Karya Muhamad Firdaus
Tidak pernah sekalipun peci itu meninggalkan Kang Wasmad. Tidak di warung, di kasur, di pasar, bahkan di masa depan yang belum tentu kejelasannya, kecuali satu tempat; WC. Ia pun selalu mengecek pecinya di tengah aktivitas buang hajatnya, apakah masih utuh atau menghilang, barang se-inci pun. Meskipun pecinya jenis songkok hitam seperti Soekarno, Kang Wasmad tidak pernah lupa untuk mencucinya setiap satu minggu sekali agar tetap suci dan bisa dipakai untuk salat. Tapi anehnya, peci tersebut tidak rusak, hanya menyisakan setiap sudut peci yang menguning.

Halaman: 1 2

