5 Buku Mengubah Hidupmu Versi Raim Laode

Oleh Muhzen Den

Dalam menjelajah dunia Internet, saya menelusuri akun-akun YouTube para artis dan musisi yang diikuti. Tanpa sengaja mampir ke akun YouTube Raim Laode yang mengunggah podcast tentang tips dan trik membaca buku serta rekomendasi buku. Oleh karena itu, saya tertarik dengan podcast tersebut.

Sebenarnya saya cukup lama mengikuti komika sekaligus musisi Raim Laode. Saya pernah menyaksikan Raim saat kompetisi SUCA di televisi nasional sebelum akhirnya dia menemukan dirinya di dunia tarik suara. Saya tertarik dengan ucapan-ucapan Raim yang berisi dan inteletualis, baik saat dia berbicara di podcast orang lain maupun dalam akun YouTube dan media sosialnya. Makanya, saya menyaksikan lagi Raim Laode berbicara di podcast-nya dan menuliskan kembali apa yang diungkapkannya.

Menurut Raim, literasi itu penting sebab kebodohan rajin memakan korban. Makanya, Raim merekomendasikan lima buku ini yang terbukti mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Boleh dicoba dan kita lihat Desember tahun ini untuk melihat perubahan itu.

Menurutnya, masalah terbesar pembaca pemula adalah kita belanja ke toko buku tidak tahu mau beli apa. Lihat buku judulnya bagus, ambil baca lalu kecewa. Itu salahnya kita, sudah belanja buku tapi isinya tidak bagus. Menurut Raim, baca buku itu sama seperti menonton film. Kita menonton film ada rekomendasi bagusnya, nah kita menonton film itu.

“Tidak ada orang jenius yang ada hanya orang yang referensinya banyak.”

“Internet hanya menyediakan jasa untuk mensupport nafsunya kita.”

1. Atomic Habit’s karya James Clear

“Atomic Habit’s by James Clear, buku yang sudah saya baca beberapa tahun lalu. Dan saya rasa melalui buku ini menolong hidup saya. Dari buku ini membuka cakrawala berpikir saya untuk rajin membaca buku-buku yang lain. Ini rekomendasi pertama yang bisa diberikan pada kau judulnya Atomic Habit’s by James Clear, buku yang sangat populer dan sudah diterjemahkan hampir di setiap negara.

Saya sudah baca beberapa kali, ini adalah buku kalau ada teman datang ke kantor atau saudara berkunjung silaturahmi, saya selalu punya kopiannya banyak. Beli banyak buku seperti ini, jadikan kado. Kado yang baik adalah kasih hadiah satu sama lain itulah buku.

Atomic Habit’s ada satu kutipan di banyak hal positif dalam buku ini yang bisa saya highlight, yaitu perubahan besar itu terjadi dari habit-habit kecil yang kita lakukan secara konsisten.

Buku ini mengajarkan tentang konsistensi bahwa sebenarnya untuk bergerak kita butuh menang 1% saja, Atomic Habit’s, perilaku-perilaku kecil tapi konsisten. Dia bilang setiap hari kita upgrade diri kita 1% selama satu tahun, dari Januari sampai Desember kau sudah upgrade dirimu 37 kali lipat dari kamu yang kemarin.”

2. Psychology of Money karya Morgan Housel

“Buku kedua namanya Psychology of Money ini buku paling penting untuk kamu teman-teman di usia 20-30 tahun adalah golden age bagi saya. Dekade usia ketiga dalam hidup usia 20 tahun menuju 30 tahun itu penting, sebab di deretan usia tersebut rajin banyak event terjadi dalam hidup kita, dan setiap event dalam hidup itu memerlukan nalar dan budgedting.

Buku Psychology of Money oleh Morgan Housel adalah lumayan menolong hidup saya, sebab kita tidak diajar society untuk mengelola keuangan. Sepanjang hidup kita di lingkungan kita diajar kerja baik-baik biar dapat uang banyak.

Di sekolah, sekolah baik-baik biar dapat uang banyak. Setelah kita dapat uang banyak, tidak ada yang mengajarkan kita cara mengelolanya. Ternyata mencari uang dan mengelola keuangan adalah dua ilmu yang berbeda. Buku Psychology of Money mengajarkan dasar-dasar psikologi kita memandang uang sehingga kita bisa tahu sesederhana mencari uang dan mengelola uang itu adalah ilmu yang sama penting untuk orang-orang pintar cari uang, tapi tidak bisa mengelolanya.”

3. Filosofi Teras karya Henri Manampiring

“Buku ketiga adalah penulis favoritku dari Indonesia namanya Henri Manampiring populer tahun lalu menjadi buku best seller, Filosofi Teras. Filosofi Teras ini menurut saya sangat worthed untuk menjadi buku rekomendasi, istilahnya, selain penulisnya dari Indonesia dan kualitasnya sangat bagus. Ternyata di Indonesia punya para penulis yang nalar dengan frekuensi penulisan tidak kalah dari tulisan-tulisan Barat. Filosofi Teras karya Henri Manampiring, saya baca beberapa tahun lalu mengajarkan kita tentang Sthoikisme adalah saat orang-orang Yunani atau Romawi mengajarkan filsalat di teras-teras rumahnya. Ada banyak kutipan. Buku ini ringan sekali, penulis sangat hebat mendeskripsikan hal-hal kompleks dengan bahasa yang pro-bahasa. Ada kutipan penting di buku ini, yakni kita berhenti ambil peduli hal-hal di luar kendali kita.”

4. Rumus Bahagia karya Mo Gawdat

“Tiga poin A ya, namanya Rumus Bahagia by Go Gawdat buku favorit saya. Buku ini kemarin sempat ngobrol sama Kak Abdur Arsyad, dia kasih rekomendasi saya, Rumus Bahagia terjemahan juga tulisan dari Mo Gawdat, orang muslim India, dulu pernah kerja di Google, dia bercerita hal sederhana menjalani hidup bahagia. Menurut saya ini penting, di mana media sosial begitu pesat sekarang menjadi tsunami informasi di kepala kita.

Mental kita rajin terganggu. Selain Filosofi Teras, buku Rumus Bahagia ini menarik. Banyak kutipan, dan saya highlight satu kutipan; bahagia itu sesederhana seperti kita waktu kecil itu, seperti handphone baru yang belum diinstal apa-apa, kita tidak masalah dengan itu, hidup bisa berjalan. Tapi, sepanjang hidup kita ingin instal aplikasi baru, instal lagi, dan instal lagi, memori kita jadi penuh, otak kita jadi rusak.”

5. Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang

“Bicara Itu ada Seninya untuk teman-teman yang ada di industri ber-storytelling, menurut saya buku ini sangat rekomendasi. Saya ber-storytelling, belajar public speaking, belajar komunikasi publik itu mungkin dibilang sejak tahun 2010 saat SMA kelas dua. Belajar public speaking di pramuka, masuk bertahun-tahun di stand up comedy, kuliah di keguruan pendidikan, kuliah menjadi guru yang artinya berbicara setiap saat, dan sebagai pembicara podcast dan lain sebagainya.

Itu berarti saya belajar komunikasi publik dan ber-storytelling itu dari 2010 sampai 2025 sekitar 14-15 tahun, dan membaca buku ini, ternyata kita masih jadi murid yang bodoh, masih terbuka, terkagum-kagum bagaimana konsep komunikasi, dia buat berbicara itu pakai perspektif seni.”

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==