Puisi Gol A Gong
TAIPEI

Kau jadikan jalanan tempat bermain, masa kanakmu yang hilang. Tak ada pigura ayah di langit itu. Kau kehilangan arah matahari. Kutunjukkan fajar adalah masa depan, senja untuk mengenang kenangan. Kau menunggu purnama di kemilau iklan Mandarin.

Semua sudah dihidangkan di meja marmer itu. Kue bulan pelangi. Kau memintaku memakan senyummu. Aku bungkus dengan tawaku. Kita gagal memanah cakrawala. Terlalu jauh jaraknya. Sudahlah, kita rayakan saja hidup ini bersama barongsay.

*) Taipei September 2015

Puisi TAIPEI karya Gol A Gong menggambarkan perjalanan emosional seseorang di negeri asing dengan nuansa kehilangan, pencarian makna, dan perayaan kehidupan. Berikut beberapa makna yang bisa diambil dari puisi ini:

  1. Kehilangan dan Pencarian
    • “Kau jadikan jalanan tempat bermain, masa kanakmu yang hilang.”
      → Menggambarkan masa kecil yang hilang atau terasa jauh. Bisa jadi ini merujuk pada perantauan, di mana seseorang kehilangan pegangan emosional atau kenangan masa lalu.
    • “Tak ada pigura ayah di langit itu.”
      → Simbol dari kehilangan figur ayah atau keluarga, bisa juga interpretasi dari ketidakpastian dan keterasingan di tempat baru.
    • “Kau kehilangan arah matahari.”
      → Simbol kehilangan arah atau tujuan hidup.
  2. Harapan dan Refleksi
    • “Kutunjukkan fajar adalah masa depan, senja untuk mengenang kenangan.”
      → Konsep waktu yang dijadikan simbol harapan dan nostalgia. Fajar mewakili masa depan yang bisa diusahakan, sedangkan senja menjadi momen refleksi atas yang telah terjadi.
    • “Kau menunggu purnama di kemilau iklan Mandarin.”
      → Purnama sebagai simbol kesempurnaan atau harapan, tetapi di tengah suasana asing yang dipenuhi gemerlap budaya lain.
  3. Realitas dan Perayaan Hidup
    • “Semua sudah dihidangkan di meja marmer itu. Kue bulan pelangi.”
      → Mungkin merujuk pada keberlimpahan materi atau budaya di tempat baru, tetapi dengan nuansa yang tidak sepenuhnya familiar.
    • “Kita gagal memanah cakrawala. Terlalu jauh jaraknya.”
      → Kegagalan mencapai sesuatu yang diidamkan, mungkin impian atau tujuan yang terasa sulit digapai.
    • “Sudahlah, kita rayakan saja hidup ini bersama barongsay.”
      → Sebuah ajakan untuk menerima keadaan dan merayakan kehidupan, meskipun tidak selalu sesuai harapan.

Puisi ini terasa personal tetapi juga universal, berbicara tentang perjalanan, kehilangan, pencarian, dan pada akhirnya menerima hidup dengan segala yang ada.

Tim GoKreaf/AI

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==