Contoh Fiksi Mini Gol A Gong: Kipas Angin

Pengantar: Fiksi mini versi Gol A Gong adalah cerita pendek antara 300 – 500 kata, 1 lokasi, dan twist ending. Jika pun pindah lokasi, itu hanya ada dalam dialog. Di fiksi mini berjudul “Kipas Angin” ini, lokasinya hanya di ruang tamu atau ruang depan. Dua tokoh bersaama Ramli (POV: aku) dan Nelly sedang tenggelam dengan masa lalu lewat benda kipas angin. Selamat membaca dan rasakan twist endingnya (cerita yang diplintir).

Fiksi Mini Gol A Gong KIPAS ANGIN

        Aku masih terpaku di pintu ruang depan begitu melihat Nelly duduk dengan anggunnya di sofa. Dia tersenyum meletakkan kain rajutannya berupa syaal biru – itu warna kesukaanku.

        “Kipas anginku,” suaranya penuh canda, menunjuk kipas angin di tangan kiriku. “Mungkin delapan tahun lalu?”

        “Sepuluh tahun lalu.”

        “Oh,” tangan kanan Nelly  menggaruk-garuk keningnya.

“Kita dua puluh lima tahun, bermimpi tentang masa depan.”

Nelly tertawa – bagiku terdengarnya sumbang. “Ramli, duduk, duduk,” dia baru menyadari kalau aku masih berdiri.

        Aku duduk. Dadaku bergemuruh. Sepuluh tahun aku mencarinya. Sekarang dia duduk bersila di sofa, mengenakan sweater. Wajahnya tetap cantik, tapi agak kurusan.

        “Ayo, cerita, Ramli. Bagaimana kipas anginku itu bisa sampai di tanganmu.” Nada suaranya serba salah, melihat ke jendela.

Oh! Dari ruang tamu ini kami bisa melihat dua gunung menuding ke langit yang biru.

        “Kenapa kamu tidak datang merayakan tahun baru bersamaku? Aku menunggumu sampai tengah malam. Setiap kereta memasuki stasiun Gambir, aku berharap kamu ada di sana.”

        “Ceritalah dulu soal kipas anginku itu.”

        Sepuluh tahun lalu, kami masih bekerja jadi CS di bank swasta di Kota Bandung. Aku mengantarnya membeli kipas angin. Padahal Bandung utara di daerah Setia Budi masih dingin. Tapi kata dia, kadangkala suka ada asap masuk ke kamar kosnya dari bagian belakang. Rupanya ada warga yang membakar sampah.

        Nelly menuliskan sesuatu di bagian belakang kipas anginnya. “ Ini nomor telepon rumahku di Wonosobo. Telepon konvensional masih berfungsi. Siapa tahu kipas angin ini hilang atau digondol maling, ada yang berkenan mengembalikan. Kalau dompet kita hilang, suka ada yang ngembaliin kan. Tapi uangnya entah ke mana,” dia tertawa waktu itu.

        Kemudian aku dipindahkan ke kantor pusat di Jakarta. Pas perayaan tahun baru, Nelly berjanji mau merayakannya di Monas bersamaku. Tapi Nelly tidak pernah tiba di stasiun Gambir.

        “Seminggu kemudian, aku ke Bandung. Ke kosanmu. Bu Indra bilang, sejak tahun baru kamu tidak ada kabar. Bu Indra nggak berani membuka kamar kosanmu. Aku sampai gila menunggu kabar darimu. Sebulan kemudian, aku datang lagi, kamar kosmu dibobol maling. Kipas anginmu raib.”

        Nelly tertawa.

“Tahun keenam aku dipindahkan lagi ke Bandung.”

        “Promosi. Kepala Cabang. Selamat,” puji Nelly.

        “Kok, tahu?”

        “Aku memata-matai medsosmu.”

        “Tapi, aku cari di medsos, kamu menghilang.”

        Nelly menahan senyumnya.

        “Seminggu lalu, aku jogging di Cihapit. Ketika kulineran, kipas anginmu ada di sana. Aku beli! Harganya tujuh puluh ribu. Dan nomor teleponmu masih ada. Tapi sudah tidak aktif.”

        “Kamu pantang menyerah.”

        “Aku cuti. Aku cari data di Telkom. Buku kuning yang tebal masih ada. Nomor telpon dan alamat rumahmu masih ada.”

        Terdengar suara motor di luar. Nelly membetulkan posisi duduknya. Aku memerhatikan tubuhnya. Ada yang aneh. Tapi segera beralih ke pintu, karena seorang lelaki berseragam ojek online, mengucap salam. Aku dan Nelly membalas salamnya.

        “Oh! Ono tamu, toh,” dia tersenyum menyalamiku.

        Aku masih bertanya-tanya, tapi tidak berani menebaknya.

        “Saatnya mandi, Sayangku,” lelaki itu menjulurkan tangan kanannya.

        Nelly menyalami dan mencium punggung tangannya. “Kami menikah lima tahun lalu.” Dengan manja dia menggelayut ketika lelaki itu memangkunya.

        “Aku mandi dulu, ya,” Nelly tersenyum, menggelinjang, dan tertawa manja ketika lelaki itu menciumi lehernya.

        Aku baru sadar kalau sejak tadi Nelly diam saja di kursi dan ada kursi terlipat di sudut ruang tamu.

*) Rumah Dunia, 5 Januari 2024

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==