Oleh: Keyra Sabila Danish Nugraha
Pasar bising sekali. Suara ayam jantan berkokok saling sahut-menyahut, bercampur dengan suara tapak kaki anak-anak yang berlarian sembari menunggu ibu mereka menawar pedagang sayur. Hari itu, langit memang sedang cerah, tiada awan menutupi kilau sinar matahari yang sangat dibutuhkan untuk mengeringkan jemuran.
“Bu, ini tahunya tujuh ribu dapet berapa?” tanya Bu Nismara, mencoba membalap suara bising di sekitar pasar tradisional tersebut.
Sang penjual yang kewalahan melayani pembelinya mengelap keringat menggunakan handuk kecil yang ia sampirkan di sekeliling lehernya. Ia menghela napas. “Tujuh ribu dapet delapan, bu!”
“Aduh, apa gak kagok bu? Ga sekalian aja sepuluh?” tawar Bu Nismara.
“Wah, kalau gitu mah, saya yang rugi, bu!” jawab penjual itu sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan sepotong kardus bekas.
Bu Nismara menghela napas dan merogoh kantung dasternya, mengambil selembar uang sepuluh ribu. “Cuma tambah dua kok, bu. Sedekah dikit ga salah-”
“EHHH AWAS BU!!!”


Seorang pemuda datang berlari terbirit-birit, nyaris menabrak Bu Nismara yang dengan spontan panik dan menghindar. Seekor ayam jantan terlihat mengejar-ngejarnya dari belakang. Entah hal apa yang pemuda itu lakukan sehingga ayam tersebut mengejarnya.
Menyadari siapa yang dikejar-kejar ayam, wajah Bu Nismara berubah merah padam.
“CAHYADI!!! KAMU APAIN AYAM PAK UDIN?!?!”
Bu Nismara terburu-buru membayar tahu yang ia beli, lalu mengejar pemuda yang baru saja ia panggil Cahyadi. Cahyadi yang melihat ibunya mendekat dengan langkah berdebam seolah akan membelah laut – langsung terlihat ketakutan. Bahkan lebih ketakutan daripada saat ia dikejar-kejar ayam. Ia berusaha kabur, memaksakan lututnya yang sudah lemas berlari untuk kembali berlari.
Namun sebelum ia dapat kabur, Bu Nismara sudah terlebih dahulu menjewer telinga Cahyadi.
“KAMU APAIN AYAMNYA PAK UDIN, HAH?!” Bu Nismara bertanya tajam, sorot matanya seakan ingin menembus mata Cahyadi. Ia menarik Cahyadi dengan menjewer telinganya sampai mereka berada di tempat yang tidak terlalu ramai.
Mata Cahyadi terlihat berkaca-kaca, ia berusaha melepaskan diri dari jeweran ibunya. “Ampun, bu! Tadi ayamnya cuma aku jailin dikit!”
Bu Nismara berdecak, lalu melepaskan telinga Cahyadi. “Sudahlah! Ibu sedang pusing. Ayo, pulang!”
Cahyadi yang telah dilepaskan cepat-cepat mengusap-usap telinganya yang terasa panas setelah dijewer, lalu bergegas mengikuti ibunya yang mulai berjalan pulang.
Saat mereka sampai di depan rumah, seorang pria yang terlihat sudah memasuki usia kepala 7 terduduk di kursi rotan teras kecil mereka. Bu Nismara mengernyit, namun Cahyadi terlihat senang saat melihat pria itu. Pria itu memakai pakaian yang terlihat familiar bagi Bu Nismara, dan ketika sudah berhasil mengingatnya, Bu Nismara melebarkan mata.
“Pak Kusumo!” Cahyadi dengan bersemangat menghampiri kursi rotan yang diduduki pria itu. “Pak Kusumo datang awal hari ini.”
Pria yang dipanggil Pak Kusumo itu mengangguk pelan. “Ya, saya ada urusan lain hari ini.”
