Pada tahap awal, para peserta diwajibkan untuk memenuhi berkas persyaratan yang cukup banyak. Selain itu, mereka juga harus membuat esai dan portofolio. Seleksi ini berhasil menyaring 80 peserta terbaik untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

Tahap kedua semakin menguras energi dan pikiran. Para peserta diuji dengan uji wawasan kebahasaan, membuat video tantangan digital, serta menciptakan puisi. Ulhiyati, bersama peserta lainnya, harus bekerja keras dengan deadline yang ketat untuk menyelesaikan semua tugas tersebut.
Masuk ke tahap ketiga, 40 besar peserta dihadapkan pada tes UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) yang cukup sulit, terutama bagi mereka yang baru pertama kali menghadapinya.

Selain itu, wawancara dalam tiga bahasa dan wawancara kepribadian juga menjadi tantangan tersendiri. Ulhiyati harus mempersiapkan diri dengan baik untuk menjawab berbagai pertanyaan, termasuk rencana program kerja jika terpilih menjadi Duta Bahasa. Wawancara yang berlangsung hingga malam hari menunjukkan betapa beratnya perjuangan ini.
Pada tahap terakhir, 20 besar peserta harus membuat dua video dan menyusun Krida Kebahasaan, yang meliputi produk dan kegiatan yang dihasilkan. Puncaknya adalah tes wicara publik, unjuk bakat, dan presentasi krida, yang semuanya menuntut kesiapan dan keahlian maksimal dari setiap peserta.

Ulhiyati mengakui bahwa persaingan sangat ketat dan tidak ada toleransi untuk izin, bahkan dalam situasi darurat seperti kematian anggota keluarga. Perjuangan ini menggambarkan keteguhan hati dan dedikasi yang tinggi dari para peserta.
Walaupun penuh dengan tantangan, pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi Ulhiyati dan membuktikan bahwa semangat dan kerja keras bisa membawa seseorang melampaui batasan mereka.

Ajang Duta Bahasa Banten bukan hanya sekedar kompetisi, tetapi juga sarana untuk mengembangkan kemampuan dan wawasan kebahasaan generasi muda.
Kita tunggu kiprah selanjutnya dari Ulhiyati di dunia kebahasaan dan semoga semangat juangnya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. (Hamzah Sutisna)





