Traveling: Mengunjungi Yogyakarta Tempo Dulu di Museum Benteng Vredeburg

Oleh Diasti Sukma Ekasanti

Yogyakarta merupakan kota wisata yang menawarkan segudang pilihan objek wisata yang beragam dan menarik. Salah satunya adalah Museum Benteng Vredeburg yang dibuka kembali pada Juni 2024 dengan wajah baru setelah menjalani proses revitalisasi. Museum sejarah perjuangan bangsa Indonesia ini menjadi salah satu objek wisata yang saya pilih untuk menghabiskan waktu bersama sahabat ketika akhir pekan datang kembali.

Saya dan sahabat saya pergi menuju Museum Benteng Vredeburg menggunakan mobil pribadi. Dari Universitas Gadjah Mada, hanya diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai museum tersebut. Setelah melewati Tugu Jogja dan Jalan Mangkubumi, kami hanya perlu menyusuri Jalan Malioboro hingga kemudian melihat bangunan benteng di sisi kiri.

Selain menggunakan kendaraan pribadi, lokasi museum yang sangat strategis itu juga dapat dicapai menggunakan bus Trans Jogja. Terdapat tiga halte yang terletak dekat dengan pintu masuk museum yang dapat digunakan sebagai tempat pemberhentian, yaitu Senopati 1, Senopati 2, dan Malioboro 3.

Gerbang Barat Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Terdapat dua pintu masuk museum yang dapat diakses pengunjung. Pengunjung yang datang setelah berjalan-jalan di Jalan Malioboro dapat mengakses pintu masuk barat. Berhubung kami datang menggunakan kendaraan, kami masuk lewat pintu masuk selatan yang terhubung dengan area parkir. Area parkir di museum ini cukup luas dan mampu menampung mobil dan motor.

Untuk bisa masuk lingkungan museum, kami perlu membeli tiket pengunjung terlebih dahulu. Karena saat itu termasuk akhir pekan, kami perlu membayar Rp25.000,00 untuk satu orang dewasa. Kalau kami berkunjung di hari kerja, biaya tiketnya hanya Rp15.000,00 untuk satu orang dewasa. Tiket untuk anak-anak lebih murah lagi, yaitu Rp10.000,00 untuk Hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis (hari kerja) serta Rp15.000,00 untuk Hari Jumat, Sabtu, dan Minggu (akhir pekan).

Setelah membeli tiket, kami memperoleh karcis tiket berisi keterangan waktu pembelian dan QR code. QR code inilah yang digunakan untuk membuka portal sehingga kami bisa masuk lingkungan museum. Pembayaran tiket di museum ini dilakukan secara elektronik. Selain dengan membeli tiket secara online di laman resminya, pengunjung dapat menyiapkan mobile banking untuk memindai QRIS yang ditunjukkan oleh petugas di loket tiket.

Begitu melewati dinding benteng yang melingkari museum ini, kami disuguhi oleh bangunan-bangunan lama yang terlihat sangat indah dan terawat. Sebagian besar bangunan memiliki tinggi hingga dua lantai, namun tidak seluruhnya dibuka dan dapat diakses oleh pengunjung. Pada dinding setiap bangunan terdapat papan nama yang juga memuat deskripsi dan gambar kondisi bangunan tersebut pada zaman pemerintahan kolonial Belanda.

A building with a sign and a small plant

AI-generated content may be incorrect.
Suasana Taman Patriot

Semakin dalam kami memasuki lingkungan museum, semakin jauh pula perjalanan kami kembali ke masa lalu. Tak hanya bangunan, kami juga menjumpai sebuah taman yang didesain secara estetik, Taman Patriot namanya. Di taman tersebut terdapat tempat duduk dan dinding melengkung yang memuat informasi seputar para pahlawan. Kami memutuskan untuk membeli minuman yang dijual pada kedai yang berada di samping taman tersebut. Hanya dengan Rp10.000 kami dapat menikmati minuman sambil beristirahat sejenak di taman tersebut.

Setelah menghabiskan minuman, kami melanjutkan kunjungan dan memasuki masing-masing ruang pameran yang terdapat di museum ini. Terdapat empat ruang pameran tetap yang kami kunjungi, yaitu Diorama 1, Diorama 2, Diorama 3, dan Diorama 4. Setiap ruang pameran tersebut menyajikan koleksi bertema sejarah Indonesia yang bertempat di Yogyakarta dengan kurun waktu yang berbeda-beda.

Suasana Area Dalam Benteng

Menurut sahabat saya yang merupakan orang asli Jogja, interior pada setiap ruang pameran juga ditata ulang dan sangat berbeda dari kondisi sebelumnya. Desain interior saat ini memang terkesan lebih modern dan membuat pengunjung lebih tertarik untuk mengaksesnya, tak seperti kondisi sebelumnya yang terkesan menyeramkan karena nuansa bangunan tua yang sangat terasa.

