuju Pulau Merak Kecil. Aku sudah janji untuk bertemu temanku, Salsa di Stasiun Rangkasbitung.

Aku menaiki angkot warna hitam, arah Serang menuju Pandeglang. Setelah 15 menit sampailah aku di Pasar Pandeglang. Setelah turun dari angkot dan membayar ongkos sebesar Rp8.000, aku berjalan bak altet jalan cepat, mencari angkot bertuliskan Pandeglang – Rangkas. Angkot-angkot warna biru itu berjejer tanpa penumpang.

Seorang lelaki berteriak “Ke mana, Neng? Rangkas?” tanyanya sambil menunjuk salah satu angkot.

Langsung saja aku masuk dan duduk di ujung dekat jendela. Harus sabar menunggu, angkot baru akan berangkat jika penumpang sudah penuh. Angkot Pandeglang – Rangkasbitung berhenti di Terminal Mandala, dengan tarif Rp15.000. Perjalanan ditempuh sekitar 40 menit.

Selanjutnya aku menaiki angkot berwana merah, arah Stasiun Rangkasbitung. Ongkosnya Rp5000. Di tengah kepanikanku takut ketinggalan jadwal kereta, angkot yang kutumpangi malah mogok. Kami para penumpang yang sedang diburu waktu langsung turun.

Aku yang kebingungan, memutuskan untuk melanjutkan perjalananku dengan menaiki ojek saja, dengan ongkos Rp10.000. Sebenarnya lebih efisien jika langsung naik ojek pangkalan dari terminal mandala ke stasiun, cukup dengan tarif Rp15.000 saja.

Sesampainya di Stasiun Rangkasbitung, aku melihat pesan ternyata temanku yang dari Jakarta akan datang terlambat. Sambil menunggu aku berlari kearah loket penjualan tiket, lagi-lagi aku dibuat terkejut. Ternyata tiket kereta lokal seharga Rp3000 tujuan Merak sudah habis, tersisa jadwal pukul 16.00 WIB. Tentu saja itu terlalu sore bagiku.

Aku berdiri kebingungan. Di tengah keraiman para penumpang kereta yang lalau lalang, terlihat sekumpulan gadis, menunjukan wajah sama denganku. Iseng aku berbincang dengan salah seorang dari mereka. Namanya Wana. Ternyata benar saja, sama denganku mereka juga kehabisan tiket tujuan Merak.

Di tengah kebingungan mencari solusi, sopir angkot menghampiri. Menawarkan pada kami Rp80.000 per orang untuk langsung sampai ke Merak. Namun, kami memutuskan untuk sama-sama naik grab saja. Patungan lebih murah. Akhirnya temanku tiba, aku memberitahukan bahwa rencana kami akan sedikit berubah. Aku dan temanku akan ikut rombongan Wana naik grab. Tarif grab kena Rp70.000 per orang karena kami patungan.

Tibalah kami di lokasi, memasuki sebuah gang kemudian terlihat sebuah dermaga kecil. Kami naik kapal boat menuju pulau Merak Kecil, Rp30.000 per orang. Kapal ini hanya berangkat dua kali dalam sehari, pagi dan sore hari.

Wah laut biru sepanjang mata memandang. Indah sekali.

“Selamat menikmati!” Ucap Bang Kobar kepada kami saat turun dari kapal boatnya.

Sesampainya di Pulau Merak Kecil kami menuju tempat penjaga pantai. Bagi pengunjung biasa dan berkemah dikenakan tarif berbeda, karena kami mau berkemah jadi kami harus membayar Rp20.000 per orang. Kebetulan sedang masa liburan sekolah jadi pengunjungnya ramai sekali. Kalau ingin menikmati pemandangan alam dan hunting foto, sebaiknya jangan datang ketika liburan sekolah.

Aku dan temankupun berpisah dengan Wana dan rombongannya. Aku dan Salsa berkeliling mencari lokasi yang cocok untuk berkemah. Lumayan susah ternyata, karena setiap sudut pulau pasti ada pengunjung. Terlihat beberapa orang mendirikan tenda di atas tebing bebatuan. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sana juga. Sedikit panas jika siang hari, tapi kalau malam bisa melihat langit bertabur bintang-bintang.

Selesai mendirikan tenda kami istirahat, beberapa orang menghampiri lalu menyodorkan selembar menu. Ternyata kami bisa memesan makanan atau minuman, tinggal mengirim pesan pada nomor yang tertera. Pesanannya akan langsung dibawakan ke tempat kita berada.