Bu Nismara – yang tidak tahu apa-apa, ikut melangkah mendekat. “Ada apa ini?”
“Ini, bu,” ucap Cahyadi. “Ini Pak Kusumo, aku berguru debus ke beliau.”
Pak Kusumo yang sedang dikenalkan, memberi Bu Nismara anggukan sopan dan berdiri dari kursinya.
Bu Nismara hanya bisa terdiam. Alisnya bertaut, pandangannya menelusuri penampilan Pak Kusumo. Kilas balik yang tidak ia inginkan pun kembali. Bagaimana suaminya meninggal saat sedang mempraktekkan debus – saat itu, Cahyadi bahkan belum lahir. Ia masih berusia 6 bulan dalam kandungan.
Ia tidak ingin hal yang sama terjadi pada Cahyadi.
Bu Nismara menggeleng, seolah isyarat tanpa kata meminta Pak Kusumo untuk pergi. “Tidak. Ayo masuk, Cahyadi.”
Mengambil tangan Cahyadi, Bu Nismara menarik Cahyadi untuk masuk kedalam rumah dan meninggalkan Pak Kusumo. Cahyadi yang kebingungan menarik tangannya menjauh dari Bu Nismara.
“Kenapa tidak, bu?” Cahyadi mengernyit, melangkah menjauh dari Bu Nismara, mendekat ke Pak Kusumo. “Ini sesuatu yang ingin aku lakukan. Tidakkah ibu bahagia karena akhirnya aku menemukan sesuatu yang aku ingin lakukan selain membuat ibu repot?”
Melihat Cahyadi membela diri, Bu Nismara menghela napas. “Tentu ibu bahagia, Cahyadi. Tapi ibu takut kau-”
“Terluka?” Cahyadi memotong ucapan ibunya. “Aku percaya pada Pak Kusumo, bu.”
“Kamu percaya, tapi ibu tidak.” Dengan kata-kata terakhir itu, Bu Nismara beranjak masuk kedalam rumah.
***
“Apa saja hal yang mbah perlukan?”
Dukun itu menarik napas pelan dan memiringkan kepala. “Yang saya butuhkan hanya sedikit, bu. Hanya rambut orang itu dan secuil tanah kuburan salah satu keluarganya.”
“Akan saya lakukan.”
***
Cahyadi muntah darah.
Tepat pada malam purnama, ia muntah darah.
Sekarang ia terbaring lemas di kasurnya, badannya terasa panas namun suhu disekitarnya terasa dingin. Sangat dingin. Namun ia tidak bisa berhenti berkeringat. Padahal tadi siang, saat ia berlatih menelan api bersama Pak Kusumo, tidak ada hal aneh yang terjadi.
Bu Nismara dengan tergesa-gesa memasuki kamar Cahyadi, membawakan segelas teh panas.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Bu Nismara, membantu Cahyadi yang lemas duduk dan minum teh panas.
Cahyadi mengangguk lemas. “Nggak… tadi aku muntah darah terus rasanya lemas banget… kepala aku juga sakit banget…”
Bu Nismara mengernyit. Ia teringat sesuatu.
“Jika sudah kena santet, nanti gejalanya apa saja, mbah?”
Dukun yang sedang mengayak bahan-bahan berbau aneh itupun memberi Bu Nismara tatapan tajam. “Muntah darah, sakit kepala, dan lemas berlebih. Jika ia tidak kuat iman, maka ia akan mati 3 hari setelah gejala itu muncul.”
Mata Bu Nismara langsung membelalak.
Apakah aku salah memberi Mbah Adi rambut..?

Tulisan ini adalah hasil dari Workshop Menulis Cerpen untuk Pemuda Kota Serang yang diselenggarakan Rumah Dunia bekerjasama dengan Badan Bahasa Kemendikbudristek pada Sabtu, 12 Oktober 2024.