Masing-masing ruang pameran juga dilengkapi dengan teknologi modern. Saat memasuki ruang pameran, kami dikejutkan oleh pintu otomatis yang terbuka sendiri ketika kami mendekatinya. Selain mengamati masing-masing koleksi diorama yang menggambarkan suatu peristiwa bersejarah, kami juga menyempatkan diri bermain Magic Wall, yaitu sebuah media interaktif yang mengeluarkan gambar dan suara ketika disentuh. Ada juga Motion Comic, yaitu ruang dengan dinding yang didesain timbul dan berpetak-petak menyerupai panel komik dengan video yang terproyeksikan pada permukaannya.

Motion Comic di Diorama 2

Setelah menghabiskan waktu di ruang pameran dari siang hingga sore hari, kami kemudian menjelajahi setiap sudut lingkungan museum. Banyak ruang terbuka yang telah ditata ulang menjadi lebih estetik dan sangat menarik untuk diabadikan dalam bentuk foto. Pemandangan yang indah juga menjadi salah satu daya tarik yang dapat dinikmati ketika mengakses lantai 2 benteng.

Pada salah satu sudut benteng, yaitu di anjungan tenggara, terdapat panggung yang dilengkapi dengan bangku-bangku yang dapat diakses oleh pengunjung. Dari tempat tersebut, kami dapat melihat indahnya pemandangan Titik Nol Kilometer Yogyakarta beserta bangunan-bangunan lama di sekelilingnya. Perpaduan antara fasad gedung BNI, kantor pos, dan Bank Indonesia dengan langit sore yang berwarna jingga memberikan kesan romantis yang tak terlupakan.

Setelah matahari tenggelam, museum ini menyuguhkan atraksi lain yang tak kalah menarik. Para pengunjung yang tengah berada di lingkungan museum diundang untuk datang ke area jembatan dan kolam barat. Setelah pengelola museum memberi sambutan singkat, Pertunjukan Air Mancur Tirta Abirawa dimulai.

Gerakan air mancur yang diiringi lantunan musik dan permainan cahaya, dilatarbelakangi gerbang dan bentangan dinding benteng yang kokoh, menambah kekaguman saya pada museum ini. Para pengunjung juga terlihat sangat menikmati dan selalu merekam pertunjukan tersebut menggunakan smartphone-nya.

Suasana Pertunjukan Air Mancur Tirta Abirawa

Setelah pertunjukan di area depan museum selesai, para pengunjung berbondong-bondong kembali menuju area dalam benteng. Suasana malam semakin ramai diiringi suara merdu dari plaza tengah. Pada ruang terbuka tersebut, Pertunjukan Panggung Musik Musikoloji tengah berlangsung untuk menghibur para pengunjung yang melakukan kunjungan di malam hari. Pada akhir pekan, museum ini memang buka lebih malam, yaitu hingga pukul 21.00.

Fasilitas yang lengkap turut berperan dalam membuat pengunjung betah berlama-lama di museum ini. Kalau pengunjung merasa haus ataupun lapar, ada Kafe Rustenburg dan Vredemart yang menawarkan minuman dan makanan ringan. Pengunjung yang ingin membeli buah tangan juga dapat mengakses toko souvenir yang menjual pernak-pernik khas Benteng Vredeburg maupun khas Jogja.

Selain itu, terdapat dua musala yang dapat diakses oleh pengunjung muslim untuk menunaikan salat. Museum ini juga memiliki beberapa toilet yang dapat dengan mudah dijumpai oleh pengunjung. Tak hanya itu, pengunjung yang smartphone-nya tiba-tiba mati juga dapat menggunakan fasilitas pengisian daya di selasar Diorama 1.

Suasana Plaza Tengah di Malam Hari

Setelah puas menjelajahi lingkungan museum, kami memutuskan untuk pulang. Sama seperti pintu masuk, pintu keluar museum juga terdapat di sisi barat dan selatan museum. Pengunjung yang memarkirkan kendaraannya di area parkir perlu membayar biaya parkir secara elektronik terlebih dahulu untuk dapat mengakses pintu keluar. Setelah itu, petugas keamanan akan menunjukkan jalan dan pengunjung dapat meninggalkan lingkungan museum dengan aman.

Tentang Penulis:

Diasti Sukma Ekasanti adalah seorang penulis yang berfokus pada isu-isu arsitektur dan pariwisata. Ia mulai giat menulis sejak berkuliah di Program Studi Arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Karyanya telah dipublikasikan di berbagai media daring maupun majalah. Melalui tulisannya, ia berharap dapat menginspirasi pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Ketika membaca traveling tadi, saya lebih terkesan dengan suasana jogja, seakan akan saya berada di kotanya, dan jogja pun tak kalah dengan kota lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==