Jadi kalaupun lupa membawa bekal makanan atau minuman, tidak perlu khawatir. Warung-warung mereka ada di bawah, dekat pantai. Tapi mereka hanya buka dari pagi sampai sore, sekitar jam empat sore mereka pulang meninggalkan pulau. Setelah beristirahat sebentar aku turun ke bawah untuk salat. Di sana tersedia musala yang cukup luas.

Menjelang sore aku merasakan hal yang tidak beres. Perutku melilit, sakit rasanya. Untung saja di pulau ini tersedia kamar mandi yang cukup banyak, walaupun harus tetap mengantre. Aku bolak balik kamar mandi beberapa kali. Di perjalanan menuju tenda tidak sengaja aku bertemu seekor monyet, aku sedikit berlari menghindar karena takut.

Senja sudah mulai muncul mempertontonkan kecantikannya. Namun, sayangnya aku tidak bisa menikmatinya, perutku masih terasa meilit. Benar-benar diluar dugaan memang. Temanku memasak ditemani kilauan senja yang menerpa tenda kami. Kebetulan temanku membawa peralatan untuk berkemah sangat lengkap, termasuk alat-alat masak dan perbekalannya.

Aku sedikit kecewa kenapa sakitnya datang tiba-tiba, tapi mau bagaimana lagi. Selesai masak dan makan malam, kami langsung tidur. Tengah malam aku terbangun, lagi-lagi aku ingin ke kamar mandi. Aku duduk, melihat temanku sedang tidur pulas. Aku tidak tega membangunkannya hanya untuk menemaniku ke kamar mandi.

Aku beranjak dari tenda, berjalan sedikit ke arah laut. Indah juga suasana malam, lampu-lampu kapal besar terlihat dari kejauhan. Aku turun ke bawah sendirian, melihat sekeliling dengan waspada. Sepi sekali, tidak ada orang. Hanya ada beberapa orang yang sedang terlelap di tendanya masing-masing. Lokasi kamar mandi cukup jauh dari tendaku, berada di ujung pulau. Aku menyusuri hutan yang cukup rimbun, menerjang pekatnya malam. Bermodalkan HP sebagai alat penerangan. Untung saja aku masih ingat rutenya, kalau lupa bisa gawat.

Mataku fokus ke depan, kakiku terus berjalan. Sesekali terdengar suara “Kressekk” dari balik pepohonan. Aku cukup berpikir positif, mungkin itu suara hewan penghuni hutan. Asalkan bukan ular ataupun monyet yang kutemui tadi siang, tidak apa. Namun, sejauh ini aman, aku terbangun beberapa kali tengah malam untuk ke kamar mandi dan tidak menemukan apa-apa.

Pagi harinya kami bangun, lalu seperti biasa, memasak dan menikmati sarapan sambil melihat kapal-kapal besar berlalu-lalang. Saling mengantre teratur di jalurnya, persis seperti mobil-mobil di jalan raya.

Pemandangan yang menarik, baru pertama kali aku lihat. Suasana pulau masih sepi, aku masih bisa menikmati suasana hening dan damainya alam saling berbisik merdu.

Selesai sarapan kami mencuci piring di pinggir laut, terlihat orang-orang sudah mulai ramai mengambil foto. Temanku merasa tidak mau melewatkan moment itu juga.

“Ayo kita ambil beberapa foto juga buat kenang-kenangan,” ajak Salsa.

Karena kondisiku yang memang tidak fit kami tidak bisa mengambil banyak foto dan video. Tapi setidaknya sudah ada beberapa sebagai bukti perjalanan. Matahari mulai naik, pulau sudah ramai kembali. Berbeda dengan tadi malam.

Kami segera membongkar tenda dan bersiap-siap untung pulang. Bang Kobar dengan kapal boatnya sudah menunggu di tepi pantai, saatnya jadwal penyebrangan pagi. Kamipun meninggalkan pulau. Di atas kapal, sesekali aku melihat ke arah Pulau Merak Kecil. Sungguh indah dan berkesan. Pengalaman pertama bagi kami, dua orang perempuan ternyata bisa berkemah dengan aman dan nyaman.

Semoga di lain hari kami bisa kami bisa kembali ke pulai ini lagi. Nah, bagi yang tertarik untuk berkemah, Pulau Merak Kecil bisa menjadi salah satu destinasi pilihan.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==