Ulasan Komang Sujana tentang Buku Aku dan Duta Baca

Di antara suara-suara itu, bunyi notifikasi pesan WA juga terdengar. Saya segera mengambil gawai dari saku celana. Ternyata ada pesan baru dari kontak tanpa nama. Dari foto profilnya, bisa dipastikan pemiliknya adalah seorang kurir aplikasi pengiriman barang.

Tidak pesan suara, bukan juga pesan teks. Si Kurir hanya mengirimkan satu pesan gambar. Ya, foto gambar paket. Setelah saya cermati, tertulis nama pengirim Gol A Gong, Duta Baca Indonesia (DBI) 2021-2025.

“Sepertinya ini paket buku yang saya tunggu-tunggu dari Mas Gong,” pikir saya. Saking senangnya seketika itu saya langsung menelepon kurir untuk memastikan kapan paket akan dikirim.

“Paket akan segera saya antar dari kantor Penarukan, Pak,” kata Kurir dengan sopan. Sembari menunggu dengan tak sabar, saya lalu melanjutkan mendampingi anak-anak ekstrakurikuler kidung belajar menembangkan kidung Kawitan Warga Sari. Sambil juga berharap kurir datang lebih cepat.

Pukul 09.45 WITA, kurir tiba di halaman depan SMP Negeri 2 Sawan, Buleleng, Bali. Saya segera menghampirinya. Dia melempar senyum lebar sembari menyiapkan paket. Tak meleset. Dugaan saya benar. Paket itu adalah paket buku yang saya tunggu-tunggu. Akhirnya buku Aku & Duta Baca karya Gol A Gong dkk., (Perpusnas Press, 2024) sampai di tangan saya, Jumat, 8 November 2024.

Saya sungguh bahagia. Sebahagia kurir yang telah menunaikan satu dari sekian pekerjaannya mengantarkan paket hari itu. Bagaimana tak senang, esai sederhana saya menyempil di antara 40 esai pada buku yang ditulis oleh pegiat literasi dari Sabang—Merauke ini. Sebut saja, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., Plt. Kepala Perpusnas RI, Heri Hendrayana Harris yang akrab disapa Gol A Gong, Sastrawan,
DBI, dan penulis 125 lebih buku, Maman Suherman, penulis penerima penghargaan Literacy Promoter IKAPI Awards 2024, Benny Arnaz, sastrawan dan penerima Nugra Jasa Dharma Pustaloka 2023, dan masih banyak lagi.

Komang Sudarmini, S.Pd., M.Pd., Kasi Kesejahteraan Penghargaan dan Perlindungan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Kesharlindung) Disdikpora Kabupaten Buleleng sedang membaca buku Aku dan Duta Baca.

Buku ini adalah hasil sayembara menulis tanggapan tentang Duta Baca Indonesia 2021-2025 serta harapan untuk Duta Baca Indonesia selanjutnya yang diselenggarakan oleh Gol A Gong. Mengapa Gol A Gong menginisiasi buku ini? Seberapa besar peran duta baca untuk pemajuan Indonesia?

Duta baca bukan sekadar simbol. Ia punya peran penting sebagai inspirator, motivator, fasilitator, dan bahkan katalisator yang aktif dalam upaya meningkatkan budaya baca dan literasi untuk kemajuan kesejahteraan dan kualitas hidup bangsa Indonesia. Bukankah bangsa yang membaca akan menciptakan bangsa yang tenang, tidak grasak-grusuk, memiliki kepekaan dan kesadaran, serta kuat menghadapi
perubahan zaman, seperti kata pemerhati pendidikan, Indy Hardono?

Nah, buku ini adalah rumusan standar seorang duta baca. Seperti apa standar ideal duta baca itu? Cukupkah duta baca hanya gemar membaca? Prof. E. Aminudin Aziz dalam pengantar buku ini mengatakan, bahwa duta baca adalah agen perubahan. Duta Baca Indonesia dan Duta Baca Daerah (DBD) harus memiliki komitmen untuk menumbuhkan minat baca dan budaya literasi di kalangan
masyarakat. Lantas kompetensi literasi yang seperti apa yang harus ditumbuhkembangkan?

Literasi tak sekadar kemampuan mengingat dan memahami, alih-alih menerima informasi begitu saja. Prof. E. Aminudin Aziz menyebutnya literasi yang sia-sia, literasi yang tak berdampak positif. Lebih lanjut, menurutnya literasi itu kemampuan yang komprehensif mencakup lima hal, yaitu kemampuan untuk membaca dengan kritis, mendengarkan dengan seksama, berbicara dengan bijaksana, merasakan
dengan empati, dan bekerja dengan ikhlas (hal. xxi—xxii).

Tugas yang tak mudah. Ini tantangan untuk para duta baca saat ini dan selanjutnya. Tapi seperti kata pepatah Latin, Nil Voluntibus Arduum, yang artinya tidak ada yang tidak mungkin bagi yang memiliki kemauan. Lantas modal apa yang harus dimiliki oleh duta baca untuk dapat menunaikan tugas mulia itu?

Untuk meningkatkan kapasitas DBI selanjutnya dan DBD, kata Gol A Gong, setidaknya ada lima pilar yang wajib dimiliki oleh duta baca, yaitu bergabung dengan komunitas khususnya komunitas literasi, program yang jelas, karya untuk meningkatkan kepercayaan orang, personal branding memanfaatkan medsos, dan
jejaring yang luas untuk saling berbagi dan berkolaborasi dengan komunitas, pegiat literasi, lembaga pendidikan, dan lain sebagainya (hal. 4—6).

Ya, sebagai DBI, Gol A Gong telah membuktikan diri mampu menjadi inspirator dan fasilitator dalam meningkatkan budaya membaca dan menulis dengan tagline “Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat”. Ia mewujudkannya melalui program Gerakan Indonesia Menulis, Safari Literasi, Celemek Ajaib Paman Gong untuk PAUD/TK, serta Hibah Buku Nusantara yaitu gerakan menyumbang buku untuk taman bacaan.
Bahkan sebelum menjadi DBI, seperti yang diceritakan oleh pegiat literasi, Djoe Taufik, Gol A Gong sudah blusukan ke pelosok daerah di Jawa Barat melalui program Gempa Literasi bersama Komunitas Rumah Dunia (hal. 180)—komunitas literasi yang ia dirikan bersama istrinya, Tias Tantaka, awal tahun 2004 di Serang, Banten. Rekam jejaknya dapat dilihat di laman resmi medsosnya, seperti @golagong dan
golagongkreatif.com.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Dr. Adin Bondar, M.Si., bahkan menyebut Gol A Gong sebagai duta baca yang merakyat. Duta baca yang mengedepankan “narasi itu penting, namun aksi jauh lebih penting” (hal. xxxvi). Sebutan yang pantas untuk penulis novel Balada Si Roy ini.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==