Karya Gol A Gong
Aku menoleh ke kanan, ke toko emas. Sekilas kenangan indah berkelindan, spontan aku tersenyum. Seminggu lalu aku dan pacarku ke toko emas ini, merencanakan cincin mas kawin. Sekarang pacarku sedang mudik ke Kalimantan untuk meminta restu orangtuanya.
“Aku ingin cincin kawin bentuk itu,” aku menunjuk ke sebuah cincin bermodel polos dengan hiasan sebuah berlian kecil.
Pacarku tersenyum mengiyakan dan kami bergandengan tangan mesra keluar toko emas.
Kenangan itu begitu menggodaku menoleh ke dalam toko emas. Seperti tersengat ketika di dalam toko aku melihat Anto, pacarku sedang berdiri di depan etalase. Kapan dia pulang dari Kalimantan? Kenapa tidak berkabar?
Aku berdiri di pintu masuk toko emas untuk memperhatikan lebih teliti lagi. Tak butuh lama aku yakin lelaki ceking berkemeja kotak-kotak merah itu adalah Anto, pacarku.

Aku memasuki toko emas itu dan duduk di kursi tunggu dekat pintu masuk. Aku ingin tahu saja, apa yang akan dilakukannya. Seorang perempuan berbaju putih dengan motif daun cemara, jilbab hijau tua duduk di sampingku.
Aku merasakan jantungku berdetak lebih kencang. Ah, pasti dia ingin memberiku kejutan. Aku ingin mendatangi Anto dan mengekspresikan perasaan indah dalam hatiku. Aku ingin melihat cincin yang dipilihnya untukku.
Aku yakin sekali cincin yang dipilihnya adalah untukku karena di bagian etalase itulah aku dan dia iseng memilih cincin untuk mas kawin kami kelak.
Aku tersenyum dan tertawa kecil tanpa sadar. Perempuan muda di sampingku menoleh dengan heran.
“Kenapa, Mbak?” Dia menatapku.
“Itu, Mbak, ada pacarku di sana,” bisikku sambil menunjuk Anto.
Perempuan itu mengikuti arah telunjukku. “Oh, itu pacar Mba?” Dia tersenyum.
Aku mengangguk dengan mata berbinar-binar. “Tuh, Mbak, dia menunjuk ke cincin bermata berlian,” hampir saja aku memekik melihat Anto mengangkat sebuah cincin. Kilaunya begitu cemerlang, membuatku tertegun.
“Berliannya lebih besar dari yang kupilih dulu,” gumamku gembira. Di dalam dadaku menggelegak perasaan gembira. Aku tak dapat menahan diri lagi. “Aku mau ke sana,” kataku ke perempuan di sebelahku.
Aku berjalan perlahan mendekati Anto dengan maksud mengejutkan dia. “Hai Sayang!” sapaku sambil menggelendot di lengan Anto.
Begitu melihatku, Anto terkejut seperti melihat hantu.
“Kenapa kamu nggak kasih tahu aku kalau udah pulang? Mau beli cincin mas kawin? Emang kamu tahu ukuran jari manisku?” sahutku dengan suara manja.
Anto tergagap menjawab. Aku mencubit pipinya, “Iih, gemes banget akutuh sama kamu!”
Beberapa pengunjung memperhatikan kami, penjaga toko bersorak dan tertawa.
Anto melepas tanganku dari pipinya. “Dengerin dulu, aku mau bicara,” katanya serius.
“Mau ngomong apa sih, Sayangku?”
“Rita, tadinya aku mau jelasin ini di rumah kamu. Aku mau kenalin dia …,” Anto mencari-cari ke arah lain dan melambaikan tangan.

Seorang perempuan muda berbaju motif daun cemara dan jilbab hijau tua mendekat. Dia yang tadi duduk di sebelahku. Ah!
“Kenalkan, Diana, calon istriku,” Anto menggandeng perempuan itu.
Jantungku seperti berhenti berdetak, senyum hilang dari bibirku, wajahku membeku.
“Aku tahu aku salah, Rita. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Orang tua kami menjodohkan begitu saja.”
“Ternyata model cincin idaman kita sama ya, Mbak,” Diana tersenyum dan mengangguk.
ujur, aku ingin sekali Amerika mengirimkan rudal atau bom atom sekalian ke toko ema ini.
*) Serang 6 November 2022
FIKSI MINI Terbit hari Kamis. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


