Dari mulai istrinya, tetangga sampai orang-orang yang bertemu dengannya di jalan selalu menegurnya agar membuang peci tersebut dan menggantinya dengan yang baru karena sudah lusuh sampai menguning. Ternyata istrinya pun tidak diberitahu, kenapa Kang Wasmad begitu menjaga peci tersebut.
“Beli peci baru kek, sudah lusuh jamuren gitu” Kang Wasmad hanya menjawabnya dengan jari telunjuk yang didekatkan ke bibir; diam. Istrinya terlihat geram setiap Kang Wasmad memakai peci tersebut karena semakin terlihat seperti orang yang tidak terurus.
***

Tidak ada yang tahu, kecuali Kang Wasmad sendiri dan gurunya. Peci tersebut merupakan peci pemberian gurunya ketika ia mondok di sebuah Pesantren di Banten. Meskipun pondoknya hanya terbuat dari surau-surau kecil dari bambu, namun gurunya ini terkenal sebagai orang yang selain paham agama, juga sakti.
Sekitar tujuh belas tahun yang lalu, Wasmad kecil yang berusia tiga belas tahun merupakan anak dengan kenakalan di atas rata-rata. Ibu, Bapaknya sendiri serta guru akhlaknya tidak ada yang bisa mengendalikannya. Pernah suatu ketika Wasmad diajak ibunya ke Rumah Sakit untuk menjenguk saudaranya yang sakit. Tiba-tiba ia lari dan masuk ke ruangan yang berisi lansia dan mencabuti infus mereka hanya karena iseng saja. Ibunya pun memarahinya dan meminta maaf kepada pihak Rumah Sakit atas kenakalan anaknya.
Setelah kejadian itu, Ibu dan Bapaknya sadar bahwa anaknya tidak bisa lagi diatur olehnya dan memutuskan untuk memasukkannya ke Pondok yang ada di Banten tersebut dengan harapan kenakalan anaknya bisa direda. Meskipun Wasmad kecil terkanal sangat nakal, namun ketika disuruh untuk mondok di tempat tersebut malah nurut-nurut saja.
Pondok tersebut tidak banyak santrinya, hanya sekitar lima puluhan. Konon katanya santri yang berhasil mondok di tempat tersebut merupakan dipilih sendiri—secara tidak langsung—oleh Kiainya. Jumlahnya juga tetap, jika ada yang keluar atau lulus maka tidak lama kemudian akan ada lagi penggantinya seperti wali Abdal.
Baru tiga hari mondok, ketika para santri sudah mulai tidur. Wasmad mencabut obor yang ada di kamar dan membakar satu surau yang ada di pondok itu. Beruntung, santri tidak ada yang menjadi korban dari kenakalan Wasmad ini.
“Kenapa kamu bisa nakal kaya gini?” Sang Kiai bertanya kepada Wasmad kecil.
“Saya juga tidak tahu Kyai, bahkan saya sama sekali tidak ingat setelah melakukan kenakalan”.
Kiai itu pun menyipitkan mata sambil melihat dari mulai ujung kepala sampai ujung kaki. Setelah menganalisisnya kemudian Kiainya pun manggut-manggut dan menyuruh Wasmad untuk beli peci hitam di warung sekitar pondok. Peci tersebut kemudian diberikan kepada Kiai.
“Kamu setiap malam jangan tidur, tapi baca wirid ini dan ini. Bacaan wirid itu akan mencegahmu dari kenakalan-kenakalan itu. Kamu tahan sampai tujuh hari, setelah tujuh hari peci ini akan ku berikan padamu”.
Tujuh hari telah berlalu, Sang Kiai pun menepati janjinya untuk memberikan peci tersebut kepada Wasmad. Ajaibnya, setelah Wasmad memakai Peci itu dirinya tidak lagi liar, sisi psikopatnya menghilang tanpa bekas. Mental Wasmad pun menjadi lebih tenang, seperti terlahir kembali sebagai Wasmad yang baru. Orang-orang di sekelilingnya pun benar-benar heran dibuatnya. Kenapa sedemikian drastis perubahan yang terjadi pada diri Wasmad ini.
“Tumben sekali kamu mau ro’an.[1] Biasanya bikin onar tidak karuan”. Udin teman satu kamarnya terheran-heran dengan sikap Wasmad yang tiba-tiba berubah.
Ternyata selama tujuh hari tujuh malam itu, Kiainya melakukan tirakat dengan membacakan beberapa bacaan ayat-ayat al-Qur’an, shalawat, dan segala macam wirid pada peci tersebut agar bisa mengendalikan kenakalan yang dilakukan oleh Wasmad.
Kiainya berpesan kepada Wasmad, “Kamu pakai kapan pun dan di mana pun peci ini, kecuali di WC”.
***

Suatu pagi ketika Kang Wasmad bangun dari tidur ingin melaksanakan salat subuh, peci yang biasa ia pakai bahkan saat tidur tiba-tiba menghilang tanpa bekas sehelai benang pun. Kang Wasmad pun panik tidak karuan, mencari di segenap sudut rumahnya, sampai seluruh desa ia kuliti tapi tidak menemukan peci pemberian gurunya tersebut. Tidak butuh waktu lama, setelah tiga hari pasca hilangnya peci, Kang Wasmad kembali lagi ke kondisi waktu kecil dulu; tidak terkendali. Bahkan beberapa rumah warga ada yang sampai rusak dan penghuninya mengalami luka-luka akibat ulah Kang Wasmad.
Warga desa takut Kang Wasmad menjadi semakin liar akhirnya mereka pun memutuskan untuk memasungnya di sebuah rumah kosong di pinggiran desa yang telah ditinggalkan penghuninya. Dengan semua rentetan kejadian ini membuat istrinya menangis saban hari tidak tega melihat suaminya dipasung diperlakukan seperti binatang. Meskipun begitu istrinya selalu setia menemani dan tetap memberikan makanan kepadanya.
“Kenapa mereka begitu tega melakukan ini padamu Mas?”
“Aku juga tidak tahu, yang ku rasakan seperti kerasukan dan tidak ingat apa-apa setelah aku berbuat onar”
Sampai hari ketujuh masa pemasungan, Kang Wasmad bermimpi bertemu dengan Kiainya waktu di pondok dulu. Dengan memakai baju serba putih Kiainya menghampiri Kang Wasmad yang sedang dipasung. Meskipun di dalam mimpi, tapi Kang Wasmad betul-betul merasakan kehadirannya seperti nyata.
“Kamu ngapain dipasung gini Mad?”
“Peci pemberian Kiai hilang, lalu saya kembali seperti dulu lagi sebagai sumber masalah. Tolong bantu saya lagi Kiai.”
Sang Kiai tersenyum dan berkata kepada Kang Wasmad: “Mad…, Mad…, kamu itu tidak perlu dibantu, wong kamu sudah bisa sendiri.”
“Bisa sendiri bagaimana Kiai?”
“Peci itu memang sudah mencapai batasnya. Bacaan-bacaan yang ada di dalam peci itu semakin lama semakin mengikis. Jadi tidak selamanya bisa menemani kamu.”
“Terus saya harus bagaimana Kiai?”
“Semua jawaban sudah ada dalam diri kamu sendiri. Saya hanya mencoba membantu kamu menemukannya saja. Kamu sudah hidup lama sepeninggalku, tentu kamu sudah tahu hakikat dari peci itu. Cepat temukan jawabannya, kalau tidak kamu bisa berada di kondisi ini selamanya.”
Kang Wasmad langsung bangun dari mimpinya, tersentak; seperti orang yang jatuh dari ketinggian. Lalu ia diam sejenak merenungi kata-kata yang diucapkan gurunya lewat mimpinya tadi. Namun tiba-tiba ia diserang kantuk dan langsung tidur lagi.
Di dalam mimpinya lagi, dia melihat sebuah cermin besar yang kusam dan sudah retak di beberapa bagian sudutnya. Dia berjalan mendekati cermin tersebut dan betapa kagetnya ia menemukan dirinya di dalam cermin tapi dalam kondisi kulit yang lebih hitam, gigi yang meruncing serta mata hitam semua. Sosok di dalam cermin tersebut menyeringai kepada Kang Wasmad.
“Hahahahaha, lama sekali kamu menemukanku. Lagian, percuma juga kamu ke sini karena tidak ada yang bisa kamu lakukan.”
“Jadi selama ini ulahmu yang membuat diriku menjadi tidak terkendali seperti ini?”
“Kalau iya kenapa? Hahahahaha.”
“Aku akan membuatmu pergi dari diriku”
“Coba saja kalau bisa”
Kang Wasmad memejamkan mata seolah mengumpulkan kekuatan di tangannya. Kali ini ia merasa yakin bisa mengusir makhluk tersebut. Ia berpikir jika bukan dirinya sendiri yang menanganinya lalu siapa lagi yang bisa menghilangkan sisi negatif yang ada di dalam dirinya sendiri. Kiai hanyalah mencegahnya saja, tidak menghilangkannya. Dengan tenaga yang dikumpulkannya ia lalu memukul dengan sangat keras cermin tersebut. Cermin itu pun pecah berkeping-keping dengan diiringi teriakan keras dari makhluk itu yang lama-kelamaan suaranya semakin menghilang. (*)
*) Foto-foto di ilustrasi cerpen dari internet.
[1] Kerja bakti yang dilakukan di dalam atau sekitar pondok.

Biodata Penulis: Muhamad Firdaus Lahir di Tegal 1997 Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Salah satu cerpennya pernah dimuat di salah satu media daring berjudul “Perempuan yang lahir di Hari Kamis”. Nomor Hp : 089514059346. IG: paradise_al_jinan.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.


